KOLOLI KIE, (Tradisi Ritual Adat Mengelilingi Pulau Ternate Sambil Ziarah Beberapa Makam Keramat)  

Posted

Penulis : Busranto Latif Doa
Foto : Maulana, Mukhsin & R. Fahmi
===================================================================

PENGANTAR

Setiap penduduk asli di pulau Ternate di Provinsi Maluku Utara pasti pernah mendengar dan tahu arti dari kata “Kololi Kie” yaitu sebuah kegiatan ritual masyarakat tradisional untuk mengitari atau mengelilingi gunung Gamalama sambil menziarahi beberapa makam keramat yang ada di sekeliling pulau kecil yg memiliki gunung berapi ini.

Menurut sejarawan Leonard Andaya (dalam Reid, 1993: 28-29), bahwa ancaman berupa bencana alam yang ditimbulkan oleh sebuah gunung berapi terkadang dapat melahirkan satu tradisi yang khas. Beberapa kawasan di Asia Tenggara, termasuk di daerah Maluku Utara, gunung terutama gunung berapi aktif dianggap sebagai representasi penguasa alam.

Oleh sebab itu, keberadaan gunung selalu dihormati dengan cara melakukan beberapa ritual tertentu. Sebuah gunung dianggap mewakili sosok yang mengagumkan sekaligus mengancam, sehingga diperlukan upacara penghormatan supaya keberadaannya menjamin ketentraman, keamanan, dan keberadaan masyarakat di sekitarnya. Demikian menurut Leonard Andaya.

Dalam perspektif ini, ritual adat kololi kie ini memiliki makna ganda selain merupakan tradisi yg selalu dilakukan leluhur jaman dahulu untuk menjiarahi beberapa tempat yang dianggap keramat juga merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat Ternate dari berbagai ancaman bencana dari gunung berapi Gamalama tersebut. Hal seperti ini juga terjadi di beberapa gunung di pulau Jawa, Sumatera dan tempat lain di nusantara ini.
Pulau Ternate jika dilihat dari aspek topografis, berbentuk bulat kerucut (strato vulkano) yang luas diagonal pulau kecil ini dari arah utara ke selatan sepanjang 13 km dan dari arah barat ke timur sepanjang 11 km, dengan panjang bibir pantai keliling pulau kurang lebih 55 km dengan bentangan luas seluruh daratan pulau adalah 92,12 km2.  Dengan kondisi geografis demikian, maka sudah pasti bahwa jika kita mengelilingi “gunung Gamalama” haruslah dilakukan dengan mengelilingi pulau Ternate tersebut. Terdapat dua jalur untuk mengelilingi pulau kecil ini, yakni melalui jalur laut (kololi kie toma ngolo) dan atau melalui jalur darat (kololi kie toma nyiha). Gunung Gamalama merupakan satu-satunya gunung yang bertengger di pulau tersebut yang hingga saat ini masih merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian saat ini kurang lebih 1.730 m dari permukan laut.


PENGERTIAN & MAKNA FILOSOFI

Secara etimologi, kata “Kololi Kie” berasal dari bahasa asli Ternate yakni gabungan dari dua kata, yaitu ; kata “kololi” yang berarti keliling atau mengintari dan kata “kie” yang berarti gunung, pulau, darat atau juga berarti daratan. Jadi, pengertian kata Kololi Kie secara umum bermakna; kegiatan mengitari atau mengililingi pulau/gunung. Ada istilah lain yang mempunyai arti serupa yang juga populer di masyarakat Ternate terhadap kegiatan kololi kie ini, yaitu "Ron Gunung".  Ritual kololi kie ini sudah dilakukan oleh masyarakat Ternate sejak ratusan tahun lalu. Ritual adat ini merupakan salah satu dari dua ritual tertua yang dianggap satu paket, yakni ritual “Fere Kie” yaitu kegiatan ritual naik ke puncak gunung Gamalama untuk berziarah. (tentang ini akan dibahas dalam tersendiri sesudah tulisan ini).
Tradisi ritual adat kololi kie ini, jika dilihat dari sisi “route” yang dilalui, maka terdapat dua jalur yang bisa dilalui, yaitu; melalui jalur laut dan melalui jalur darat.

1). Jalur Laut, (=Kololi kie toma ngolo).
Kendaraan yang dugunakan pada kegiatan ritual adat kololi kie toma ngolo ini adalah perahu atau kapal ukuran sedang. Saat ini biasanya menggunakan perahu atau kapal bermotor, sedangkan pada jaman dahulu hal itu dilakukan dengan menggunakan perahu tanpa mesin, yakni mendayung dengan tangan.
2). Jalur Darat, (=Kololi kie toma nyiha / nyiho).

Kololi kie toma nyiha (sering disebut juga nyiho) biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu; dengan menggunakan kendaraan (mobil atau motor) dan dengan berjalan kaki, tapi yang terakhir ini sudah jarang dilakukan lagi.
Jika dilihat dari aspek “niat” atau “hajat” untuk melaksanakan ritual ini, maka ritual adat kololi kie ini dibagi atas tiga kategori, yaitu ; niat atau hajat perorangan, hajatan kelompok, dan hajatan besar dari pihak kesultanan.

1). Niat / Hajatan Perorangan
Hajat perorangan biasanya dilakukan oleh seseorang apabila mencapai apa yang dicita-citakannya tercapai, maka ia ber-nazar akan melakukan ritual adat kololi kie ini sebagai ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. Selain melalui sholat, masyarakat tradisional Ternate juga menziarahi para leluhur mereka yakni ke makam-makam dan keramat para sufi, para mubaligh dan tempat-tempat yang dianggap “Jere” (makam keramat beberapa ulama tasawuf Ternate jaman dahulu) yang dalam bahasa Ternate ulama tasawuf ini disapa “Joguru Lamo” atau ’”Khalifah” yang makam keramatnya tersebar di sekelilingi pulau ini.

Pada ritual adat kololi kie kategori niat atau hajat perorangan ini biasanya jarang dilakukan melalui laut, tapi kebanyakan melalui darat dengan menggunakan kendaraan darat baik mobil atau motor. Ritual adat ini biasanya dilakukan oleh seseorang apabila ia hendak merantau atau kembali ke kampung halaman setelah sekian lama merantau, atau juga mereka yang hendak melakukan pernikahan, atau sembuh dari penyakit yang lama diseritanya.

Hingga saat ini masih saja ada beberapa calon jemah haji di pulau Ternate yang hendak melakukan ibadah haji ke tanah suci, sebelum belaksanakan rukun haji, mereka juga melakukan kegiatan ritual adat Kololi Kie dan Fere Kie ini dengan niat menziarahi makam atau jere para sufi dan mubaligh Ternate jaman dahulu yang telah berjasa memperkokoh tegaknya syariat Islam di jazirah Moloku Kie Raha yakni di Ternate dan sekitarnya yang menurut pandangan mereka bahwa aqidah Islam yang dianut hingga saat ini dan masih tetap terpelihara turun-temurun hingga sampai pada dirinya yang saat ini hendak menjalankan rukun Islam yang kelima ke tanah suci Mekkah adalah hasil jerih payah para leluhur dalam menegakkan syariat Islam waktu itu.

2). Niat / Hajatan Kelompok
Pada ritual adat kololi kie kategori niat atau hajatan kelompok kebanyakan dilakukan melalui jalur laut (kololi kie toma ngolo). Maksudnya juga sama yaitu melaksanakan nazar yaitu ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT sekaligus menziarahi makam-makam dan jere para sufi. Ritual adat ini biasanya dilakukan apabila kerabat atau keluarga batih ataupun kelompok yang hendak mendirikan rumah, hendak panen rempah-rempah atau mereka yang selamat dari malapetaka, bencana atau wabah.

3). Niat / Hajatan Besar dari Kesultanan Ternate
Ritual adat kololi kie pada hajatan besar dari kesultanan adalah merupakan kegiatan ritual terbesar yang dilakukan setiap tahun. Ritual adat ini dilakukan secara besar-besaran dan sangat meriah terutama di sepanjang route yang dilaluinya. Route yang dilalui hanya melalui jalur laut, (kololi kie toma ngolo). Kata “toma ngolo” dalam bahasa Ternate berarti “di laut”.

Sedangkan jika dilihat dari aspek “proses verbalitas”, kegiatan ritual adat kololi kie ini, menurut penulis setidaknya terdapat 6 (enam) makna filosofis dan pedagogis yang bisa dijelaskan kepada para pembaca dalam deskripsi tulisan ini, diantaranya adalah;

1). Ritual adat kololi kie ini merupakan suatu kegiatan “napak tilas” dari sejarah proses kedatangan dan berlabuhnya tokoh legendaris “Maulana Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddiq” sang pembawa agama Islam pertama kali ke pulau Ternate ini dan kemudian menyebarkan siar Islam ke seluruh jazirah Maluku bagian utara. Sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat setempat menurut legenda yang ada bahwa sebelum tokoh ini mendaratkan perahunya di pulau Ternate, beliau terlebih dahulu mengitari pulau ini untuk melihat situasi sekaligus mencari tempat yang pantas untuk berlabuh. Akhirnya “Ake Sibu” atau yang sekarang dikenal “Ake Rica” yang berada di desa / kelurahan Ruwa saat ini, adalah tempat yang dipilih untuk berlabuh ketika itu.
2). Sependapat dengan sejarawan Leonard Andaya yang sudah penulis sebutkan di awal tulisan ini bahwa ada makna lain yang tersirat dari kegiatan ritual adat kololi kie ini. Hal ini merupakan aplikatif dari ungkapan masyarakat dan penduduk pulau ini terhadap sebuah kekuatan alam yang berbentuk ancaman berupa bencana alam yang ditimbulkan oleh gunung berapi Gamalama yang dianggap oleh mereka sebagai representasi penguasa alam. Bagi masyarakat tradisional di Ternate, keberadaan gunung Gamalama harus selalu dihormati dengan cara melakukan beberapa ritual tertentu seperti ritual adat kololi kie ini.

