Blog ini dibuat dan dipublikasikan atas dasar kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat Ternate dan sekitarnya yang hingga saat ini semakin tenggelam dihempas derasnya arus modernisasi global. Blog ini diposting dalam dua bahasa (Indonesia dan English) secara secara selang-seling....
Ternate is a small island and town in Archipelago of North Molluccas - Indonesia, located beside along the beach west of larger island namely Halmahera. In pre-colonialism period, Ternate is destination port of seaman Ferdinand Magellan at the journey of encircling earth. And the port of Ternate was the target landing of Magellan's flagship 'Trinidad' (the first ship to sail around the world). But Magellan never make it to Ternate because died on the shores of Philippines, however, his firstmate Juan Sebastian del Cano made it to Ternate and return to Spain, stated as the first man along with 18 crew to make journey around the world.

Ternate has the oldest Clove tree in world and it is still standing today, located in mountainside of this island. All clove seed in the world are originated from this one tree and it is about 370 years old. As history recorded, that the Portugese and Spain along with British and Dutch are searching for the clove seeds. (explore the earth and look for the original spice area).

Today, Ternate island is the Capital town of North Maluku province. There is an active strato volcano named Gamalama (=Big Country), two lakes, an old Sultan's palace, many castil of cololonialism and there are a lot of stories about the history and culture of Ternate people.

Situs ini khusus mengulas tentang tradisi, budaya, adat, kesenian dan sejarah orang Ternate dan tempat-tempat lain di Maluku Utara

Sabtu, 10 November 2007

LEGU-LEGU, Tarian Klasik Keraton Ternate

(By : Busranto Abdullatif Doa)

Ciri utama dari kesenian tradisional orang Ternate adalah bentuk seni konvensional. Berdasarkan ciri-cirinya, kesenian tradisional di Ternate dibagi atas dua kelompok, yaitu : Kesenian Istana/Keraton (Hofkunst) dan Kesenian Rakyat (Volkskunst).

Kesenian Istana adalah kelompok kesenian yang dicipta ataupun dibina, dikembangkan oleh dan untuk kalangan keraton kesultanan. Umumnya merupakan kelengkapan adat yang bersifat ritual maupun seremonial. Sedangkan Kesenian Rakyat yaitu kelompok kesenian yang dicipta, dibina dan dikembangkan oleh dan untuk kalangan masyarakat umum. Kesenian istana telah ada sejak jaman pra-Islam, yakni dalam bentuk seni tari dan seni suara. Di Ternate, perpaduan dari kedua bentuk seni ini terwujud dalam sebuah tarian klasik yang bersifat ritual, yaitu “Legu-Legu”.

Pentas Legu-Legu di Halaman Pendopo, Photo by Busranto

Tarian Legu-Legu hanya terdapat dan hanya dipentaskan di lingkungan Keraton Ternate saja. Tarian ini bukan merupakan tarian tunggal yang hanya dibawakan oleh 1 orang penari melainkan dilakukan oleh lebih dari 5 0rang, bahkan bisa sampai 25 orang secara serentak. Para penari yang terdiri dari gadis-gadis muda harus yang masih perwan/belum menikah. Ketentuan ini mengandung makna bahwa Legu-Legu mempunyai sifat sakral. Para penari merupakan medium yang masih suci. Kadang ada satu atau lebih penari yang melakukannya gerakan, tidak dalam keadaan sadar/kemasukan roh nenek moyang. Tarian legu-Legu ini hanya dipentaskan pada saat-saat tertentu dengan pertimbangan utamanya harus bersifat ritual dan mempunyai keterkaitan dengan adat keramat keraton.

Yang unik dari tarian klasik milik keraton kesultanan Ternate ini adalah bahwa para penari yang membawakannya hanya boleh berasal dari keturunan Soa/Marga “Soangare” atau “Soa Ngongare” saja. Soangare merupakan salah satu klan dari kelompok kekerabatan khas Ternate yang walaupun secara genalogis bukan keturunan sultan namun klan ini sangat dekat di kalangan istana karena marga Soangare sejak dahulu merupakan salah satu marga yang menjadi “Abdi Dalem” yang sangat setia di keraton kesultanan Ternate.

