Blog ini dibuat dan dipublikasikan atas dasar kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat Ternate dan sekitarnya yang hingga saat ini semakin tenggelam dihempas derasnya arus modernisasi global. Blog ini diposting dalam dua bahasa (Indonesia dan English) secara secara selang-seling....
Ternate is a small island and town in Archipelago of North Molluccas - Indonesia, located beside along the beach west of larger island namely Halmahera. In pre-colonialism period, Ternate is destination port of seaman Ferdinand Magellan at the journey of encircling earth. And the port of Ternate was the target landing of Magellan's flagship 'Trinidad' (the first ship to sail around the world). But Magellan never make it to Ternate because died on the shores of Philippines, however, his firstmate Juan Sebastian del Cano made it to Ternate and return to Spain, stated as the first man along with 18 crew to make journey around the world.

Ternate has the oldest Clove tree in world and it is still standing today, located in mountainside of this island. All clove seed in the world are originated from this one tree and it is about 370 years old. As history recorded, that the Portugese and Spain along with British and Dutch are searching for the clove seeds. (explore the earth and look for the original spice area).

Today, Ternate island is the Capital town of North Maluku province. There is an active strato volcano named Gamalama (=Big Country), two lakes, an old Sultan's palace, many castil of cololonialism and there are a lot of stories about the history and culture of Ternate people.

Situs ini khusus mengulas tentang tradisi, budaya, adat, kesenian dan sejarah orang Ternate dan tempat-tempat lain di Maluku Utara

Kamis, 17 Januari 2008

Stratifikasi Sosial Masyarakat Adat di Ternate

Oleh : Busranto Abdullatif Doa

Dahulu, masyarakat Ternate terbagi dalam Strata Sosial yang masih bersifat tradisional dan cenderung ke arah monarkis. Meskipun penggolongan masyarakat tidak setajam serperti adanya kasta-kasta dalam struktur Sosial-Feodal, namun terdapat penggolongan yang bertolak atas dasar keturunan. Dengan demikian pembagian masyarakat tradisional di Ternate tidak bersifat fungsional. Adapun stratifikasi sosial masyarakat adat di Ternate terbagi atas :

1. Golongan JOU.

Yaitu Golongan Istana, yang terdiri dari Sultan dan keluarganya, sampai tiga turunan satu garis lurus langsung. Sebutan terhadap kedua golongan ini, misalnya ; Jou Kolano (Yang Mulia Sultan) dengan nama kebesaran ; Paduka Sri Sultan Said ul-Biladi Siraj ul-Mulki Amir ud-dini Maulana as-Sultan (……nama sultan……). Sedangkan sebutan untuk permaisuri Sultan : Jo-Boki, (singkatan dari kata Jou ma-Boki), Sebutan untuk anak putra Sultan : Kaicili Putra, dan Boki Putri (Putri Sultan).

2. Golongan DANO.

Yaitu Golongan Keluarga Cucu Sultan dan anak-anak yang dilahirkan dari putri sultan dengan orang dari luar lingkungan istana/masyarakat biasa, juga termasuk keturunan dari kakak maupun adik kandung sang Sultan.

3. Golongan BALA.

Golongan ini sering disebut dengan (Bala Kusu se-Kano-Kano), yaitu mereka yang berada di luar kedua golongan di atas, (rakyat biasa).

Untuk membedakan antara ketiga golongan tersebut, secara nyata dalam keseharian masyarakat adat di Ternate bisa dilihat dari penutup kepala yang digunakan pada pelaksanaan acara-acara adat baik seremonial maupun ritual.