3). Sedangkan makna utama dari ritual adat kololi kie ini adalah aktivitas ritual untuk menziarahi makam dan keramat para auliyah, mubaligh, dan beberapa orang ulama tasawuf Ternate jaman dahulu. Makam-makam keramat mereka ini tersebar di tempat-tempat tertentu di sekelilingi pulau ini, sehingga untuk menziarahi keseluruhannya dalam waktu yang bersamaan, harus dilakukan dengan mengitari pulau tersebut. (orang Ternate menyebut makam-makam para Joguru Lamo di jazirah ini dengan istilah “Jere”).

4). Makna verbalistis yang bisa dipetik dari ritual adat kololi kie ini juga adalah mendoakan untuk keselamatan dan kemaslahatan negeri “Limau Gapi” ini baik di darat maupun di laut agar tetap kokoh sebagaimana tegaknya huruf alif dan berada dalam satu wadah laksana sebuah perahu yang bentuk seperti huruf baa, serta mensyukuri atas apa yang telah dilakukan oleh para mubaligh dan para sufi pendahulu di negeri para raja-raja ini, seperti; telah diletakkannya dasar aqidah Islam dan ke-tauhid-an yang tetap ada dan masih dipertahankan hingga anak cucu sekarang ini.

Sikap bersyukur dan ungkapan terima kasih tersebut diekpresikan dengan cara tradisional yakni kegiatan ritual menziarahi tempat-tempat tertentu yang diyakini sebagai tempat makam atau Jere mereka yang berada di sekeliling pulau ini. Kebiasaan inilah yang kemudian menjadi suatu tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini, yang kita kenal dengan ritual kololi kie ini. Menurut saya pribadi sebagai penulis, tradisi ini merupakan asset budaya daerah yang harus tetap dilestarikan oleh Pemda setempat.

5). Ritual adat kololi kie ini adalah juga kegiatan “napak tilas” yang wajib bagi setiap warga pribumi Ternate jaman dahulu, yakni melakukan patroli darat dan laut dari kampung ke kampung untuk berjaga-jaga dan memantau situasi kampung-kampung dan perairan sekitar jikalau adanya ancaman yang datang dari pihak luar terhadap penduduk dan warga pesisir di sekeliling pulau Ternate melalui jalur laut. Hal ini sering dilakukan pada masa lampau oleh pasukan angkatan laut kesultanan Ternate dengan “Armada Kora-Kora” dalam memantau situasi negeri sepanjang pantai dan lautan sekeliling pulau Ternate waktu itu.

Makna pedagogis yang tersirat dari tradisi ritual adat ini adalah mengajari kita tentang kewaspadaan territorial nasional dalam artian sempit (khusus lingkungan wilayah territorial kedaulatan kesultanan) atas gangguan-gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang datang dari pihak luar.

6). Makna pedagogis yang tersirat sebenarnya adalah "kebersamaan". Mengapa penulis berasumsi demikian? karena sejak mulainya perjalanan ritual ini, tidak ada dari perahu-perahu peserta tersebut yang berkejar-kejaran atau saling mendahului. Semua dalam rasa dan nuansa kebersamaan. Semua sudah tahu dan menyadari bahwa perahu atau kapal yang ditumpangi Sultan adalah yang paling depan dan menjadi penjuru iring-iringan. Perahu yang berseliweran ke kiri atau ke kanan ataupun kadang kadang berubah posisi konfigurasi hanya perahu atau speedboat yang ditumpangi para juru dokumenter yang mengabadikan gambar kegiatan ini, baik melalui handycam maupun dengan camera. namun demikian hampir setiap peserta dalam rombongan juga memiliki peralatan dokumentasi pribadi masing-masing.

Catatan tambahan Penulis :

Bahwa dari makna filosofis dan pedagogis dalam ritual adat ini yang sudah penulis sebutkan di atas, akan terlihat jelas sekali pada tahap-tahap pelaksanaan ritual adat ini. Jika anda berada di Ternate dan ikut serta dalam ritual ini dan perhatikan dengan seksama, tentu anda pasti tahu seperti apa tahap-tahap pelaksanaan ritual adat ini termasuk pembacaan doa-doa khusus di tempat-tempat khusus yang dilewati sepanjang jalur kololi kie tersebut. (dijelaskan pada sub judul tentang tahap-tahap, di bawah…).

Bahwa arah pergerakan semua kegiatan ritual adat kololi kie untuk mengelilingi pulau ini, baik melalui jalur darat maupun melalui jalur laut, adalah dilakukan berlawanan arah dengan putaran arah jarum jam. Penulis yang juga putra daerah asli Ternate pernah beberapa kali turut serta dalam rombongan ritual ini, baik kololi kie toma ngolo maupun kololi kie toma nyiha.

Nara sumber penulis yang minta dirahasiakan identitasnya menjelaskan bahwa arah mengintari atau perputaran dalam ritual adat kololi kie ini yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam adalah menyamakan arahnya persis seperti pelaksanaan tawaf oleh jemah haji yang mengelilingi kabah di Mekkah.

Asumsi penulis, putaran arahnya memang sama atau disamakan sejak awalnya mulanya pelaksanaan ritual ini dahulu, tapi hakekat dan makna mungkin berbeda. Wallahu wa’lam ? Tidak ada penjelasan detail dari nara sumber.

Perihal sebutan, orang Ternate menyebut pulau mereka dengan sebutan “Limau Gapi” dan menyebutkan nama gunungnya dengan sebutan “Kie Gam Lamo” (=negeri yang besar) yang merupakan asal kata dari sebutan Gamalama yang kita tahu sekarang ini, kata “Gam Lamo” diucapkan oleh orang Portugis dan Belanda dengan ucapan Gamma de Lamma yang akhirnya diucapkan menjadi Gamalama hingga sekarang ini. Nama gunung ini kemudian dipakai oleh artis serba bisa Dorce Gamalama, setelah mendapat restu langsung dari Sultan Ternate, Drs. H. Mudafar Syah, sesuai pengakuan ybs di acara TV, Dorce Show.

Perihal sebutan orang Ternate terhadap pulau-pulau sekitarnya. Misalnya pulau Tidore yang oleh orang Tidore sendiri menyebutnya dengan sebutan “Limau Timore” atau “Todore” dan menyebut gunung Tidore dengan sebutan “Kie Matubu” (=gunung yang tertinggi) namun orang Ternate menyebutnya dengan “Limau Duko”. Orang Ternate juga menyebut pulau Moti dengan sebutan “Limau Tuanane” sedangkan gunungnya disebut “Kie Moti”. Demikian juga orang Ternate menyebut pulau Makian dengan sebutan “Mara” sedangkan gunungnya disebut “Kie Besi”.


TAHAP-TAHAP RITUAL INI

Khusus pada pelaksanaan ritual adat kololi kie toma ngolo (melalui jalur laut), selalu diawali tepat di perairan depan keraton kesultanan Ternate, yakni dari ujung jembatan kesultanan (semacam pelabuhan kerajaan jaman dahulu) yang dikenal dengan nama jembatan “Dodoku Ali” atau “Dodoku Mari”. Walaupun kadang-kadang para peserta menaiki perahu dari pelabuhan Dufa-Dufa, tapi tetap harus menuju ke posisi awal ini untuk mulai pelaksanaan ritual keliling pulau ini.

Pembahasan tentang tahap-tahap dalam pelaksanaan ritual kololi kie ini dalam tulisan ini adalah ritual adat kololi kie pada hajatan besar dari kesultanan yang merupakan kegiatan ritual adat terbesar yang dilakukan setiap tahun, yang menjadi salah satu paket dari upacara adat pesta rakyat yang dikenal dengan “Legu Gam”.

Sebelum rombongan Sultan dan para pembesar kerajaan menaiki perahu masing-masing, Imam Agung Kesultanan di Masjid Sultan Ternate yang bergelar “Jou Qalem” atau “Kadhi” yang akan membacakan doa keselamatan di jembatan ini. Usai berdoa, sultan diikuti para pembesar kerajaan serta para pemimpin soa (kampung) yang bergelar “Fanyira” akan menaiki perahu masing-masing.

Perahu yang ditumpangi Sultan, Permaisuri dan para pembesar kerajaan biasanya dihiasi lebih megah dan memiliki ukuran yang lebih besar dan selama perjalanan senantiasab selalu berada paling depan dari semua rombongan yang turut serta. Perahu besar ini dijuluki dengan sebutan “oti Juanga” yang dihiasi ukiran kepala naga di bagian haluan dan ekor naga di buritan. Selain itu dihiasi pula dengan umbul-umbul dan bendera kebesaran kesultanan.

Sementara perahu-perahu berukuran lebih kecil lainnya yang disebut “oti kora-kora ici” dinaiki oleh para kepala soa (Fanyira) yang selalu berdiri di haluan depan dan masyarakat umum lainnya sebagai penumpangnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini diikutsertakan juga perahu modern seperti Speedboat viber untuk meramaikan kegiatan ini.

Kegiatan ritual adat ini diawali dengan mengitari pusaran kecil di perairan depan keraton kesultanan Ternate, dan biasanya seluruh rombongan armada mengitari perahu yang ditumpangi sang Sultan, Permaisurinya dan para pembesar kesultanan lalu disertai pembacaan beberapa doa khusus, masing-masing :
1). Khusus pada putaran pertama dibacakan doa “Asmih”, lalu
2). Pada putaran yang ke-2 dibacakan doa “Taiyyibi”, sedangkan
3). Pada putaran ke-3 dibacakan doa “Abdul Qadir Djaelani”.

