Tradisi Ritual & Prosesi Penangkapan Ikan Bubara Ruo di Sahu/Susupu  

Posted

(By : Busranto Abdullatif Doa)

Sahu adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat, letaknya tidak jauh dari Ternate. Sebelah tara berbatasan dengan kecamatan Ibu, sebelah selatan berbatasan dengan Jailolo, sebelah timur dengan Kao dan sebelah barat dengan laut Maluku. Di Sahu terdapat berbagai macam potensi alam baik laut maupun darat. Diantaranya potensi pariwisata alam seperti Danau Rano (Telaga Rano), Air terjun Goal, Pantai Disa dan Pantai Muara Kali Ake Lamo. Ada satu potensi adat yang penerapannya banyak mengandung makna filosofis dan mistis; ada nilai persaudaraan dan solidaritas antar sesame manusia dan lekat dengan nuansa Bari (artikel sebelumnya).




Nilai persaudaraan dan kekeluargaan terlihat pada saat pembagian hasil tangkapan Ikan Bubara Ruo. Siapapun boleh mengambil ikan hasil tangkapan tersebut secukupya; aplikasi (penerapan) adapt se atorang terlihat jelas pada acara tradisional penangkapan Ikan Bubara Ruo.

Unsur mistis (menjiarahi keramat Bubara Ruo) pada acara tersebut menendakan bahwa masyarakat di kecamatan Sahu (Maluku Utara pada umumnya) sangat yakin akan keterikatan alam fisik dengan alam metafisik yang keduanya tidak bias dipisahkan antara satu sama lain.

Pelaksanaan prosesi adapt ini terbagi atas 3 (tiga) bagian. Pertama; Prosesi mistik, dimana para peserta penangkap ikan Bbara Ruo pergi berjiarah ke keramat (Jere) yang dikenal dengan Keramat Bubara Ruo yan terletak di tempat tersebut. Kedua; Prosesi penangkapan ikan, dan Ketiga; Pembacaan doa syukuran oleh Imam mesjid.

Prosesi Penangkapan Ikan Bubara Ruo

Pada saat bulan di langit memasuki malam ke lima atau ke enam, beberapa orang pergi menjiarahi keramat Bubara Ro yang terletak di bukit Buku Din. Pada saat jiarah di tempat tersebut, jika batu nisan makam banyak terdapat kelompok semut yang sedang berhimpun pada batu nisan, maka itu tandanya Ikan Bubara Ruo di tepian panta banyak dan kalau di batu nisan tidak berhimpun semut merah maka Ikan Bubara Ruo tidak ada.

Sekembalinya dari keramat/makam tersebut dan yakin atas penglihatan fenomena semut yang banyak berhimpun pada batu nisan tadi, maka sekemlabinya ke pemukiman segeralah diumumkan kepada khalayak ramai terutama pemilik jaring dan anggota-anggotanya guna segera membuat persiapan untk menjaring ikan Bubara Ruo pada malam ketujuh sampai malam kesepuluh bulan di langit.

Setelah tiba hari yang dinantikan untuk menjaring ikan, mereka menghubungi seorang warga yang mempunyai kemahiran untuk bertugas memandu para nelayan dalam proses penangkapan ikan (biasanya dilakukan oleh Almarhum Ali Sinen).

Pemandu ini menggunakan pakaian kebesarannya, pada saat dini hari setelah waktu subuh, sudah hadir lebih dahulu di bawah tebing berupa bukit terjal di tepi pantai kecil yang bernama Aru ma Mada yang berjarak sekitar 15 meter dari dari pantai.

Konon ikan Bubara Ruo hanya terdapat di perairan sekitar bukit terjal ini. Bukit terjal Aru ma Mada memiliki sebuah goa dengan panjang ke dalam sekitar 5 meter dan memiliki lingkaran tengah mulut gua selebar 1,5 meter.