Tarian Legu-Legu ini biasanya disebut juga dengan sebutan “Legu Kadato”, untuk membedakan dengan Istilah Legu Gam (Perayaan tahunan Pesta Adat/Pesta Negeri). Tarian ini dibawakan sambil diiringi dengan orkes tabuh khas daerah Maluku yang terdiri atas; Dua buah Tifa kecil, sebuah Gong tembaga dan didampingi dua orang penyanyi wanita setengah baya. Biasanya lirik yang dinyanyikan berasal dari syair-syair kuno berbahasa Ternate yang dikutip dari sastra lisan Ternate, yaitu Dorobololo, Dalil Tifa dan Dalil Moro. (lihat artikel terkait sebelumnya)

Para gadis penari Legu-Legu memainkan gerakan tarian ini dengan pola melingkar (Round Dances) dengan komposisi gerakan tari yang sangat rumit. Temponya lambat dan biasanya memakan waktu lebih dari 1 jam untuk menyelesaikannya. Legu-Legu yang fungsinya sebagai tarian ritual yang sakral, maupun dalam komposisi tarian dan penarinya, mengingatkan kita pada Tari Bedoyo Ketawang dari keraton Kasunan Surakarta dan Tari Bedoyo Semang di keraton kesultanan Yogyakarta yang sudah terkenal di manca negara.

Gerakan dalam tarian Legu-Legu lebih mengutamakan gerak tangan yang memainkan selendang yang biasanya merah-kuning (merah=kanan, kuning=kiri) yang terikat di pinggang penari dan juga mengutamakan gerakan tumit. Tarian ini juga menggunakan sebuah kipas lipat yang kadang digunakan dalam gerak tari. Bila sedang tidak digunakan atau melakukan gerakan lain, maka kipas lipat tadi diselipkan di dalam ikat pinggang si penari. Tarian ini sama sekali tidak menggunakan gerakan pinggul atau gerakan kepala.

Gadis penari tarian ini menggunakan semacam ikat kepala berwarna kuning keemasan berbentuk mahkota/tiara di bagian depan dan semacam sayap kecil di bagian kiri-kanan di atas telinga serta berbentuk ekor di bagian belakang kepala. Ikat kepala ini berhiaskan manik-manik dan permata yang digantungkan. Hampir seluruh tubuh mereka ditutupi dengan busana yang berwarna kuning, ditambah semacam selendang yang diikatkan di bagian pinggang, dilengkapi ikat pinggang berwarna dengan hiasan bermotif bunga-bunga kecil.

Baju yang mereka gunakan berbentuk baju kurung yang berlengan panjang dan dipadukan dengan rok panjang sampai ke tumit kaki dengan sebuah kipas lipat yang disisipkan dalam ikat pinggang. Pada bagian pergelangan tangan diikat dengan semacam bingkai berwarna merah. Sedangkan pada bagian leher baju kurung berhiaskan sulaman manik-manik.

Tarian Legu-Legu merupakan satu-satunya tarian ritual dalam istana kesultanan Ternate. Menurut sumber dari pihak keraton kesultanan Ternate, sebenarnya ada 12 macam atau variasi dari tarian ini dengan 12 lagu untuk masing-masing jenis. Namun saat ini yang dipentaskan hanya beberapa jenis Legu-Legu saja misalnya; Akilindo, Bombaka dan Dansapele.

Pada masa kini, tarian Legu-Legu yang sakral ini hanya dipertunjukan dalam rangka upacara kebesaran adat keraton Ternate, yaitu pada saat Upacara Penobatan Sultan (yang disebut Sinonako Jou Kolano), Pengesahan/Penetapan istri Sultan sebagai “Permaisuri” (yang disebut Sinonako Jou ma-Boki), Ulang Tahun Sultan, Penyambutan tamu agung di keraton. Akhir-akhir ini sering dipertunjukan dalam kegiatan rutin 2 tahunan yaitu pada setiap perhelatan Festival Keraton se-Nusantara yang pelaksanaannya berpindah-pindah tempat di setiap keraton dari anggota Festival tersebut. (@)

Legu-Legu Dancer (1870) Photo by Buwalda

1 Comment:

Anonim mengatakan...

Artikel'nya keYen ug,.........tingkatkan,........jaga budaya2 Indonesia...........

Poskan Komentar

Silakan isi komentar anda terhadap artikel pada topik ini....

Mengenal tradisi & budaya itu penting bila ingin memahami masyarakatnya

View of Ternate Town

Ternate Town From Plane

Babullah Airport Ternate

Ternate Town From Gamalama Mountain

Old Ternate Palace & Old Mosque In Ternate

Ternate King's & The Tradition Royal In Old Picture