Pada kegiatan ritual adat kololi kie kategori hajatan kesultanan yang dilakukan secara besar-besaran (seperti yang terlihat dalam gambar-gambar ini), pembacaan doa-doa ini biasanya dilakukan oleh salah satu dari lima orang imam besar mesjid kesultanan. Pembacaan doa dilakukan di depan tempat duduk sang Sultan (Jou Kolano) dan Permaisuri (Jou ma Boki) yang sudah disiapkan di atas geladak salah satu perahu / kapal motor yang mereka tumpangi saat itu. Tempat duduk Sultan dan Permaisuri selalu dibungkusi dengan kain warna putih.

Untuk meramaikan suasana upacara ritual ini, sejak dahulu tiap perahu dilengkapi dengan berbagai alat musik, seperti tifa, gong, dan fiol (sejenis alat musik gesek) yang terus-menerus dikumandangkan untuk mengiringi sepanjang perjalanan rombongan armada Kololi Kie ini hingga selesai atau istirahat di Ake Rica.

Dalam perjalanan mengelilingi pulau ini, rombongan perahu akan berhenti di beberapa tempat untuk melakukan tabur bunga dan memanjatkan doa. Tempat persinggahan yang agak lama dan biasanya peserta rombongan turun ke darat adalah di Ake Rica ini. Ritual adat ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para leluhur kesultanan yaitu; Syai’idinaa Maulana Syekh DjaffarShaddiq sang pembawa agama Islam ke pulau ini.

Perlu digaris bawahi bahwa dalam ritual adat kololi kie di pulau Ternate ini, semua peserta yang ikut dalam pelaksanaan ritual ini akan melewati 4 (empat) sudut utama dari lingkaran pulau Ternate. Istilah untuk keempat sudut ini adalah “Libuku Raha” (libuku=sudut, raha=empat). Dalam ritual ini terdapat terdapat 13 (tiga belas) titik keramat yang wajib diziarahi sepanjang route mengelilingi pulau hingga kembali ke posisi semula. Keempat sudut utama yang disebut Libuku Raha ini adalah :

1). Tabam ma-Dehe
2). Buku Deru-Deru
3). Banding Mari Hisa
4). Foramadiyahi

Sedangkan ke-13 (tiga belas) titik keramat dimaksud tersebut, diantaranya adalah :

1). Kadato ma-Ngara
2). Jere Kubu Lamo
3). Libuku Tabam ma-Dehe
4). Jere Kulaba
5). Sao Madaha (di Sulamadaha)
6). Libuku Buku Deru-Deru
7). Libuku Bandinga Mari Hisa
8). Ruwa Ake Sibu (Ake Rica)
9). Jere toma Foramadiyahi
10). Ngade (gam ma duso)
11). Talangame
12). Benteng Oranye / Malayu Cim
13). Jere toma Sigi Lamo

Setelah tiga kali mengitari pusaran kecil di perairan depan keraton kesultanan, seperti yang penulis uraikan di atas, armada kololi kie ini memulai perjalanan ke arah utara yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Setelah perjalanan sekitar 15 menit atau sekitar 6 km dari depan keraton kesultanan Ternate, rombongan armada kololi kie ini akan melewati “Jere Kubu Lamo” yakni makam keramat salah seorang sufi Ternate yang dahulu pada zamannya dikenal dengan sebutan “Joguru Lamo” (Joguru=Tuan Guru, Lamo=Besar) yang namanya asli tokoh ini sangat dirahasiakan oleh nara sumber yang penulis wawancarai. Pembacaan doa di pos pertama ini dilakukan sambil berlalu tanpa berhenti.

Menurut nara sumber penulis, seorang Joguru Lamo yang dimakamkan di sini dahulunya adalah guru tasawuf terkenal. Lokasi makam ini tepat berada beberapa puluh meter di belakang deretan kuburan di lokasi Taman Makam Pahlawan Banau di kelurahan Sangadji Ternate utara.

Doa-doa yang dibacakan pada tiap-tiap pos tempat keramat adalah doa “Akrim naa” yang disambung dengan lafadz Allahummaj al naa yaa maulaana alaika dzaa kiriin, kemudian dilanjutkan dengan doa “Tolak Bala”.

Sekitar 20 menit melewati jere Kubu Lamo ke arah utara, rombongan armada kololi kie tiba pada pos keramat berikut, yaitu “Libuku Tabam ma-Dehe”. Tempat ini oleh orang Ternate secara ritual adalah merupakan salah satu sudut pulau karena posisinya seperti sebuah tanjung.

Sepanjang perjalanan mengelilingi pulau, selain pada pos-pos keramat dibacakan doa-doa khusus yang sudah disebutkan di atas (=Asmih, Taiyyibi, Abdul Qadir Djaelani, Tolak Bala), juga dibacakan doa “Alhamdu Tarekat”, doa “Sawwabah”, doa ”Tahlil”, serta “Doa Salamat” dan “Doa Kie”.

Kurang lebih 10 menit dari tempat itu, peserta ritual adat kololi kie melewati perairan yang di pantainya terdapat bentangan bebatuan bekas lelehan lava gunung berapi Gamalama yang sudah membatu, yang disebut “Batu Angus” atau “Mari Hoku” oleh orang Ternate. Sekitar 500 meter dari tempat ini adalah rombongan melewati pos keramat yang ke empat, yakni “Jere Kulaba”.

Jere Kulaba adalah makam keramat salah satu dari beberapa orang sufi Ternate yang terkenal di masanya dengan peran utamanya adalah memperkokoh tegaknya syariat Islam di Ternate pada pada sekitar tahun 1705. Menurut keterangan dari salah satu nara sumber penulis Abdul Kadir Mailudu atau sering disapa Tete Baa (sudah almarhum), yang keterangannya diperoleh penulis beberapa tahun lalu, terungkap bahwa nama pemilik makam dengan batu nisan tertinggi di Jere Kulaba ini adalah seorang ahli tasawuf Ternate yang hidup sekitar akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18 Masehi, yang bernama; “Syekh Abdul ibnur-Rachman" yang bernama asli Ternate adalah; "Dumade”.

Tidak semua orang di sini tahu nama makam keramat yang sangat sering diziarahi penduduk Ternate ini. Semua penduduk Ternate hanya tahu makam keramat ini dengan sebutan Jere Kulaba saja. Sengaja penulis tuliskan dan publikasikan nama yang sangat dirahasiakan oleh orang tua-tua ini dengan tujuan agar generasi muda Ternate juga mengetahuinya.

Makam ini sangat terkenal di seantero pulau Ternate dan pulau sekitarnya. Makam keramat ini memiliki batu nisan tertinggi di pulau Ternate, yakni kurang lebih hampir 1,7 meter atau setinggi tubuh orang dewasa. Orang banyak sering menyebutnya Jere Kulaba karena lokasinya berada tepat di belakang desa Kulaba di pulau Ternate.

Kira-kira sekitar 20 hingga 30 menit meninggalkan tempat itu rombongan perahu ini melewati salah satu tempat keramat di desa sulamadaha yakni “Sao Madaha”. Tempat yang dianggap keramat ini berada di dalam sebuah teluk kecil di ujung desa ini.

Nun jauh di atas di lereng pegunungan gunung Gamalama terdapat sebuah bukit yang disebut dengan “Buku Deru-Deru”. Bukit ini oleh orang Ternate secara ritual juga dianggap sebagai salah satu sudut pulau dari empat sudut (Libuku Raha) yang ada di pulau ini. Sambil melewat tempat ini juga dilakukan pembacaan doa khusus oleh salah satu Imam yang turut menumpangi perahu Sultan berada.

Sekitar 20 menit dari tempat ini rombongan tiba di perairan desa Bandinga. Tempat ini juga dianggap oleh masyarakat Ternate merupakan sudut pulau yang ketiga yang dikenal “Libuku Bandinga Mari Hisa”. (mari=batu, hisa=pagar). Libuku Bandinga Mari Hisa ini merupakan salah sudut pulau yang dianggap keramat dimana pulau Ternate dibagi dua dengan patokan posisi awal dari depan Keraton kesultanan Ternate. Artinya rombongan upacara ritual kololi kie ini sudah melewati separuh lingkaran keliling pulau Ternate (50 %).

Pada masing-masing tempat-tempat yang disebutkan ini juga dilakukan pembacaan doa-doa khusus, tapi tidak berhenti, yakni dibacakan doa sambil berlalu.

Selain berhenti di beberapa tempat sambil memanjatkan doa-doa khusus, Sultan dan rombongan armada kololi kie ini juga akan turun ke darat di desa Ruwa setelah sekitar 20 menit melewati Libuku Bandinga Mari Hisa.

Segera setelah seluruh armada merapat ke tepian pantai, Sang Sultan dan Permaisuri disambut dengan melakukan upacara “Joko Kaha” (joko=injak, kaha=tanah), yaitu upacara penyambutan yang dilakukan oleh masyarakat adat sekitar desa Rua dan Monge yang sudah sejak dari tadi berjejer di tepian pantai “Ake Rica” yang ada diantara dua desa itu. Dahulu nama ake rica ini dikenal dengan sebutan “Ake Sibu”.

Sebagian masyarakat menuju ke sebuah kolam sumber air kecil yang berada di seberang jalan raya yang membentang sepanjang pantai Ake Rica ini. Kolam kecil dengan sumber air yang tak pernah habis ini diyakini dan dipercaya sebagai tempat mandinya para bidadari di jaman dahulu ketika masa kedatangan Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddiq, sang pembawa agama Islam ke pulau ini. Di tempat ini sebagian masyarakat mengambil air dari sumber air yang keluar dari celah bukit yang tumpah langsung ke kolam, ini, atau sebagian dari mereka sekedar mencuci dan membasuh muka.