Pada pagi hari tepat pada pukul 06.00, para nelayan dengan menggunakan beberapa perahu lengkap dengan jaring telah siap dan berjaga-jaga dengan jarak dari satu perahu ke perahu lainnya kira-kira 40 sampai 60 meter. Pandangann masing-masing juru mudi perahu dan segenap nelayan serta anggota masyarakat tertuju pada sang pemandu ikan.

Bila sang pemandu mulai berdiri dan bergerak laksana melakukan gerakan menari, maka itu menandakan bahwa ikan Bubara Ruo sudah ada. Jika gerakan yang dilakukan oleh sang pemandu itu arahnya tertuju ke tepi pantai, maka itu menandakan ikan Bubara Ruo masih jauh, si pemandu seraya memberi isyarat ke setiap mata yang tertuju padanya agar jangan dulu membuang jaring.

Namun kalau geraka tari sang pemandu mengarah ke darat dan memberika isyarat berupa pengibaran/melambaikan Tulo (topi tradisional) yang dikenakan, itu menandakan ikan Bubara Ruo sudah dekat dan boleh membuang jaring (bahasa daerah setempat; Soma) untuk mengurung ikan.

Setelah ikan Bubara Ruo terkepung dan berada dalam jaring, hampir semua anggota masyarakat secara gotong royong (Bari) memegang dan menarik jaring secara bersama-sama dengan mengikuti aba-aba dari jurumudi (bahasa daerah; Saehu). Semakin dekat lingkaran jaring ke darat akan semakin jelas terlihat banyaknya ikan Bubara Ruo.

Pada kesempatan itulah masyarakat yang menyaksikan prosesi ritual tersebut seluruhnya menyerbu ikan Bubara Ruo yang sudah terkepung dalam jaring itu dan mengambilnya sesuka hati untuk dikumpulkan dalam badan perahu. Kendati adakalanya jaring ikut rusak oleh serbuan massa tersebut.

Ketika ikan Bubara Ruo sudah termuat di perahu, Saehu melihat dan memilih beberap ekor ikan yang diduga merupakan induk dari ikan-ikan yang ditangkapnya. Ada anggapan bahwa kalau ada 5 ekor induk ikan, maka pengikutnyapun berjumlah 500 ekor pula.

Kemudian beberapa induk ikan tersebt dibawa ke rumah imam mesjid dan diletakan di atas piring besar yang disebut Lesa-Lesa. Imam mesjid desa Susupu memmanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa di hadapan ikan yang tergelatak di atas lesa-lesa.

Selesai berdoa, ikan-ikan di atas lesa-lesa itu dibagi; 1 ekor untuk Imam, 1 ekor untuk Kepala Desa dan 1 ekor lainnya untuk Camat/Sangadji. Setelah itu baru terjadi jual beli seluruh ikan-ikan hasil tangkapan hari itu. (kp/Rei)

Baca selengkapnya......

Tradisi "BARI" Dalam Perspektif Budaya  

Posted

OIeh: Udin Hi. Rasyid * )

Prof. Wojowasito dan Poerwadarminta dalam kamus Inggris - Indonesia (1980) mendefinisikan kata “Gotong Royong” yakni bersama-sama merasa senasib sepenanggungan sekaligus merasa ada keterkaitan yang erat sehingga merasa terpanggil dalam melakukan suatu pekerjaan.

Gotong royong dalam bahasa Temate disebuf “Bari". Bari diartikan secara harfiah yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain. serta melibatkan banyak orang dan pekerjaan tersebut dilakukan bersama-sama tanpa mengharapkan upah atau gaji.

Dengan demikian gotong royong yang dilakukan masyarakat Maluku Utara, khsusnya di Ternate adalah gotong royong yang didasarkan pada-keikhlasan manusia membantu manusia lainnya. Dan ini merupakan impiementasi dari falsafah “Co'ou Kaha, Kie se Kolano”, dengan suatu keyakinan bahwa pada hakekatnya mendong manusia dengan ikhlas sama halnya dengan menolong diri sendiri (hubungan antara manusia dengan manusia).