Penutup kepala berwarna putih hanya dipakai oleh Golongan Jou (Tuala Bubudo)


Keraton Kesultanan Ternate, tempat tinggal Golongan Jou


Penutup kepala pejabat kesultanan (Kapita/Fanyira)

Penutup kepala khas Golongan Bala/Rakyat (Tuala Kuraci)


Dengan adanya Golongan Jou dan Dano, bukanlah berarti bahwa jabatan-jabatan tinggi dalam Struktur Dewan Adat baik dalam bidang urusan duniawi/sosial (Bobato Dunia) maupun urusan keagamaan (Bobato Akhirat) tertutup bagi golongan rakyat. Sebagai contoh; kepala adat dan rumah-tangga istana biasanya dijabat oleh golongan rakyat.

Disamping pembagian struktur kehidupan sosial tersebut di atas, masih ada lagi pembagian kelompok kekerabatan besar yang membagi seluruh masyarakat Ternate atas 41 kelompok kekerabatan berdasarkan wilayah, yaitu :

1. SOA SIO, Yaitu komunitas atau kelompok kekerabatan besar yang terbagi lagi dalam beberapa Soa/Marga. Soa Sio terdiri dari 9 kelompok Soa/Marga yang berada di di wilayah pusat Kesultanan).

2. SANGAJI, Yaitu komunitas atau kelompok kekerabatan pada beberapa distrik di negeri seberang/di luar pulau Ternate.

3. HEKU, Yaitu komunitas atau kelompok kekerabatan masyarakat Ternate yang wilayahnya mulai dari Ake Santosa (sekarang Kelurahan Salero) ke arah utara hingga ke pulau Hiri termasuk Halmahera muka).

4. CIM, Yaitu kelompok kekerabatan atau komunitas masyarakat Ternate yang wilayahnya dari Ake Santosa ke salatan hingga mencapai batas desa Kalumata.



Seiring dengan perkembangan jaman hingga saat ini, eksistensi dari penggolongan stratifikasi sosial dalam masyarakat Ternate seperti diuraikan penulis di atas, dari waktu ke waktu kian memudar. Fenomena ini terjadi karena tuntutan jaman yang mau tidak mau menggiring pandangan masyarakat Ternate modern ke arah persamaan hak dan derajat. Seperti halnya daerah lain di Nusantara yang nota bene bekas suatu kerajaan/kesultanan, masyarakat Ternate modern juga berpandangan bahwa status sosial seseorang bukan lagi ditentukan oleh faktor Genealogis, malainkan dari aspek SDM-nya.

Namun demikian, Stratifikasi Sosial Tradisional Ternate masih tetap eksis di kalangan tertentu (khususnya masyarakat adat) yang hingga saat ini masih tetap setia dengan kebesaran dan kejayaan kesultanan Ternate pada masa lampau.

Pembagian kelompok kekerabatan murni yang terdiri dari 41 kelompok kekerabatan seperti yang diuraikan penulis di atas, hingga saat ini masih dipertahankan oleh sebagian kalangan dan dalam bentuk kesatuan masyarakat (eksistensi nama sebuah Desa maupun nama Klan/Marga). Saat ini masih banyak yang menggunakannya embel-embel nama marga di belakang nama orang.

Indonesia memang sangat kaya dengan tradisi, adat dan budaya yang didalamnya masih terdapat nilai positifnya. Kearifan lokal yang diwariskan oleh pendahulu negeri ini bisa dipetik untuk mengambil kebijakan yang lebih bijaksana untuk masa yang akan datang. (www.busranto.blogspot.com - diolah dari berbagai sumber)

2 Comment:

Anonim mengatakan...

blognya asyik, gambarnya asyik, lam kenal dari palu...

Iklan Baris Gratis mengatakan...

Terima kasih ya informasinya

Poskan Komentar

Silakan isi komentar anda terhadap artikel pada topik ini....

Mengenal tradisi & budaya itu penting bila ingin memahami masyarakatnya

View of Ternate Town

Ternate Town From Plane

Babullah Airport Ternate

Ternate Town From Gamalama Mountain

Old Ternate Palace & Old Mosque In Ternate

Ternate King's & The Tradition Royal In Old Picture