Setelah perahu-perahu merapat di tepi pantai, sang Sultan dan permaisuri akan turun untuk mencuci kaki dan menginjakkan kakinya pada segenggam rumput Fartago yang sudah disiapkan di atas piring kecil.

Rombongan lalu disambut secara adat oleh para tetua desa dan disuguhi berbagai hidangan makanan adat yg lezat, seperti nasi kuning, ayam bakar, serta ikan bakar. Upacara penyambutan rombongan ini diiringi oleh alunan berbagai alat musik pukul dan gesek tradisional. Suguhan ini menggambarkan pengakuan masyarakat Ternate terhadap kebesaran sang Sultan dan kerajaannya.

Setelah menikmati hidangan yang ada, Sultan dan Permaisuri beserta seluruh rombongan upacara ritual ini melanjutkan pelayaran mengelilingi Gunung Gamalama dan pulau Ternate. Selama perjalanan, peserta ritual adat kololi kie, rombongan armada ini selalu memperoleh sambutan meriah dari masyarakat yang menyaksikan iring-ringan perahu dari tepi pantai sambil melambai-lambaikan tangannya kepada rombongan sang Sultan yang melewati kampungnya.

Tak hanya itu, sepanjang perjalanan, jika cuaca baik, banyak pemandangan indah laut Ternate yang tenang bias dinikmati, indahnya deretan pulau-pulau kecil di sekitar Ternate, serta keanggunan sosok gunung Gamalama tak akan mudah dilupakan oleh mereka yang mengikuti pelayaran sakral ini. Banyak peserta perjalanan dalam acara ritual ini mengabadikan setiap moment dengan camera dan handycam yang dimilikinya masing-masing.

Sekali lagi dijelaskan, bahwa selama melalukan perjalanan mengelilingi pulau ini, iring-iringan perahu tiap "Soa" (kampung) dilengkapi dengan alat musik Tifa, Gong dan Fiol (alat musik gesek), suasana adat dan tradisional sangat terasa dalam perjalanan ini.

Selepas dari tempat Ake Rica ini, rombongan armada melanjutkan perjalanan yang kurang lebih sudah mencapai 50 % dari lingkarang keliling pulau Ternate. Kira-kira sekitar 25 menit, rombongan melewati pemukiman Foramadiyahi yang terletak jauh di atas lereng gunung Gamalama. Di tempat ini terdapat makam Sultan Babullah ibn Khairun Djamilu sang legendaris pengusir penjajah dari bumi Ternate. Dari kejauhan di laut, rombongan ini melakukan pembacaan doa-doa khusus untuk makam ini.

Selanjutnya beberapa saat setelah meninggalkan tempat itu, rombongan melewati sebuah danau laguna yang berada di pantai selatan bibir pulau ini. Danau laguna ini oleh orang Ternate disebut “Danau Ngade”. Rombongan juga melakukan pembacaan doa-doa khusus ketika melewati tempat ini tanpa berhenti atau singgah.

Kira-kira 15 menit setelah melewati danau Ngade ini, arah rombongan sekarang sudah mengarah ke timur laut yakni kira-kira sudah 75 % menyelesaikan perjalanan ini. Saat ketika melewati daerah pesisir pantai Talangame (sekarang kelurahan Bastiong), juga dilakukan pembacan doa-doa khusus.

Sepuluh menit dari pesisir pantai Talangame, rombongan mulai memasuki pesisir kota Ternate, dan arah perjalanan rombongan sudah menghadap ke utara. Perjalanan keliling pulau ini sudah mencapai 90 %. Setelah melewati mesjid raya Ternate Al-Munawar, dibacakan pula doa khusus ketika sedang melewati kawasan Malayu Cim (Benteng Oranye dan sekitarnya). Rombongan armada melewati perairan di pusat kota Ternate.

Perjalanan ritual adat kololi kie ini tinggal kira-kira 15 menit lagi. Sekitar satu kilometer menjelang tempat pemberhentian di pelabuhan Dokoku Ali (tempat memulainya perjalanan ini) dari laut dibacakan doa khusus untuk beberapa makam para Sultan Ternate yang berada di daratan tepatnya di dalam kompleks mesjid kesultanan, makam-makam disebut oleh orang Ternate dengan “Jere Sigi Lamo” (Makam raja di Mesjid Sultan).

Perjalanan ritual adat selama kurang lebih empat jam ini kemudian berakhir dan kembali ke Jembatan Dodoku Ali, tempat dimana perjalanan ritual ini dimulai di pagi hari.

CATATAN AKHIR PENULIS

Dalam kurun waktu sekitar 6 tahun terakhir ini, ritual adat kololi kie ini dilaksanakan dalam rangkaian acara tahunan, yaitu pada Festival Legu Gam Moloku Kie Raha, yang dilaksanakan setiap bulan April menjelang ulang tahun Sultan Ternate (Sultan Haji Mudaffar Sjah II). Dalam festival ini, selain dapat mengikuti pelayaran ritual adat kololi kie, wisatawan juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian, karnaval budaya, pameran kerajinan, serta berbagai perlombaan tradisional khas Maluku Utara.

Untuk menuju tempat pelaksanaan tradisi ritual adat kololi kie ini di kota Ternate, para wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara dapat menempuh perjalanan udara baik dari Ambon, Manado, Makassar, Sorong maupun langsung dari Jakarta menuju ke bandara Sultan Babullah di pulau Ternate. Selain melalui jalur udara, para wisatawan juga dapat memanfaatkan fasilitas pelayaran kapal-kapal Pelni dari berbagai pelabuhan di Nusantara yang merapat di Pelabuhan Laut Achmad Yani Ternate.

Selain itu, terdapat tiga pelabuhan lain di kota Ternate yang melayani pendaratan kapal-kapal sedang, yaitu Pelabuhan Fery, Pelabuhan Dufa-Dufa untuk kawasan utara serta Pelabuhan Bastiong untuk kawasan selatan. Dari bandara Sultan Babullah maupun dari pelabuhan laut Achmad Yani Ternate, atau dari ketiga pelabuhan sedang tersebut, para wisatawan dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi untuk sampai ke jembatan Dodoku Ali yang berada tepat di halaman alun-alun Keraton Kesultanan Ternate, yang menjadi lokasi permulaan atau tempat start kegiatan tradisi ritual adat kololi kie ini.

Dari gambaran pelaksanaan tradisi kegiatan kololi kie yang penulis gambarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi ini adalah sebuah kebiasaan masyarakat yang bersifat ritualistis karena pelaksanaannya tidak sekedar mengitari pulau ini, tapi harus dipandu dan dipimpin oleh orang yang mengetahui seluk beluk ritual ini. Kegiatan ritual kololi kie ini bukan sekedar aktivitas seremonial belaka, melainkan banyak makna yang tersirat dan tersurat yang mungkin bisa kita petik. Mungkin pula tradisi ritual seperti ini ada juga di tempat-tempat lain di nusantara ini, tapi dengan nuansa dan sebutan yang mungkin berbeda pula.

Apapun yang dikatakan orang, apapun yang anda komentari setelah membaca tulisan ini, namun pada kenyataannya tradisi ritual adat ini masih tetap bertahan di pulau ini hingga hari ini. Persoalannya, sejauh manakah tradisi ini bisa tetap bertahan dikala derasnya hempasan arus modernisasi yang melanda seluruh pelosok bumi ? Wallahu wa’lam…..!

Semoga tradisi khas Ternate ini tetap lestari. Harapan penulis, semoga event tahunan ini turut mewarnai promosi dan upaya mengangkat nilai jual pariwisata budaya Ternate ke daerah-daerah lain di Indonesia maupun ke manca Negara.

"...Save Ternate Heritage..."


Baca selengkapnya......

CAKALELE, HASA & SALAI JIN, (Mengenal Jenis-Jenis Roh Gaib Yang Dikenal Masyarakat Ternate)  

Posted

Oleh : Busranto Latif Doa
===================================================================

Sejak masa terbentuknya masyarakat pertama di Ternate, Cakalele sudah menjadi tradisi masyarakat di kepulauan ini. Seperti halnya di tempat lain di kepulauan Maluku dan sekitarnya, “Cakalele” merupakan bentuk tradisi atau kebiasaan dalam masyarakat tradisional di daerah ini.

Tradisi Cakalele sebenarnya bermula dari daerah Maluku Utara, yang kemudian meluas ke daerah-daerah pengaruh kerajaan hingga sampai ke daerah Maluku Tengah (Ambon & Seram), termasuk juga ke wilayah semenanjung Sulawesi bagian utara (di Minahasa juga ada tradisi Cakalele ini) dan juga di kawasan sepanjang pantai timur pulau Sulawesi. Mereka masih tetap menggunakan istilah Cakalele ini sebagaimana sebutan asal yang diambil dari kosa kata bahasa Ternate.

PENGERTIAN

Menurut budayawan asli Ternate Abdul Hamid Hasan, dalam bukunya; “Aroma Sejarah dan Budaya Ternate” (1999), menguraikan bahwa pengertian Cakalele secara etimologi dalam bahasa Ternate, terdiri atas dua suku kata, yaitu “Caka” (syaitan/roh) dan “Lele” (mengamuk). Hingga saat ini masyarakat Ternate masih menggunakan istilah Caka untuk menyebut roh jahat, ada juga istilah lain untuk Caka yaitu "Suwanggi". Caka dalam Bahasa Tidore disebut dengan "Coka".


Jadi, pengertian kata Cakalele secara harafiah berarti “setan / roh yang sedang mengamuk”. Bila jiwa seseorang telah dirasuki syaitan/roh, maka ia tidak takut kepada siapapun yang dihadapi dan ia telah haus akan darah manusia. Dengan demikian, menurut Abdul Hamid Hasan atraksi Cakalele di dalam peperangan ataupun uji coba ketahanan jiwa raga seseorang dalam kegiatan “Legu Kie se Gam” berbeda dengan Cakalele yang sekedar ditampilkan pada upacara resmi lain.