Yang dimaksud dengan "menolong diri sendiri," lebih mengarah pada pemahaman religius bahwa setiap perbuatan manusia pasti mendapat ganjaran dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Perbuatan baik pasti mendapatkan pahala. Begitujuga sebaliknya (hubungan antara Tuhan dengan manusia) hanya kadar ke-ikhasanlah yang menjadi perhitungan Tuhan dalam menilai setiap perbuatan hambanya.

Jadi, Bari dalam konsep budaya Ternate adalah suatu kegiatan kemanusiaan yang didasarkan pada kaikhlasan sebagai pengakuan diri (co'ou) dengan tidak mengharapkan imbaian materi, sebagai wujud dari kesamaan asal (kaha) yang merupakan kehendak kekuasaan (kie) yang sudah ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang paling sempurna.

Di kota-kota besar, budaya gotong royong tidak berkembang seperti yang kita harapkan karena masyarakat yang hidup di daerah perkotaan adalah masyarakat bisnis yang tidak lepas dari persoalan buruh dan upah sehingga kegiatan-kegiatan semacam ini jarang dilakukan orang. Banyak pekerjaan yang dilakukan orang lebih berorientasi pada proyek atau uang (materi), sehingga bagi orang yang tidak memiliki uang, jelas tidak dapat membangun bangunan yang diinginkan seperti rumah atau tempat tinggal yang layak.

Kehidupan kota yang individual sifatnya menunjukan siapa yang kuat memiliki kekuasaan, uang dan pekerjaan dapat hidup layak sementara kaum yang lemah terpaksa hidup di emper-emper toko, Rasa solideritas dan sosialitas tidak berlaku bagi kehidupan kota.
Sebagai contoh, budaya Bari murni yang ada di Ternate saat ini masih terdapat di desa Taduma, kelurahan Aftador (Afe, Taduma dan Doropedu) di kecamatan pulau Ternate. Pada era krisis moneter dan era reformasi yang berjalan beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Taduma telah melakukan pekerjaan yang sangat mulia yaitu mereka saling totong menolong dalam membangun rumah penduduk sudah lebih dari 35 buah semi permanen dan permanen termasuk rumah ibadah atau bangunan sosial seperti rumah guru, yang dibangun secara swadaya mumi masyarakat sejak tahun 1980 yang hingga saat ini masih berdiri tegak. Begitu juga dengan pembangunan Fala Soa (Rumah Adat) di Ave Beach (Pantai Ave) yang berukuran 14 x 9 meter persegi dibanguh masyarakat Aftador dengan biaya lebih kurang Rp, 200.000.000.

Budaya Bari telah berkembang di desa Taduma sejak tahun 1800-an yang diprakarsai oleh nenek moyang masyarakat Taduma dan bahkan pada perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, mereka bergabung dengan pejuang Temate lainnya mengusir penjajahan dari Bumi Moloku Kie Raha.

Bagi masyarakat Taduma, setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan apa saja yang dibangun dalam kerangka mensejahterakan orang lain dalam desa ini adalah sangat mudah, karena budaya "Bari" telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang ingin membangun rumahnya hanya menyiapkan bahan-bahan bangunan dan pada saat pembangunan tersebut dilaksanakan begitu banyak orang datang membantu tanpa dipanggil oleh para pemilik rumah tersebut. "

Tidak ketinggalan ibu-ibu membawa kebutuahan dapur sekaligus menyiapkan minuman ringan dan makanan seadanya. Kalaupun bahan yang disediakan masih kurang (belum cukup) ada sebagaian masyarakat yang memberi secara suka rela guna melengkapi kekurangan tersebut, sehingga sebuah rumah dapat dibangun dalam waktu yang sangat singkat yaitu sekitar 7 (tujuh) hari. Diawali dengan membuat fondasi sampai tutup atap (seng). Masyarakat yang secara suka rela datang membantu tidak mengharapkan upah atau gaji.

