Blog ini dibuat dan dipublikasikan atas dasar kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat Ternate dan sekitarnya yang hingga saat ini semakin tenggelam dihempas derasnya arus modernisasi global. Blog ini diposting dalam dua bahasa (Indonesia dan English) secara secara selang-seling....
Ternate is a small island and town in Archipelago of North Molluccas - Indonesia, located beside along the beach west of larger island namely Halmahera. In pre-colonialism period, Ternate is destination port of seaman Ferdinand Magellan at the journey of encircling earth. And the port of Ternate was the target landing of Magellan's flagship 'Trinidad' (the first ship to sail around the world). But Magellan never make it to Ternate because died on the shores of Philippines, however, his firstmate Juan Sebastian del Cano made it to Ternate and return to Spain, stated as the first man along with 18 crew to make journey around the world.

Ternate has the oldest Clove tree in world and it is still standing today, located in mountainside of this island. All clove seed in the world are originated from this one tree and it is about 370 years old. As history recorded, that the Portugese and Spain along with British and Dutch are searching for the clove seeds. (explore the earth and look for the original spice area).

Today, Ternate island is the Capital town of North Maluku province. There is an active strato volcano named Gamalama (=Big Country), two lakes, an old Sultan's palace, many castil of cololonialism and there are a lot of stories about the history and culture of Ternate people.

Situs ini khusus mengulas tentang tradisi, budaya, adat, kesenian dan sejarah orang Ternate dan tempat-tempat lain di Maluku Utara

Jumat, 20 Maret 2009

“THE HIDDEN HISTORY OF JAILOLO”, ( Menelusuri Jejak-Jejak Kesultanan Jailolo)

Narasi : Busranto Abdullatif
Sumber Foto : Koleksi Pribadi
===================================================================

Suatu hal yang jarang dilakukan oleh para pemerhati sejarah dan budaya “Moloku Kie Raha” (Maluku Utara) adalah membahas tentang Kesultanan Jailolo di pulau Halmahera yang telah lama vacum. Hal ini disebabkan minimnya sumber dan referensi yang menunjang pembahasan tentang hal itu. Dalam penulisan sejarah oleh bangsa Eropa, Jailolo sering ditulis “Gilolo” yang menurut sebagian besar sumber barat dianggap sebagai cikal-bakal kerajaan-kerajaan berikutnya di kawasan Maluku bagian utara, (kerajaan pertama dan tertua di jazirah maluku).

Menelusuri dan membahas jejak sejarah kesultanan Jailolo, menjadi lebih menarik akhir-akhir ini, setelah dinobatkannya Srd. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah menjadi Sultan Jailolo yang dilakukan di dalam keraton kesultanan Ternate atas prakarsa Sri Sultan Ternate ; H. Mudafar Syah II pada beberapa tahun yang lalu. Yang lebih menarik lagi dari itu adalah menelusuri keturunan dan sisilah para raja Jailolo itu sendiri.

Sekedar info, bahwa beberapa peneliti sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti ; Donald P. Tick gRMK (di Belanda), Christoper Buyers dan Hans Hagerdal hingga saat ini pun belum bisa membuat suatu tulisan atau buku yang membahas tentang jejak sejarah dan sisilah raja-raja Jailolo secara utuh dan mendetail. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sumber dan referensi penunjang dalam merekonstruksi kembali fakta sejarah perjalanan kesultanan Jailolo. Sejauh ini, baru terdapat ahli sejarah ternama dari Universitas Indonesia Prof. DR. Richard Z. Leiriza yang sudah pernah membuat beberapa karya tulis tentang sejarah Raja Jailolo dalam meraih gelar Ph.D tahun 1990 dengan Dissertasi berjudul “Raja Jailolo dan Halmahera Timur: Pergolakan di Laut Seram di awal abad ke-19" (The King of Jailolo and Eastern Halmahera: Social upheavals in the Seram Sea during the early 19th century). Kemudian dipublikasikan oleh Balai Pustaka, tahun 1994.