Pada upacara resmi lain, penampilan atraksi serupa Cakalele biasanya disebut “Hasa”, tetapi karena pertarungannya sama dengan Cakalele, maka juga disering disebut orang sebagai Cakalele. Cakalele dan Hasa tidak mutlak harus dalam bentuk "pertarungan", melainkan atraksi ini dilakukan secara tunggal atau perorangan. Hasa hanya merupakan atraksi menyerupai Cakalele. Bedanya para pelaku atraksi Hasa tersebut berada dalam keadaan sadar (termasuk dalam atraksi pertarungan maupun atraksi tunggal, karena jiwanya dalam keadaan tidak sadar karena dirasuki roh/jin).

Tidak demikian hal dengan Cakalele, karena jiwa pelaku dari kedua belah pihak yang sedang atraksi (bertarung) atau atraksi perorangan telah dirasuki syaitan/roh, sehingga semua gerakan yang dilakukan adalah dibawah alam sadar.

Ada dua bentuk atraksi lain yang menyerupai Cakalele, yaitu; “Salai Jin” dan “Hasa” seperti yang saya sebutkan di atas. Salai Jin adalah bentuk upacara memohon bantuan sahabat dari dunia gaib untuk mengatasi persoalan yang timbul di dalam suku atau dalam suatu keluarga. Misalnya untuk mengobati warga suku atau anggota keluarga yang sakit, maka diadakan Salai Jin ini, dengan mempersiapkan perlengkapan pelaksanan upacara itu sesuai adat istiadat yang berlaku.

Adapun peralatan yang digunakan dalam Cakalele dan Hasa ini terdiri atas; Parang (Pedang), Salawaku (Perisai kayu) dan bahkan tombak. Salawaku biasanya dihiasi dengan pecahan porselen piring atau kerang yang bermotif angka atau kembang sesuai angka atau simbol perhitungan menurut kepercayaan sebagai “Jimat” agar mempan menangkis serangan musuh. Sedangkan musik yang mengiringi atraksi Cakalele disebut “Tepe-Tepe” yang peralatannya terdiri dari dua buah Tifa dan satu buah Genderang serta sebuah gong tembaga yang dijadikan alat yang dipukul untuk mengeluarkan suara sehingga menambah suasana hiruk piruk.

Sebagaimana Cakalele, pelaku Hasa juga menggunakan parang dan salawaku dan menari-nari seperti orang kerasukan dan haus akan peperangan, sambil tangan kanannya diangkat ke atas melambai-lambaikan parang yang digenggamnya, sedangkan tangan kiri biasanya memegang salawaku / perisai yang dilipat ke depan dadanya (lihat gambar).

Sedangkan pada Salai Jin, ritual pengobatan biasanya dilakukan setelah pelakunya dirasuki roh sahabatnya gaib-nya, barulah si pelaku itu dapat mengobati warga yang sakit ataupun orang-orang yang datang minta pertolongan dan pengobatan kepadanya pada saat itu.

Dalam peperangan yang sesungguhnya, apabila seseorang yang menghadapi perang dan telah siap dengan parang atau tombak dan salawaku biasanya mata terbelalak berlari menuju musuh serta merta pelaku biasanya berteriak dengan mengeluarkan suara ; “Aulee… Aulee… Aulee…”, yang berarti "darah membanjir..." dan terjadilah bunuh-membunuh dalam peperangan tersebut.

Menurut analisa sementara saya, kemungkinan kata Aulee ini berasal dari gabungan dua kata, yaitu "Au" yang berarti darah, dan "leo" yang berarti mengalir atau membanjir. Kebiasaan pelaku apabila mencapai kemenangan, harus meminum darah salah satu musuhnya sebagai imbalan kepada roh gaib yang merasuki dalam dirinya. Demikian gambaran peperangan yang terjadi pada jaman dahulu seperti yang diceriterakan oleh beberapa orang tua-tua di Ternate yang saya wawancarai beberapa waktu yang lalu.

Acara besar-besaran yang dilaksanakan oleh setiap suku terhadap sahabat gaib-nya ini dengan tujuan untuk kemaslahatan negeri disebut dengan “Legu Kie se Gam”. Ini adalah pengertian awal dari “Legu Gam” yang sebenarnya (dahulu). Pada akhir-akhir ini, pengertian Legu Gam (modern) lebih mengarah pada acara “Pesta Rakyat” yang dilaksanakan secara besar-besaran berupa "Pameran Pembangunan" di alun-alun besar keraton kesultanan Ternate (Sunyie Lamo) yang dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kegiatan Legu Gam modern ini dilaksanakan rutin setiap tahun sejak sekitar enam tahun yang lalu. Legu Gam modern selalu dilakasanakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Sri Sultan Ternate ke-48 Sultan Haji Mudafar Syah II. Pesta Rakyat (Legu Gam) ini dilaksanakan juga dalam rangka melestarikan budaya tradisional Maluku Utara,dan menambah nilai jual pariwisata Maluku Utara, karena peserta yang hadir atau yang turut serta dalam kegiatan ini bukan dari kesultanan Ternate saja, melainkan meliputi kesultanan lainnya yaitu : kesultanan Tidore, kesultanan Bacan dan juga kesultanan Jailolo. Lagu gam moderen ini juga diikutsertakan beberapa instansi pemerintah dalam bentuk stand-stand atau kios-kios pameran di alun-alun besar (Sunyie Lamo) kesultanan Ternate. (Bahasan tentang Legu Gam – Modern ini akan dibuat dalam artikel dan diposting tersendiri).

JENIS-JENIS ROH GAIB YANG DIKENAL DI TERNATE

Di dearah ini, masyarakat tradisional mengenal beberapa jenis nama roh gaib yang dapat dipakai sebagai sahabat dalam dunia ritual, diantaranya;
1. Wonge
2. Jin
3. Meki (Lobi-Lobi)
4. Caka (Suwanggi)
5. Puntiana (Kuntilanak)
6. Giki, dan
7. Moro, (Manusia Gaib, bukan roh gaib)

Para roh gaib ini dijadikan sahabat dengan ketentuan si pemilik (pelaku yang telah bersahabat dengan roh gaib) harus dapat memenuhi tuntutan roh gaib tersebut, antara lain menyediakan tempat untuk roh gaib. “Wonge” adalah salah satu jenis roh gaib yang hingga saat ini masih dipuja oleh sebahagian kecil masyarakat tradisional di Ternate dan sekitarnya. Tempat untuk bersemayam roh gaib ini biasanya disebut “Fala Wonge” atau "Wonge ma Fala" yang ditempatkan di salah satu sudut rumah, di luar rumah atau juga ditempatkan di sekitar rumah tempat tinggalnya (lihat gambar Fala Wonge).

Pemilik Fala Wonge ini pada saat tertentu wajib menyediakan sesajen yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu , biasanya sirih, pinang, batangan rokok, darah ayam dan sebagainya. Apabila si pemilik menghendaki sesuatu bantuan kekuatan gaib atau pengobatan dari roh gaib, maka ia harus melaksanakan upacara ritual dengan menyajikan sesajen yang telah ditentukan, kegiatan memanggil roh gaib ini dikenal dengan “Karo Wonge” yakni semacam pesta ritual yang lumayan ramai di lingkungan keluarga atau kekerabatan, karena pasti manjadi tontonan warga sekitar. (Bahasan tentang ini akan kupas kemudian dengan artikel yang berjudul; “WONGE, Tradisi Ritual Pemujaan Roh Gaib).

Jenis roh gaib lain yang dikenal di Ternate dan Maluku Utara pada umumnya adalah “Jin”. Saya kira pengertiannya hampir sama dengan pemahamannya yang diyakini oleh masyarakat tradisional di daerah-derah lain di Nusantara ini. Sedangkan yang dimaksud dengan roh gaib jenis “Meki” adalah roh gaib yang sejenis dengan Wonge, hanya Meki biasanya selalu meminta imbalan tumbal nyawa manusia, sehingga lebih mengarah pada "Ilmu Hitam". Istilah lain untuk Meki adalah “Lobi-Lobi”. Kata Lobi dalam bahasa Ternate berarti "kabut", pengertiannya adalah bahwa ; kadang-kadang orang awam yang secara tidak sengaja sering melihat penampakan Meki ini, misalnya di pohon besar, di dalam goa, atau tempat-tempat mistis lainnya.

Menurut kepercayan masyarakat tradisional di Ternate, bahwa roh gaib jenis Wonge, Jin dan Meki memiliki komuntas gaib tersendiri di dunianya seperti komunitas manusia di dunia nyata, mereka juga memiliki desa, kota, pasar, bahkan kendaraan, namun dalam bentuk gaib. Bahkan menurut mereka di alam dunia Jin ada Jin yang kafir dan juga ada Jin Islam.

Sedangkan Caka adalah salah satu jenis roh gaib yang berada dan tidak jauh dari lingkungan dan bahkan berada dalam kehidupan manusia. Caka adalah bahasa asli Ternate, sedangkan istilah terhadap roh gaib yang jahat ini juga sering disebut dengan "Suwanggi", bahkan lebih populer istilah ini dari pada Caka. Ada juga sebuah kegiatan tradisi yang disebut “Caka Ibah” (Akan saya bahas dalam artikel tersendiri nanti). Secara harafiah tentang kata Suwanggi, saya belum mengkaji pengertiannya hingga menjadi istilah yang masih tetap populer di masyarakat Ternate sampai sekarang.