Begitu juga dengan kegiatan lain seperfi panen cengkeh, pala, atau yang lainnya. Budaya Bari ini tetap dikembangkan oleh masyarakat sehingga jika ada seorang pendatang menikah dan menetap di desa Taduma, serasa ingin tetap menetap di situ. Taduma dapat juga disebut Indonesia Mini karena pembauran yang hanya melihat pada manusianya terjadi di sini. Dengan kata lain adat se atorang sudah berjalan dan diterapkan di Taduma.

Kita berharap para pejabat negara dari atas sampai di bawah bekeja berorientasi uang sangat sulit untuk memakmurkan rakyat. Kita juga berharap semoga mereka bekerja sesuai makna bahasa "gotong royong" (Bari) yang sebenamya sehingga cita-cita leluhur negeri ini dapat tercapai.

* Penulis adalah pemerhati budaya Ternate, tinggal di desa Taduma Ternate.

Baca selengkapnya......

Arsitektur Tradisional Ternate - Tidore dan Halmahera (Studi Analisa Konstruksi Tradisional)  

Posted

(Oleh : Adhi Mursid)
===================================================================

Indonesia memiliki banyak sekali arsitektur lokal semacam ini, dengan ragamnya yang amat kaya tersebar di seantero kepulauan kita. Berjenis arsitektur lokal di pelbagai daerah di Indonesia ini, jelas merupakan sumber-sumber informasi bagi pengetahuan khususnya tentang bangunan-bangunan dan lingkungan fisik yang khas dari masyarakat pribumi daerah yang bersangkutan.


PENDAHULUAN

Sudah diakui, bahwa dunia kini memiliki satu corak arsitektur. Perwujudannya adalah "Arsitektur Modern" yang disebut pula sebagai Arsitektur "Gaya Internasional". Corak ini merupakan hasil dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 19 dan 20 yang mengakibatkan sebagian kebutuhan dan persyaratan hidup menjadi relatif sama pada masyarakat-masyarakat di dunia.

Pemilikan teknik bangunan, teknologi membangun. bahan bangunan produk industri serta standar pendidikan arsitek/teknisi yang sama, terpakai dan berlaku di mana-mana, yang kemudian memperkuat kecenderungan wajah arsitektur di kota-kota dan kota-kota besar di dunia menjadi senada dan sebahasa. Asal usul gaya ini dan sejarah perkembangannya, sudah lama difikirkan dan ditulis orang, dan kini sudah merupakan pengetahuan tentang sejarah arsitektur dunia.

Di pihak lain, walaupun belum (atau tidak) dimasukkan dalam bagian pengetahuan tentang sejarah arsitektur dunia tersebut di atas, sesungguhnya di bagian-bagian lain di dunia ini masih ada lagi arsitektur dengan corak yang sangat berbeda dengan corak modern. Banyak orang belum pernah tahu, bahkan memang orang belum memberikan nama pada arsitektur jenis ini. Kita boleh menamakannya arsitektur diaiek (vernacular), arsitektur tanpa nama (anonymus), arsitektur pedesaan (rural), arsitektur asli (indigenous), arsitektur alamiah (spontaneous), atau apa pun, tapi yang jelas ia adalah arsitektur lokal, setempat, sangat khas, yang dibangun menurut tradisi budaya masyarakat yang bersangkutan.




Arsitektur-arsitektur lokal ini pada dasarnya berkaitan erat dengan hunian atau tempat tinggal beserta bangunan-bangunan dan struktur pelengkapnya (lumbung, tempat pemujaan, bangunan-bangunan tambahan, dll). Bangunan-bangunan hunian itu didirikan menurut konsep-konsep, nilai-nilai dan norma-norma yang diwariskan nenek moyang mereka. Perwujudan bentuk sebagai hasilnya seperti terlihat saat ini dapat dianggap tidak berbeda jauh dari perwujudan bentuk hasil tradisi yang sama pada masa-masa yang lampau walaupun perubahan-perubahan kecil maupun besar bisa saja terjadi pada masa yang silam.