Buku ini membahas secara detail tentang sepak terjang raja Jailolo yang berkuasa di Halmahera timur dan pulau Seram di Maluku Tengah. (yang menurut periodesasi versi saya adalah periode Kesultanan Jailolo Tahap II dan III saja). Karena yang dibahas oleh beliau adalah “hanya” kejadian atau tempos antara tahun 1811 hingga 1832 saja yang menjadi heavy-nya. Sedangkan kronologis perjalanan sejarah kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano Daradjati” hingga saat ini, belum ada satupun ahli sejarah yang mengungkapkan “the hidden history” tersebut. Namun demikian, karya besar Prof. DR. Richard Z. Leiriza tersebut merupakan sebuah hasil kajian yang spektakuler yang belum pernah ditulis oleh siapapun tentang kronologis secara detail pada periode tersebut.

Memang sumber dan referensi sejarah tentang kesultanan Jailolo sangat minim sekali. Namun dermikian dari ratusan ribu penduduk Maluku Utara yang hidup saat ini, ternyata masih ada yang masih menyimpan dokumen salinan sisilah raja-raja Jailolo, yang ditulis pada selembar “old manuscript”. Sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya diuraikan seperti “pohon terbalik”, satu lembar lagi adalah salinan ulang dalam aksara latin, sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan tentang sisilah tersebut.

Kedua lembar bersejarah ini ditulis dalam aksara Arab dengan tulisan tangan bertanggal 4 Rabbiul awal 1277 H, yang bertepatan dengan hari Rabu tanggal 19 September 1860 yang ditulis oleh Sekretaris kesultanan (Tidore) yang biasa disebut “Jurutulis Lamo” waktu itu dijabat oleh Hasan ud-din. Keterangan ini dilengkapi dan disahkan dengan bubuhan “tanda cap asli” kesultanan Tidore. Original paper-nya, saat ini ada di tangan salah satu warga kota Ternate yang masih keturunan ke-12 Sultan Doa seraya meminta dirahasiakan identitasnya. Sedangkan salinannya selain saya dapatkan untuk koleksi perpustakaan pribadi saya, juga masih terdapat pada mereka (keturunan Sultan Doa) yang tersebar di beberapa tempat di pulau Tidore (; Soasio-Sambelo, Toloa dan Mareku).

Sebelum Srd. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah dinobatkan menjadi Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di mana-mana (Tidore, Ternate, Moti, Makian dan di Ambon sesuai daftar sisilah tersebut), mereka seakan telah menutup diri untuk memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah bagian dari masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah dinobatkannya Abdullah Syah bin Abdul Haryanto menjadi “symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu.

Kembali pada pembahasan. Dokumen tentang sisilah raja-raja Jailolo ini dalam
historiografi tentang kesejarahan Jailolo adalah sebuah dokumen langka yang sangat dibutuhkan dalam untuk dijadikan salah satu referensi (sumber) dalam studi kajian tentang hal ini. Hampir semua sumber-sumber tentang sejarah yang berghubungan dengan Jailolo yang ada di Leiden Museum Belanda, Museum Swedia, Museum di Inggris, dan dokumen Oxford University dan dokumen digital milik Smithsonian Institute USA, tidak diketemukan dokumen seperti ini.

Sebagai pemerhati budaya, tradisi dan sejarah Maluku Utara, saya sangat berminat untuk studi kajian tentang hal ini. Upaya untuk merekontruksi kembali fakta sejarah tentang perjalanan sejarfah kesultanan Jailolo terus saya lakukan dengan menghimpun berbagai sumber tertulis baik di dalam negeri maupun sumber asing. Aspek subjektifitas yang mungkin masih ada pada masing-masing penulis termasuk saya saat ini dalam menyajikan artikel ini ke blog, diupayakan untuk diminimalisir sebisa mungkin, agar mencapai sebuah hasil kajian historiografi yang lebih objektif.