Selama ini, Caka biasanya melakukan penampakan dengan dua cara, yaitu pertama melaui penampakan di tempat-tempat tertentu di sekitar lingkungan tempat tinggal bahkan di dalam rumah sekalipun. Cara yang kedua adalah dengan merasuki ke dalam raga seseorang sehingga orang tersebut dengan tanpa sadar melakukan hal-hal diluar kesadarannya. Biasanya jiwa orang-orang yang tamak, pendendam, jiwa yang sedang hampa dan bermacam macam lainnya sering dirasuki Caka ini. Dan biasanya pula roh jahat tersebut menempati raga seseorang tersebut secara terus-menerus pada saat-saat tertentu, sehingga orang sekampung pasti mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah "Caka".

Jiwa yang dirasuki oleh Caka ini kebanyakan kaum wanita, namun ada juga beberapa kaum lelaki yg juga menjadi pelanggan roh jahat ini dan bahkan bila telah dirasuki akan menjadi lebih jahat lagi Caka perempuan. Caka laki-laki biasanya lebih "Tomole" (sadis) dari pada caka perampuan. Sasaran yang dijadikan obyek yang sering diganggu oleh Caka ini bermacam-macam, diantara yang sering adalah bayi yang baru dilahirkan, karena menurut masyarakat Ternate, bayi yang baru lahir adalah makanan empuk dari Caka ini.

Selain itu Caka suka mengganggu orang lain yang sedang tidur, satau sedang hampa jiwanya sehingga ybs kadangkala ketakutan sepanjang malam. Jenis lain dari Roh Jahat yang dikenal di Ternate adalah “Puntiana”, yang sama seperti di daerah-daerah lain yang dikenal dengan "Kuntilanak".

Lain halnya dengan “Giki”, pengertian Giki lebih mengarah pada profil gaib yang lebih tinggi dan lebih mulia dan tidak ada yang bisa menyamainya, yaitu sang pencipta (Tuhan). Dalam bahasa Ternate, Tuhan sang pencipta alam dijuluki dengan istilah "Giki Amoi" (Amoi=hanya satu-satunya, maksudnya Allah yang hanya satu)

Sedangkan “Moro” adalah sebangsa manusia gaib yang komunitasnya berada di pedalaman pulau Halmahera. Saya menyebutnya mereka dengan menggunakan istilah “Bangsa Moro” karena mereka juga sebangsa Jin dan keberadaan mereka juga di dunia gaib seperti bangsa Jin. Selama ini memang belum ada orang yang melakukan penelitian tentang mereka. Keberadan mereka di dunia tidak nyata (gaib) mengakibatkan hal ini sulit diterima dalam konteks metodeologic akademis.

Memang diakui, eksistensi Mancia Moro ini masih simpang siur dan masih menjadi perdebatan oleh beberapa kalangan di Ternate dan Maluku Utara. Namun demikian, masih banyak masyarakat Maluku Utara mempercayai ada Mancia Moro ini. Sedangkan masyarakt akademis dan kaum rasionalis sebagian besar tidak mempercayai eksistensi “Mancia Moro” ini termasuk cerita2 mistis seputar “Bangsa Moro” ini yang beredar di masyarakt secara turun temurun.

===================================================================
Tulisan dan bahasan tentang ini hanya ada di sini :
http://www.busranto.blogspot.com dan atau
http://www.ternate.wordpress.com
Lampiran ilustrasi gambar sehubungan dengan tulisan ini bisa dilihat dalam artike di kedua blog di atas.
Tidak dilarang untuk mengcopy, asalkan disebutkan sumbernya…

Baca selengkapnya......

Mengenal ORANG TOGUTIL, Suku Terasing di Pedalaman Pulau Halmahera - Maluku Utara  

Posted


Penulis : Busranto Latif Doa
Sumber Foto :
1) Malik Latif, PT. Aneka Tambang Geomin Buli
2) Disbudpar Kab. Haltim
=================================

Bila mendengar kata “TOGUTIL”, maka bayangan yang muncul dalam pikiran semua orang di Ternate dan Maluku Utara pasti akan tertuju pada komunitas suku terasing yang hidup secara nomaden di pedalaman pulau Halmahera. Tapi mungkin lain halnya dengan masyarakat di luar provinsi muda ini, misalnya orang-orang di Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Sumatera dsb, nama suku Togutil mungkin baru kali ini didengarnya. Bagi orang Ternate, kata “Togutil” sebagai sebuah istilah, itu identik dengan makna kata “primitif”, “keterbelakangan”, “kebodohan” “ketertinggalan” serta masih banyak lagi konotasi-konotasi yang bermakna serupa lainnya.

Dalam keseharian kehidupan masyarakat di Maluku Utara yang hingga sekarang ini juga telah memasuki era digital sebagaimana orang-orang di pulau Jawa, namun ternyata masih ada saudara-saudaranya yang ada di pedalaman pulau Halmahera yang hidupnya masih primitif dan terbelakang serta jauh dari sentuhan modernisasi. Padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun yang lalu.


Suku Togutil adalah suku asli yang terasing di negerinya sendiri. Hal seperti ini juga pernah dikemukakan oleh Pengamat Budaya Djoko Su'ud Sukahar dalam tulisannya; Suku Asing & Terasing, detikNews, tanggal 21 Agustus 2008 yang menyentil bahwa; “Enampuluh tiga tahun sudah kita merdeka. Kemerdekaan yang panjang itu masih menyisakan penyesalan. Tak hanya karena taraf hidup rakyat yang tak kunjung membaik, tapi juga masih banyaknya saudara kita yang hidup terasing. Mereka asing bagi kita, dan kita asing bagi mereka, seperti orang-orang Suku Togutil yang hidup di pedalaman pulau Halmahera”. Walaupun mereka masih primitif karena pola hidup secara nomaden tanpa merobah dan merusak alam, namun keberadaan mereka seperti itu telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua dalam hal melestarikan hutan. Seakan-akan mereka berpesan; janganlah sekali-kali merusak alam.

Seperti yang pernah saya jelaskan dalam artikel-artikel pada posting sebelumnya bahwa pada zaman Pleistochen pulau Halmahera masih menyatu dengan pulau-pulau kecil lainnya yang ada saat ini, seperti pulau; Morotai, Hiri, Ternate, Maitara, Tidore, Mare, Moti, Makian, Kayoa, Bacan, Gebe dan sebagainya. Perubahan alam yang terjadi selama ratusan ribu tahun dan pergeseran kulit bumi secara evolusi telah membentuk pulau-pulau kecil. Halmahera adalah merupakan pulau induk di kawasan ini, dan merupakan dataran tertua, selain pulau Seram di Maluku Tengah.

Secara logis, karena pulau Halmahera adalah pulau induk dan daratan tertua, maka dapat dipastikan bahwa perkembangan kehidupan dan persebaran “manusia Maluku Utara” juga tentu bermula dari daratan ini. Namun bukan itu yang menjadi bahasan saya dalam tulisan ini. Pembahasan hanya terfokus pada keberadaan sebuah komunitas yakni orang-orang suku Togutil yang masih tersisa yang mengalami ketertinggalan dalam perkembangan sosio-kultural yang disebabkan karena mereka terisolasi atau mengisolasikan diri dari pergaulan dengan lingkungan manusia lainnya. Hidup mereka telah menyatu dengan alam sehingga hutan rimba, sungai-sungai dan goa-goa di belantara pedalaman pulau Halmahera menjadi rumah mereka.

Disadari atau tidak, sebagian orang bisa menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa manusia Maluku Utara yang sudah modern dan maju seperti sekarang ini dahulunya adalah juga seperti “orang Togutil” ini.

Bila kita bijak, maka hal ini tidak lantas begitu saja langsung dibantah, karena jika kita mempelajari “Ilmu Anthropologi” maka pasti kita memahami bahwa setiap bangsa atau suku mana saja di muka bumi ini dalam perjalanannya pasti mengalami tahap-tahap perkembangan yang demikian. Misalnya bangsa Kaukasoid (orang Eropa) yang lebih dahulu maju dan telah menjadi manusia modern seperti sekarang ini, dahulunya juga adalah suku primitif (Vicking) yang kehidupannya masih tergantung dengan pemberian alam (Nomad) seperti orang Tugutil ini.

Kembali kepada pembicaraan kita tentang “Suku Togutil”… Catatan ilmiah tentang suku ini, pertama kali dikemukakan tahun 1929 yang berbentuk sebuah artikel pendek yang terdapat dalam buku; “De Ternate ArchipelSerie Q, No.43 Ontleedn aan de memorie van overgave van den toenmaligen Controleur van Tobelo, PJM Baden, van 26 Maret 1929, pag 401-404.

Saat ini banyak keterangan-keterangan dari berbagai pihak dan masyarakat tentang orang-orang suku Togutil ini sangat berbeda dan simpang siur antara satu dengan yang lainnya. Semua itu benar, karena mereka tahu dan melihat dalam kurun waktu dan ruang yang berbeda sehingga deskripsi yang lahir tentang suku Togutil ini pun berbeda pula.


Di pedalaman pulau Halmahera, komunitas suku pengembara ini ditemui di beberapa kawasan. Di utara masih terdapat di pedalaman Tobelo, di tengah seperti terdapat di Dodaga, di pedalaman Kao, di pedalaman Wasilei dan agak ke selatan juga terdapat beberapa komunitas mereka di pedalaman Maba dan Buli. Setiap komunitas (kelompok) suku primitif ini berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bahkan mereka saling berperang bila bertemu.


Namun demikian, bagi masyarakat Maluku Utara, masing-masing kelompok orang-orang Tugutil ini, semuanya disebut sebagai “Suku Togutil” saja. Yang membedakan sebutan terhadap mereka adalah kawasan yang menjadi tempat pengembaraan mereka, misalnya Togutil Tobelo, Togutil Kao, Togutil Dodaga, Togutil Wasilei, Togutil Maba, dsb.