Dengan demikian, kalau kita mengamati bangunan-bangunan dalam "enclave" arsitektur lokal sekarang ini, yang dianggap oleh para anggota masyarakat setempat sebagai bangunan yang struktur dan bentuknya adalah sesuai dengan tradisi budaya mereka, paling tidak, ia dapat dianggap sebagai perwujudan tradisi mereka yang sama di masa lampau.


Atas dasar anggapan ini, arsitektur lokal seperti yang dimaksud di atas dalam tulisan ini akan disebut sebagai arsitektur tradisional karena pernyataan bentuknya sesuai dengan kaidah-kaidah yang diakui bersama atau masih dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai tradisi yang turun temurun. Kini, apa yang sedang terjadi pada kantong-kantong arsitektur tradisional kita ? Beberapa kasus dapat disebutkan berikut Ini :

— Masyarakat To Lore yang sudah ribuan tahun beranak pinak dan hidup serasi dengan tanah dan- hutan di dataran tinggi Sulawesi Tengah, mungkin akan segera dipindahkan dan dimukimkan kembali ke daerah lain. Hutan dan lembah di lereng Gunung Nokilalaki tempat mereka bermukim ini akan dijadikan cagar alam dan taman nasional "Lore Kalamanta". Tidakkah pemisahan secara drastis semacam ini, akan menimbulkan dekadensi kebudayaan dan punahnya suatu tradisi lama sebelum kita mengenalnya secara mendalam.

— Program "pemukiman kembali" yang teratur dan terarah terhadap masyarakat Badui Luar di Jawa Barat dari daerah asalnya di Kanekes ke Gunung Tunggal merupakan contoh yang sejenis dengan kasus masyarakat To Lore. Cepat atau lambat kemungkinan besar^masyarakat Badui Dalam akan mengalami pula gilirannya.

— Contoh lain adalah program "turun ke tanah" yang dilaksahakan terhadap masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan Timur, yang selain dimukimkan kembali akibat daerah pemukiman asalnya termasuk hutan yang di-"konsesikan" mereka juga diajar untuk tinggal satu keluarga dalam satu rumah, tidak lagi bersama-sama dengan keluarga-keluarga lain semasyarakat.

— Banyak sekali lingkungan dan bangunan tradisional harus dibongkar dan dihancurkan akibat dilaksanakannya rencana pelebaran jalan, atau pembangunan "fasilitas" baru bagi lingkungan (shopping center, perkantoran dll.), baik pada tingkat kota, kecamatan maupun kabupaten.


Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa bangunan-bangunan dan lingkungan tradisional kini berada dalam masa transisi di mana ia sedang mengalami perubahan-perubahan besar yang mengandung unsur kecenderungan untuk punah. Keinginan untuk memperbanyak usaha melakukan pencatatan dan perekaman pengetahuan tentang arsitektur tradisional adalah dalam rangka menyelamatkan pengetahuan ini agar tidak musnah bersamaan dengan musnahnya arsitektur itu sendiri.

Penelitian arsitektur tradisional di Ternate, Halmahera dan sekitarnya yang dipaparkan dalam tulisan ini, merupakan realisasi dari keinginan dan usaha tersebut di atas. Penelitian ini masih merupakan penelitian awal dari serentetan rencana penelitian serupa yang akan dilakukan pada sebanyak mungkin arsitektur tradisional daerah-daerah lain di Indonesia. Penelitian-penelitian awal ini dilaksanakan dalam kerangka "Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia" oleh Jurusan llmu-ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.