Hingga saat ini masih sering kontak dan sharing dengan dua orang peneliti sejarah kerajaan2 di Indonesia seperti yang sudah saya sebutkan di atas, yaitu : Donal P. Tick gRMK dan Christoper Buyers termasuk Hans Hagerdal (sila
kan searching nama-nama ini di Google Search). Mereka banyak menulis tentang seputar kerajaan di Indonesia termasuk kerajaan Jailolo di Maluku Utara. Para ahli sejarah ini tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang sisilah raja-raja Jailolo ini, termasuk keinginan mereka untuk meneliti sisilah dari Sultan Abdullah Syah, yang diyakini adalah salah satu dari keturunan dari Prins Gugu Alam hingga Muhammad Asgar dan Hay ud-din yang dibuang ke Cianjur oleh Belanda pada tahun 1832. Untuk kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, baru kesultanan Ternate yang sudah dipublikasikan melalui website “Ternate - Brief History ”, sedangkan untuk kasulrtanan Tidore, Jailolo dan Bacan belum ada.

Setelah sekian banyak komunikasi & sharing dengan kedua peneliti sejarah ini, saya mencocokan data ahli sejarah tersebut di atas dengan salinan “old manuscript” tersebut (lihat gambar), maka terdapat banyak kesamaan. Dengan demikian menurut saya, untuk sementara ini saya menyimpulkan bahwa; Muhammad Arif Billa (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam) adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alia
s Muhammad Arif Billa – Ada beberapa kemiripan nama dalam sisilah ini, namun pada jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Printah. Mereka bertiga adalah anak dari Sultan Yusuf, Sultan Jailolo yang ke-5 yang menjadi Sultan Jailolo di tanah Jailolo sekitar tahun 1500-an.

Menurut sumber ini, Muhamad Arif Billa memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif Billa yakni Syah Yusuf (bukan Sultan Yusuf) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di desa Tahane. Muhammad Arif Billa sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Billa adalah seorang panglima yang handal.

Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I, tidak semua orang di pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo, lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini (sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera belakang termasuk juga juga di pulau Seram.

Wilayah kesultanan Jailolo sudah dilebur menjadi wilayah Ternate sejak tahun 1635, sedangkan pada masa kekuasaan Sultan Nuku, bekas wilayah kesultanan Jailolo masuk dalam kekuasaan kesultanan Tidore. Muhammad Arif Bila wafat di daerah Weda pada tahun 1807 karena kecelakaan.


Putera tertuanya Muhammad Asgar diangkat oleh pengikutnya di Halmahera timur menjadi Sultan Jailolo II, pada periode ke-2 ini. Kronologis sejarah kesultanan Jailolo Periode I (pertama) berawal dari Kolano Daradjat dan berakhir pada masa Sultan Doa saja. (Keturunan Sultan Doa masih tercatat jelas dalam sisilah keturunan ini yang tersebar di Maluku Utara, diantaranya\; pulau Tidore – paling banyak, pulau Moti, pulau Makian, pulau Ternate, dsb). Hal ini juga menjadi perhatian kedua peneliti tersebut untuk melakukan penelitiannya nanti di masa yang akan datang.

Pada tahun 1810 Muhamad Asgar ditangkap oleh penguasa Inggris karena Inggris yang sedang berkuasa saat itu tidak mengakuinya sebagai Sultan
Jailolo. Kemudian pada tahun 1817 Muhammad Asgar diasingkan ke Semarang dan bermukim jauh dari keramaian kota Semarang yakni di sekitar antara daerah Semarang dan Jepara.

Tahun 1825 setelah Belanda kembali berkuasa setelah Inggris, ia dikembalikan lagi ke Maluku Utara dan diangkat oleh penguasa Belanda seperti sebelumnya sebagai Sultan Jailolo dalam pengasingan namun berkedudukan di pulau
Seram Maluku Tengah. Adik Muhammad Asgar yakni Kaicil Haji beserta pengikutnya menyusul ke pulau Seram dan akhirnya diangkat Belanda menjadi Sultan Jailolo III dengan nama kebesaran; Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah.