Usaha pemukiman terhadap masyarakat terasing merupakan program utama pemerintah dalam usaha membiasakan mereka hidup menetap dan bercocok tanam (bertani). Menetap dengan pengharapan dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan rohani. Usaha ini dimaksudkan agar mereka dapat secepatnya mencapai taraf hidup yang sejajar dengan masyarakat Indonesia umumnya.

Atas pemikiran inilah, Pemerintah daerah di Maluku Utara pada tahun 1971 pernah membangun pemukiman (relokasi) untuk orang-orang suku Togutil Dodaga di kecamatan Wasilei Halmahera Tengah. Yang dimaksud dengan orang-orang Togutil Dodaga adalah sekelompok orang suku Togutil yang berdiam di sekitar hutan dekat Dodaga. Penambahan kata Dodaga di belakang nama golongan etnis ini adalah agar dengan mudah dapat membedakannya dengan orang-orang suku Togutil lain yang terdapat di kecamatan Wasilei, maupun di kecamatan-kecamatan lain di pedalaman pulau Halmahera.

Beberapa saat setelah suku Togutil Dodaga ini bermukim di tempat relokasi yang dibangun pemerintah, mereka kembali lagi ke hutan dan hidup lagi menurut cara yang lama. Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan, apa sebab usaha ini gagal, sedangkan usaha-usaha serupa berhasil di tempat lain, seperti Suku Naulu di pulau Seram, orang Dayak Bukit di Kalimantan, Suku Sakai di Sumatera dsb.

Masyarakat di Desa-Desa sekitar mengatakan bahwa orang-orang Togutil ketika musim hujan tiba, merasa terganggu dengan suara bising air hujan yang jatuh, karena atap tidak terbuat dari dedaunan sehingga mereka ketakutan dan lari kembali lagi ke hutan. Alasan lain mungkin karena mereka tidak terbiasa dengan ”sandang” dan “pangan” ala kita.

MASALAH RELOKASI SUKU TOGUTIL DI WASILEI

Gambaran rinci tentang pemukiman, asal-usul dan kehidupan suku Togutil di pedalaman pulau Halmahera ini sama sekali belum diketahui oleh dunia pengetahuan kita. Oleh karena itu sangatlah sukar untuk memperoleh keterangan yang terperinci dan terpercaya dari laporan-laporan yang ada tentang Halmahera tanpa melakukan sendiri penelitian di lapangan.

Walaupun demikian, pada sekitar tahun 1979, Universitas Pattimura Ambon pernah melakukan penelitian lapangan yang bersifat Eksplorasi melalui pendekatan Anthropologi Sosial terhadap suku Togutil di pedalaman Tobelo untuk mencari jawaban atas kegagalan usaha pemukiman suku terasing ini, yang laporan penelitiannya ditulis oleh Mus J. Huliselan yakni; Masalah Pemukiman Kembali Suku Bangsa Togutil di Kecamatan Wasilei Halmahera Tengah Sebuah Laporan Pejajagan, Universitas Patimura, Ambon, 1980.

Saya mengutip beberapa point hasil penelitian tersebut, yang menyebutkan bahwa; Menurut hasil penelitian ini, jika dilihat dari sistem pemukiman orang-orang Togutil Wasilei dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu :

1. Mereka yang mengembara di hutan-hutan dengan goa-goa dengan rumah-rumah darurat sebagai tempat bernaung.
2. Mereka yang berpindah-pindah dalam lokasi tertentu dengan sistem perumahan yang sudah teratur (di Toboino dan Tutuling).
3. Mereka yang menetap pada suatu lokasi dengan pola pemukiman yang telah teratur (di Paraino).

Penelitian ini dilakukan terhadap kelompok kedua dan ketiga. Kelompok pertama adalah pengembara yang dinamai oleh kelompok kedua dan ketiga serta penduduk kecamatan Wasilei sebagai “Orang Biri-Biri”. Mereka ini sukar ditemui dan kecurigaan mereka terhadap orang luar sangat besar.

Orang Biri-Biri hidup selalu bermusuhan dengan orang-orang Togutil Dodaga (kelompok kedua dan ketiga). Setiap pertemuan antar kedua golongan ini pasti diselesaikan dengan perkelahian. Kelompok kedua dan ketiga menganggap masing-masing seketurunan atau segolongan, sedangkan kedua golongan ini sama sekali tidak mengakui orang Biri-Biri sebagai orang yang segolongan dengan mereka.

Orang Togutil Dodaga sebagai salah satu sub-suku Tobelo Dalam, bermukim pada 3 lokasi yang dipilih oleh mereka sendiri di dekat Dodaga, sekitar 30 km dari ibukota Kecamatan Wasilei (Lolobata). Sebagian dari mereka adalah orang suku Togutil yang pernah dimukimkan pada tahun 1971. Ketiga lokasi tersebut adalah; Paraino, Toboino dan Tutuling seperti yang sebutkan dalam hasil penelitian di atas. Orang Togutil Dodaga berasal dari dua tempat, yaitu :
1. Daerah Kao , yakni dari Biang, Gamlaha & Kao sendiri.
2. Daerah Tobelo, yakni dari Kupa-kupa, Ufa & Efi-efi.



Dilihat dari bahasa yang digunakan sesuai hasil penelitian, kelihatannya lebih besar pengaruh bahasa Tobelo Boeng terhadap suku ini. Orang Togutil Dodaga sebagian besar berasal dari daerah Kao. Mereka hanya menguasai dan mengerti satu bahasa yaitu bahasa Tobelo walaupun mereka sejak lama bertempat tinggal di lingkungan yang mayoritas berbahasa Maba.


Orang-orang Togutil Dodaga telah menutup dirinya untuk berhubungan dengan dunia luar sampai kira-kira tahun 1961, setelah itu baru terdapat kontak antar mereka dengan penduduk lain di sekitar Halmahera bagian tengah. Sifat ketertutupan ini dapat dimengerti karena mereka adalah pelarian.

Perpindahan nenek moyang suku Togutil Dodaga dari daerah asalnya adalah karena menghindari kewajiban pembayaran Balahitongi (Pajak) yang dikenakan oleh Pemerintah Hindia Belanda jaman dahulu kepada nenek moyang mereka. Kapan dan bagaimana prosesnya berlangsung tidak diketahui secara pasti.

Dalam buku “De Ternate Archipel” (1929, hal 401-402) secara jelas dikemukakan bahwa; Pada tahun 1927 untuk pertama kalinya orang-orang Togutil dikenakan Balasting (pajak) sebesar 1,20 Gulden oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dan sejak tahun 1929 setiap tahun ditambah dengan 0,20 Gulden. Apabila kedua keterangan ini dibandingkan, maka dapat dikemukakan dua argument, yakni :

1. Apabila benar bahwa yang melakukan migrasi ke hurtan rimba Dodaga adalah orang-orang Togutil, maka mereka baru melakukan hal itu sesudah tahun 1927 karena adanya pungutan Balasting.
2. Tapi apabila yang melakukan migrasi itu adalah orang-orang Tobelo yang melarikan diri karena Balasting, maka migrasi itu telah dilakukan jauh sebelum tahun 1927.

Dengan demikian sulit dibedakan apakah orang Togutil Dodaga adalah orang-orang (TobeloBoeng) atau orang-orang Togutil asli. Sampai saat ini tidak ada satu keteranganpun yang memberi petunjuk jelas tentang perbedaan tersebut. Dan rupanya, hingga saat ini pengertian “Orang Togutil” selama ini telah dipakai untuk penamaan semua orang pengembara yang hidup di hutan pedalaman pulau Halmahera di Maluku Utara.

Para peneliti dari Universitas Patimura yang melakukan penelitian tersebut, menyimpulkan bahwa adanya penolakan orang-orang Togutil Dodaga untuk menerima anggapan bahwa mereka termasuk suku bangsa Togutil dan bahklan mereka menunjuk orang lain (orang Biri-Biri) sebagai orang Togutil, hal ini mungkin sesuai kenyataan bahwa mereka itu adalah orang-orang Tobelo (Boeng) yang dahulu melarikan diri ke hutan. Kenyataan ini ditunjang oleh penunjukan tempat asal mereka yaitu pada Desa-Desa asal Tobelo dan Kao yang bukan tempat kediaman suku Togutil asli.

Dengan demikian, maka pasti timbul pertanyaan; Siapa sebenarnya suku Togutil itu..? Meskipun persoalan ini belum dapat terpecahkan hingga saat ini orang mengenal Suku Togutil di pedalaman hutan Halmahera ada dua, yaitu;
1) Orang Togutil Dodaga yang sudah bisa diajak relokasi oleh Pemerintah, dan
2) Orang Togutil Asli yang masih hidup di hutan pedalaman yang masih menggunakan pola hidup dan ketergantungan hidup dari pemberian alam (nomaden) dan belum mengenal sistem bercocok tanam serta kehidupan yang belum tersentuh oleh dunia luar.

HUTAN SUNGAI & GOA SEBAGAI RUMAH SUKU TOGUTIL

Orang suku Togutil ada yang bermukim di daerah pantai namun sebagian besar berada di hutan pedalaman yang ada sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka. Mereka tidak mengenal sistem pemerintahan dan kekuasaan yang mengikat. Mereka juga tidak mengenal sistem bercocok taman dan pemukiman. Kebanyakan dari mereka mengembara di hutan-hutan tertentu dengan gua-gua atau rumah darurat sebagai tempat bernaung yang dianggap dunianya. Mereka hidup bergantung pada alam. Dalam berpakaian, mereka masih menggunakan “cawat” yang terbuat dari daun dan kulit kayu, tanpa mengenakan baju.

Orang-orang suku Togutil asli yang hidup di tengah rimba Halmahera kerap dihujani prasangka; terbelakang dan membenci orang asing. Mereka menggunakan anjing sebagai tindakan awal untuk menghalau jika ada orang asing memasuki wilayah mereka.