PENELITIAN-PENELITIAN AWAL YANG TELAH DILAKSANAKAN

1. Ruang Lingkup.

Penelitian awal ini berusaha merekam arsitektur tradisional sebagaimana ia dibangun dan sebagaimana adanya dari beberapa lokasi di Ternate, Halmahera dan sekitarnya. Pengertian arsitektur, demikian pula arsitektur tradisional sebenarnya luas sekali. la mencakup bagian-bagian yang teraga dan juga yang tidak teraga. la mengandung standar-standar fisik dan simbolik dan ia memiliki pula banyak aspek, baik alamiah maupun manusiawi. Sebagai tahap paling awal penelitian ini membatasi diri pada perekaman kenyataan-kenyataan fisik saja dari bangunan-bangunan yang berkaitan dengan hunian atau tempat hnggal beserta bangunan-bangunan lain sebagai pelengkapnya.


2. Metode Penelitian.

a. Menentukan contoh-contoh yang kiranya mewakili bentuk hunian atau lingkungan suatu wilayah dengan bantuan kepustakaan yang ada serta wawancara di lapangan.

b. Melakukan pengukuran terhadap bangunan secara keseluruhan dan detail-detail bagian-bagian yang dianggap penting dalam arti mengandung telaah yang kaya dan majemuk. Untuk mendapatkan kesan-kesan yang menyeluruh digunakan alat potret sehingga terekam keterangan visual seperti suasana gelap/terang, warna, tekstur, hubungan-hubungan konstruksi dan bentuk-bentuk hiasan yang rumit.


c. Untuk mencatat kemungkinan adanya varian dalam suatu 'penyelesaian arsitektural, adanya bagian-bagian yang pernah diubah atau perubahan-perubahan akibat pengaruh ikiim dan cuaca, dilakukan wawancara dengan orang-orang terpandang yang tahu dalam bidang yang bersangkutan dengan menggunakan pita kaset.

d. Menghubungkan data-data pengukuran dengan keterangan-keterangan hasil wawancara maupun literatur dan menuangkannya dalam bentuk "penggambaran kembali". .

e. Hasil yang diperoleh adalah data-data dalam bentuk gambar-gambar yang terukur dan terskala sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.



3. Hasil-hasil Penelitian Awal

Hasil-hasil penelitian awal ini merupakan arsitektur-arsitektur daerah-daerah Siko dan Facei di Ternate, Dokiri di Tidore, Taraudu (Sahu), Cempaka (Sahu), Katana (Tobelo) dan Galela di Halmahera. Gambar-gambar dan keterangan-keterangan yang diberikan di sini, diambil dan merupakan sebagian kecil dari bahan laporan data.



KESIMPULAN-KESIMPULAN SEMENTARA

Pra-penelitian yang hanya mengamati kenyataan-kenyataan fisik ini sangat dibatasi oleh obyek yang ada, sifat-sifatnya dan jumlah yang berhasil diamati.

Sesungguhnya makin beragam dan majemuk serta makin banyak jumlah obyek yang diamati, akan makin memperhalus hasil yang dapat diperoleh. Pada penelitian awal yang telah dilakukan ini masih dianggap bahwa obyek yang diamati terlampau sedikit sehingga dalam menarik hasil daripadanya peneliti banyak melakukan "rampatan" (generalization). Oleh karena itu hasil-hasil ini perlu dianggap sebagai hasil yang masih bersifat sementara.



Dari hasil rekaman yang sudah dikumpulkan, dapat diambil kesimpulan-kesimpulan sementara yang menunjukkan sifat-sifat umum arsitektur tradisional Halmahera dan sekitarnya, sebagai benkut :

a. Bangunan-bangunan tempat tinggal umumnya konsentris, terdiri dari bagian inti di tengah (bilik dalam) dan bagian-bagian luar yang mengelilingi bagian inti (bilik luar).