Karena perselisihan dengan pihak Belanda, akhirnya Sultan Jailolo III ini bersama dengan Jogugu Jamaluddin, Kapita laut Kamadian beserta seluruh keluarga berjumlah 60 orang diasingkan Belanda ke Batavia kemudian ke Cianjur. Beliau wafat pada tahun 1839 di Cianjur Jawa Barat. Akhirnya eksistensi kesultanan Jailolo Tahap III inipun berakhir. Dan Maloku Kie Raha tinggal hanya 3 kesultanan saja, yaitu Ternate, Tidore dan Bacan.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa menurut asumsi saya, kemungkinan dari keturunan inilah, penelusuran dilakukan oleh Sri Sultan Ternate saat ini untuk memilih Abdullah Syah dan mengangkatnya menjadi Sultan Jailolo sekarang, adalah berasal dari keturunan di Cianjur ini. Untuk hal ini saya belum sempat melakukan wawancara dengan Sultan Ternate. Selain itu, penunjukan Sultan Jailolo ini juga dilakukan dengan ritual khusus oleh Sultan Mudafar Syah II dan memakan waktu yang cukup lama. (biasanya orang Ternate menyebut Sultan Jailolo dengan sebutanJOU TIA”).

Hal ini tergambar dalam syair lagu yang berjudul “JOU TIA” hasil karya Sultan H. Mudaffar Syah yang dinyanyikan oleh "EL-EL” Vocal Group pada era tahun 1980-an, yang syairnya berbunyi ; ..........................

Upaya untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap IV, pernah dilakukan oleh Dano Baba Hasan pada tahun 1876. Ia meminta pemerintah Belanda mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Menurut beberapa penulis, Dano Baba Hasan adalah kerabat keraton Ternate yang pada tahun 1832 diangkat oleh Sultan Ternate Muhammad Zain menjadi Salahakan (Utusan Sultan) di pulau Seram. Tanggal 21 Juni, Dano Baba Hasan mengakhiri usahanya dan menyerahkan diri kepada Residen Tobias, dan dideportasi ke Ternate dan akhirnya diasingkan ke Muntok di Sumatera. Menurut sisilah tersebut, Dano Baba Hasan adalah cucu dari Abdul Gani, saudara bungsu dari Muhamad Asgar dan Muhamad Hayuddin yang dibuang ke Cianjur tersebut.

Setelah periode untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap IV gagal, Upaya untuk itu dimulai lagi yakni pada periode V dilakukan oleh Dano Jae ud-din di Weda dan Waigeo di Halmahera Timur pada tahun 1914. Seorang Dano dari Ambon yang masih keturunan Dano Baba Hasan mengklaim dirinya sebagai ahli waris, memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Jailolo pada periode Tahap V ini. Ia kemudian ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ternate hingga akhir hayatnya. Demikian berakhir pula usaha untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap V juga gagal.

Perlu digaris-bawahi, bahwa semua upaya untuk menghidupkan kembali eksistensi kesultanan Jailolo dan berkuasanya para Sultan Jailolo pada periode II, III, IV dan V, sama sekali bukan berkedudukan di wilayah kesultanan Jailolo yang sebenarnya (Tagalaya), melainkan di tempat pengasingan di luar wilayah kultur kesultanan Jailolo itu sendiri.

Upaya terakhir untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap VI, maka Sri Sultan Ternate H. Mudafar Syah II mengambil prakarsa untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo yang telah hilang selama ratusan tahun. Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya Maluku Utara sebagai symbol pemersatu bangsa dalam wadah NKRI dan juga dalam rangka untuk melengkapi empat pilar persekutuan kerajaan-kerajaan di “Maloku Kie Raha” yang hanya tinggal tiga, yakni; Ternate, Tidore dan Bacan. Dengan menunjuk Srd. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah yang diyakini oleh beliau menurut penelusuran beliau adalah keturunan Muhammad Asgar dan Kaicil Haji (Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah) yang dibuang oleh Belanda ke Cianjur Jawa barat. Sebab semua masyarakat di Maluku Utara tahu kalau cuma ada tiga pilar/kesultanan saja, itu bukan berarti Maloku Kie Raha lagi, akan tetapi Maloku Kie Ra’ange. (Admin; Raha=empat, Ra’ange=tiga).