Karena hutan adalah rumah bagi orang-orang suku Togutil, maka pohon dianggap sebagai sumber kelahiran generasi baru. Di samping pelekatan unsur magis tersebut, pohon juga bisa menjadi simbol kelahiran (reproduksi genetika). Saya mengutip beberapa catatan pada hasil Lomba YPHL (2008) dengan topik; Pohon Sebagai Simbol Kelahiran, Mempertimbangkan Pemahaman Lokal tentang Pohon dalam Upaya Pemulihan Kerusakan Hutan, yang ditulis oleh Anthon Ngarbingan dalam www.kabarindonesia.com tanggal 31 Oktober 2008, mengemukakan bahwa ada beberapa kelompok masyarakat seperti suku Togutil di daerah Baborino, Buli, Halmahera Timur – Provinsi Maluku Utara, yang menggunakan pohon sebagai lambang kelahiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga. Ketika seorang bayi lahir, maka salah satu anggota keluarga harus menanam satu pohon, yang menyimbolkan hadirnya generasi baru di tengah-tengah keluarga.


Hal-hal seperti ini yang menyebabkan orang-orang Togutil bisa bertahan dalam hutan, dengan tanpa harus merusak hutan. Padahal, pola hidup mereka berpindah-pindah tempat. Praktek semacam ini juga dilakukan oleh beberapa keluarga yang tinggal di Tobelo, Halmahera Utara. Mereka sering menanam satu buah pohon sebagai simbol kehadiran seorang bayi ditengah-tengah keluarga.


Orang-orang Togutil menganggap bahwa kaitan antara anak yang dilahirkan dengan pohon yang ditanam adalah kehidupan mereka sebenarnya akan juga seperti pohon itu, dengan mana akan tumbuh besar dan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna bagi semua orang.

Orang-orang suku Togutil sampai saat ini belum mengenal sistem bertani, sistem mata pencaharian mereka adalah mengumpulkan hasil hutan dan berburu dalam jangka waktu tertentu, kemudian hasil yang didapat dimakan bersama. Selama bahan makanan masih ada, para anggota keluarga luas tidak melakukan kegiatan mencari makan. Mereka akan kembali melakukan pengumpulan makanan dan berburu apabila cadangan makanan hampir habis. Orang suku Togutil biasanya mendapatkan makanan langsung dari pohonnya, seperti; buah-buahan dan umbi-umbian.

Cara berburu suku Tugutil adalah berkelompok (semua orang laki-laki dari anggota keluarga luas) dengan menggunakan anjing. Alat-alat berburu yang digunakan adalah tombak, parang dan panah disertai tuba (racun). Dalam usaha menagkap buruan,mereka juga mengenal penggunaan jerat. Orang-orang Togutil mahir membuat jerat dari seutas rotan dan tanaman muda yang lentur melengkung untuk menjerat. Jenis binatang yang diburu adalah babi, rusa, ayam hutan, burung, kuskus, ular, biawak dan kelelawar.

Orang-orang suku Togutil dalam usaha mengumpulkan makanan, melakukan secara berkelompok, misalnya meramu Sagu, atau sendiri-sendiri seperti mengumpul umbi-umbian (Bete, Mangere & Gihuku) dan buah-buahan. Karena mereka berdiam di dekat aliran sungai, maka menangkap ikan juga merupakan mata pencaharian pokok. Seruas bambu disulap jadi panci penanak nasi atau ramuan obat, dan selembar manggar, daun lontar muda dirangkai jadi takir, cangkir alami. Getah damar dari hibum, kenari raksasa sebesar bola tenis, empat kali kenari biasa, bagian kulitnya dipenggal, dibakar, nyalanya seperti lilin penerang malam hari.

Bagi orang-orang suku Togutil, anjing merupakan harta yang paling tinggi. Seorang Togutil tanpa anjing akan lumpuh dalam pekerjaan dan tidak bergairah. Hal ini mungkin karena peranan anjing begitu besar dalam kehidupan seorang Togutil di hutan, baik dalm berburu maupun mencari nafkah. Kemanapun orang suku Togutil pergi, ia akan disertai anjingnya. Karena itulah tidak heran bila seekor anjing dapat menimbulkan permasalahan persengketaan antar perorangan maupun antar kelompok yang berujung pada perang kecil. Masalah bunuh-membunuh, keretakan hubungan antar kerabat dan antar kelompok bisa saja dapat timbul akibat seekor anjing.

Informasi lain tentang suku yang nyaris telanjang (berpakaian cawat) ini amat beragam. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (LP3ES, 1996) menyebutnya sebagai “Suku Togutil” yang tinggal di hutan Dodaga dan Tutuling, Kecamatan Wasile, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Menurut Ensiklopedi ini, populasi orang Togutil saat itu 600 orang. Sumber lain menyebutnya “Oho Ngana Manyawa” yang bermakna orang hutan atau orang rimba yang suka membunuh (menghabisil nyawa) orang asing.

Dalam tulisan Christantiowati di Majalah Intisari Edisi September 2008, halaman 124-130 menulis bahwa Rachma Tri Widuri dari Lembaga Pelestarian Burung Indonesia, dan Atiti Katango, jagawana dari Taman Nasional (TN) Aketajawe, yang mengantar Tim ini ke tepi Sungai Tayawi, dekat Kampung Kumu, hanya 15 menit bermobil dan Desa Bale, mengemukakan bahwa warga Desa Bale, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara berceritera kepada mereka bahwa orang-orang suku Togutil itu dulu warga yang "lari pajak" (tak mau bayar pajak), jadi lari atau diusir Belanda masuk hutan. Mereka bisa ditemui pula di sekitar Desa Tutur, Totodoku, Oboi, Tatam, Lili, Mabulan, dan Baken. Mereka disebut Tobelo Dalam atau Tobelo Hutan, untuk membedakan dari Tobaru, Tobelo Kampung atau yang sudah ke kota.

Suku Togutil yang kita kenal hingga saat ini, suatu saat nanti siapa sangka mungkin hanya tinggal kenangan. Kini populasi suku ini semakin berkurang. Hal ini bisa saja karena kondisi kebiasaan hidup mereka yang tidak teratur yang mengakibatkan jumlah kelahiran tidak sebanding dengan kematian dari anggota suku ini. Hal lain adalah tabiat mereka yang takut melihat manusia lain dan ini menutup kesempatan mereka mendapatkan makanan pada musim sulit sehingga pada akhirnya mempengaruhi perkembangan populasi dan reproduksi genetika mereka. Semoga suku ini tidak mengikuti jejak Suku Moro di Halmahera utara yang hilang misterius (gaib) di abad sebelumnya. Semoga saja “National Geographic Indonesia” berminat melakukan eksplorasi ke tempat ini……!

Satu hal yang paling berharga yang telah ditunjukkan oleh suku Togutil yang kita anggap “kurang” beradab ini telah menjadi pelajaran untuk kita semua, yakni; “Peliharalah alam, lestarikanlah hutan & jangan sekali-kali merusaknya”. Sekali lagi, mereka membuktikan bahwa kita yang merasa diri si "beradab" ini yang harus belajar kearifan dan keramahan dari mereka. Saya yakin anda semua pasti setuju dengan ini…! (@.Busranto Abdullatif Doa)

( Original post by : @ http://www.busranto.blogspot.com & http://www.ternate.wordpress.com )

===================================================================

Resourches :

1. De Ternate Archipel” Serie Q, No.43, Ontleedn aan de memorie van overgave van den toenmaligen Controleur van Tobelo, PJM Baden, van 26 Maret 1929, pag 401-404.
2. Mus J. Huliselan, Masalah Pemukiman Kembali Suku Bangsa Togutil di Kecamatan Wasilei Halmahera Tengah Sebuah Laporan Pejajagan, Universitas Patimura, Ambon, 1980.
3. Majalah Ilmu-Ilmu Sastra - Indonesian Journal of Cultural Studies, Jilid VIII No.2, Edisi Nopember 1979, Penerbit Bharatara.
4. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, (LP3ES, 1996).
5. Diejen-Roemen J. M. v., Uit het land waar St. Franciscus leefde. Over bewoners van Tobelo Boeeng. (Togutil, Lino, Biri-biri). Sejarah Masuknya Agama Kristen di Tobelo-Maluku Utara, 1956. p.13.
6. _________, Woordenlijst Togutil, 1958, p.11.
7. Martodirdjo H. S, Orang Togutil di Halmahera Tengah, 1984, p.53.
8. _________, Organisasi Sosial Orang Togutil di Halmahera Tengah, 1985, p.35.
9. Anthon Ngarbingan, Pohon Sebagai Simbol Kelahiran : Mempertimbangkan Pemahaman Lokal tentang Pohon dalam Upaya Pemulihan Kerusakan Hutan, Lomba YPHL, 2008.
10. Christantiowati, Rachma Tri Widuri dan Atiti Katango dari Lembaga Pelestarian Burung Indonesia, Togutil – Tobelo, Dalam tulisan : Hutan & Sungai Rumah Kami, Majalah Intisari Edisi September 2008, halaman 124-130.
11. John Sharpe & Andrew A. Snelling, Evangelization of the Togutil, March 1994,
12. Djoko Su'ud Sukahar (Pengamat Budaya), Suku Asing & Terasing, detikNews, Edisi Kamis, 21 Agustus 2008.
13. David Purmiasa & Herman Teguh (www.korantempo.com), Suku Togutil Yang Bersahaja, yang dikutip; www.halmaherautara.com, Edisi 03 Maret 2008.
14. B. Soelarto, Sekelumit Monografi Daerah Ternate, Depdikbud, Jakarta.
15. Disbudpar Kab. Haltim (Gambar Poster).

Baca selengkapnya......

Old Ternate Palace & Old Mosque In Ternate

View of Ternate Town

Klik Tampilan Slide