b. Bangunan-bangunan ini sebagian berdiri dengan lantai diangkat ±90 -150 cm di atas tanah (Siko, Pacei, Taraudu) dan sebagian lagi berlantai langsung di atas tanah (Dokiri, Katana, Galela). (c) Struktur bangunan adalah s'stem rangka (skeleton) dari kayu, bambu dan kombinasi dari keduanya.



d. Bentuk bangunan adalah geometris, bentuk tetap segi delapan, dengan bagian yang tertinggi berbentuk pelana mengindikasikan bilik dalam sebagai bagian yang terpenting dari rumah.

e. Bahan bangunan yang dipakai adalah bahan bangunan lokal, yang langsung terdapat di daerah itu seperti : kayu untuk rangka rumah; bambu untuk tulangan utama dinding, untuk tulangan dasar dari dinding, untuk bahan dinding/lantai (bambu belah); daun nipah untuk bahan atap, dan untuk dinding (pelepahnya).



f. Tiang-tiang utama rangka rumah dan tulangan dasar dinding berdiri di atas umpak batu.

g. Penyelesaian-penyelesaian detail sambungan konstruksi dan ke-mampuan membuat aneka ragam ornamen cukup unik, menun-jukkan adanya potensi pertukangan yang besar (skilled).

h. Bangunan-bangunan memberikan asosiasi pada bentuk kapal.




KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN PENELITIAN LEBIH LANJUT

Dalam Laporan Pra-penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia, telah disebut kemungkinan-kemungkinan penelitian lebih lanjut, yang jelas berlaku pula bagi kelanjutan penelitian awal terhadap arsitektur tradisional Ternate dan Halmahera. Kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Rekaman-rekaman yang telah diperoleh, merupakan rekaman dari keadaannya pada satu waktu tertentu. Dengan perkataan lain, perekaman ini pada waktu-waktu tertentu di masa yang akan datang perlu dikerjakan lagi secara berkala tapi terus menerus agar dapat menghasilkan rekaman-rekaman yang dapat memperlihatkan po/a perubahannya di kemudian hari. Perekaman terus menerus ini akan dapat memberikan petunjuk akan arah-arah perubahan yang disukai oleh seseorang atau sekelompok masyarakat yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah meneliti perangai seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut, dalam menghadapi setiap bentuk perubahan di tengah-tengah pembangunan ini.



2. Rekaman-rekaman yang telah diperoleh, merupakan rekaman petunjuk-petunjuk untuk menyempurnakan metode penelitian yang dianut sebelumnya. Dengan metode yang disempurnakan ini penelitian-penelitian serupa dapat segera diterapkan pada daerah-daerah lain guna memperkaya jumlah obyek yang diamati sehingga dengan demikian generalisasi yang terpaksa telah di-lakukan pada hasil-hasil penelitian yang sekarang dapat diper-halus.

3. Penelitian ini pun dapat membuka mata ke arah kenyataan akan adanya hubungan timbal balik antara "kepercayaan" (yakni hu-bungan kejiwaan antara manusia dengan alam lingkungannya) dengan pemanfaatan atau pengolahan benda. Hal ini menunjuk kepada gejala-gejala semiologik/semiotika, kaidah-kaidah linguis-tik atau penciptaan simbol-simbol, yang pada gilirannya merupa-kan bagian dari environmental communication. Hasil dari kegiatan ini akan mencakup berbagai bidang keilmuan.

Data lengkapnya tersusun dalam :

· Laporan Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia, Proyek Study Sektoral / Regional
No. 281/PSSR/DPPM/1977.
· Laporan Data Studi Arsitektur Tradisional Aceh, Sumba, Maluku Utara. Pra-Penelitian
Sejarah Arsitektur Indonesia. Jurusan llmu-ilmu Sejarah Indonesia, Fakultas Sastra, Iniversitas Indonesia 1978-1979.

Catatan : Double klik pada gambar untuk melihat ukuran besar...!

Baca selengkapnya......

Old Ternate Palace & Old Mosque In Ternate



View of Ternate Town

Klik Tampilan Slide