Demikian beberapa sharing saya melalui email dengan kedua penulis asing tersebut. Pada kesempatan terakhir via e-mail, Donal P. Tick gRMK, meminta kapada saya gambar/foto diri dari Dano Jae ud-din jikalau ada dokumen tentang itu. Tapi saya rasa sulit untuk mendapatkan gambar tentang Dano Jae ud-din yang mereka maksud. Beliau tertarik untuk meneliti pula tentang keturunan dari Dano Jae ud-din ini, kata Donal P. Tick gRMK :

Interesting about the descendant of Dano Baba Hasan with name Dano Jae ud-din, who was regarded as dynastychief / heir in 1914. Do you know more about him ? A picture of him would be fascinating. I also would like to know, if the present Sultan is taken very seriously. Some say he is only a creation of Sultan Ternate”. Thank you for all. If you want, you can add some info under the picture of Sultan Jailolo on my website at : http://kerajaan-indonesia.blogspot.com/

Namun sayangnya, pada event SOUTH EAST ASIA ROYAL FESTIVAL di Bali pada tanggal 25-30 November 2008 yang lalu Donal P. Tick gRMK tidak sempat hadir karena ada mega proyek yang tidak boleh ditinggalkan di Belanda, sehingga rencana kami untuk bertemu muka juga tidak terlaksana. Hal ini sehubungan dengan minat kedua peneliti ini untuk mengungkap apa yang mereka sebut ”The Hidden History of Jailolo” .

Resourch :

1. Forrest, Thomas. 1780 (1779) A Voyage to New Guinea and the Moluccas, from Blambangan ; Including an Account of Mangindanao, Sooloo, and Other islands; and Illustrated with Thirty Copperplates. Performed in the Tartar Galley, Belonging to the Honourable East India Company, During the years 1774, 1775 and 1776. 2nd Edition. J. Donaldson, G. Robinson and J. Bell.

2. Royal Ark Website, by ; Christoper Buyers

3. Old Manusscript, Personal Document from the descendant of Sultan Doa at Ternate Island.

4. Contribution and some descriptions from Mr. DP Tick gRMK, based on the source from the list of the genealogy Jailolo Sultanate, the collection Coolhaas in the Nationaal Archief in Den Haag / the Netherlands.
Source of information is almost the same as the list of genealogy of the descendants it Ternate island today. (see it on the picture).

=Sumber tambahan adalah dari kontribusi dan beberapa penjelasan dari Bapak D.P. Tick gRMK, di Hoillad Belanda berdasarkan sumber dari daftar yang silsilah Kesultanan Jailolo, koleksi Coolhaas dalam Nationaal Archief di Den Haag / Belanda. Sumber informasi tersebut hampir sama dengan daftar silsilah dari keturunan Sultan Doa yang ada di pulau Ternat. (lihat pada gambar).

==================================================================
Bahasan tentang hal ini belum pernah dipublikasikan & dibahas oleh siapapun sebelumnya, dan hanya ada di blog ini……

Pernyataan di atas adalah bentuk “klaim” atas “inspiration value” dari penulis artikel. Tidak dilarang “mengutip” semua isi artikel ini…..! Semoga tulisan ini menjadi pemicu kepada semua kalangan yang ingin melakukan “Penelitian” lanjutan di masa yang akan datang. Ditunggu tanggapan-tanggapannya, baik “negatif” maupun “konstruktif”, silakan masukan di bawah artikel ini….. Terima kasih…..!

Cibubur, 20 Maret 2009.

2 Comment:

Pahlawan Bertopeng 212 mengatakan...

salam

very nice to know this Jailolo's history...as far as i know tht Jailolo and other Maluku kingdoms were part of Turkey Othmani Empire in the past.

Dutch colonial occupied us then made us separate from Turkey Othmani influences.

Thts all

www.pahlawanbertopeng212.blogspot.com

ngova tuada mengatakan...

suatu kajian historis yang dapat dijadikan refrensi dalam mengenal budaya jailolo.khususnya bagi putra jailolo sendiri

Poskan Komentar

Silakan isi komentar anda terhadap artikel pada topik ini....

Mengenal tradisi & budaya itu penting bila ingin memahami masyarakatnya

View of Ternate Town

Ternate Town From Plane

Babullah Airport Ternate

Ternate Town From Gamalama Mountain

Old Ternate Palace & Old Mosque In Ternate

Ternate King's & The Tradition Royal In Old Picture