A. FILOSOFI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Menurut pandangan orang Ternate tempo dulu, awal mula kehidupan dimulai dari dua sosok manusia, yaitu laki-laki dan perempuan, yang terhimpun dalam sebuah rumah tangga dan membuahkan keluarga lalu meningkat pada keluarga besar yang disebut “Marga” dan berlanjut ke “Suku” dan lebih besar lagi adalah berwujud sebuah ”Bangsa”.
Dari kedua orang laki-laki dan perempuan inilah lahirnya sebuah masyarakat, maka dalam pandangan orang Ternate, sosok laki-laki dan perempuan yang sangat utama itu merupakan awal dari suatu kehidupan sehingga laki-laki dan perempuan tersebut menjadi perlambang utama dalam pandangan masyarakat adat di Ternate.
Menurut legenda setempat, awal mula terbentuknya kesatuan masyarakat di Ternate oleh dua kelompok marga, yaitu ; “Tobona” dan “Tabanga”. Tobona merupakan akumulasi dari keberadaan dua klan yaitu Tubo dan Tabanga itu sendiri, sedangkan Tabanga merupakan akumulasi dari keberadaan klan Toboleu dan Tabanga itu sendiri. Marga Tobona disebut dengan nama “Cim” (perempuan), sedangkan marga Tabanga disebut dengan nama “Heku” (laki-laki).
Kedua marga ini kemudian berkembang menjadi lebih besar dan serta-merta melahirkan dan beranak pinak kemudian terbentuk kesatuan masyarakat yang luas dengan penguasa berbentuk kerajaan atau dalam bahasa setempat disebut “Buldan”. Maka sebagai pertanda untuk itu, lambang kerajaan Ternate berupa burung elang yang berkepala dua, yang dikenal dengan “Goheba ma-Dopolo Romdidi”.
Burung elang darat, yang dalam bahasa Ternate disebut “Wuru” ialah lambang untuk kelompok Cim (perempuan) sedangkan burung elang laut, yang dalam bahasa Ternate disebut “Goheba sering juga dilafalkan Kuheba” ialah lambang untuk kelompok Heku (laki-laki). Heku dan Cim terpancang dengan lambang burung elang yang berkepala dua yang dipakai sebagai “Lambang Kerajaan”. Lambang yang mengandung makna filosofis ini dituangkan dalam berbagai sarana kehidupan adat, yang menggunakan makna laki-laki dan perempuan.
Sebagai contoh nyata yang masih ada hingga saat ini, yang dituangkan dalam sarana kehidupan adat dengan menggunakan makna laki-laki dan perempuan adalah ;
1. Dalam membangun sebuah rumah, akan terdapat dua balok panjang bagian atas rumah yang disebut “Dalul se Hate Gila” yaitu kayu laki-laki dan kayu perempuan.
2. Pada setiap perahu yang menggunakan layar, akan terdapat dua buah tali penahan layar yang disebut “Gumi Nonau se Buheka” yaitu tali laki-laki dan tali perempuan. Gumi Nonau adalah tali penahan layar bagian atas dengan kedudukannya terikat dan tetap pada tempatnya sedangkan Gumi Buheka adalah tali penahan layar bagi bawah yang tidak terikat dan hanya dipegang untuk menjaga keseimbangan layar bila ditiup angin.
3. Pada suguhan makanan adat :
4. Suguhan Sirih dan Pinang dalam acara peminangan, sirih perlambang laki-laki dan pinang perlambang perempuan. Saat peminangan, bila terjadi kesepakatan kedua belah pihak maka suguhan sirih dan pinang diterima dengan cara mengunyah dengan kapur putih sehingga sari kunyahan menjadi merah. Warna ini mengandung makna bahwa si laki-laki dan si perempuan menyatu dalam sebuah rumah tangga yang diawali dengan tanda sebuah “kegadisan” pada malam pengantin.
5. Pada ungkapan dari salah satu bentuk sastra lisan Ternate, yakni “Bubaso se Rasai”. Bubaso berarti ungkapan perasaan laki-laki sedangkan Rasai merupakan ungkapan perasaan perempuan.
B. FALSAFAH ADAT ORANG TERNATE (7 Nilai Dasar)
Tata kehidupan dengan aturan lisan yang mengikat komunitas orang Ternate dalam konteks “Masyarakat Adat” bersumber dari Tujuh Nilai Dasar Falsafah Adat yang berlaku. Falsafah adat ini merupakan warisan nenek moyang. Tujuh Nilai Dasar Falsafah Adat Ternate ini merupakan implementasi dari akar budaya asli orang Ternate itu sendiri, yaitu; “Adat Matoto Agama, Majojoko Toma Kitabullah se Sunnah Rasul”. (Adat bersendikan agama, Agama bersumber dari Kitabullqh dan Sunnah Rasullulah, dia atas Rasulullah”.
Tujuh Nilai Dasar Falsafah Adat orang Ternate adalah merupakan warisan dari para leluhur yang dalam bahasa daerah Ternate disebut “Kie se Gam Magogugu Matiti Tomdi”, terdiri dari :
1. ADAT SE ATORANG
Hukum dasar yang yang disusun dan disepakati bersama berdasarkan ajaran hakiki harus dipatuhi dan dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Artinya adat yang bersendikan aturan itu merupakan Aturan bersumber dari Kitabulah dan Sunnah Rasul yang disesuaikan dengan kebiasaan keseharian.
2. ISTIADAT SE KABASARANG
Lembaga adat yang dalam hal ini Kesultanan dengan kekuasaannya menurut ketentuan adat yang berlaku menurut adat seatorang diatas harus dijunjung tinggi sebagaimana menjaga martabat orang Ternate.
3. GALIB SE LIKUDI
Kebiasan lama yang menjadi pegangan dasar, diatur menurut sendi ketentuan yang dilazimkan dalam masyarakat dan disesuaikan dengan jaman tanpa ada pertentangan. Namun jika ada pertentangan maka akan dilakukan perbaikan dengan tetap berpijak pada Adat se Atorang.
4. CING SE CINGARE
Ketentuan pengaturan tentang gender, yakni perempuan dan lelakinya. Artinya setiap individu maupun pasangan pria dan wanita merupakan kesatuan yang utuh dengan hak dan kewajiban masing-masing perlu dibina dan dijaga kelestariannya karena orang Ternate selalu memaknai filosofi laki-laki dan perempuan seperti yang dijelaskan di atas.
5. NGALE SE CARA/DUKU
Bentuk budaya masing-masing suku bangsa dapat digunakan secara bersama-sama dalam keberagaman sesuai dengan keinginan untuk mempertahankan keutuhan dalam perbedaan. (Bhineka Tunghal Ika)
6. SERE SE DUNIRU
Tata kehidupan seni dan budaya dan kebiasaan yang timbul dalam pergaulan masyarakat diterima secara bersama-sama.
7. BOBASO SE RASAI.
………Bersambung………..
Baca selengkapnya......
(By : Busranto Abdullatif Doa)
Perkawinan Adat ialah suatu bentuk kebiasaan yang telah dilazimkan dalam suatu masyarakat tertentu yang mengatur masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu perkawinan baik secara seremonial maupun ritual menurut Hukum Adat setempat.
Perkawinan Adat di Ternate mengenal beberapa bentuk yang sejak dahulu sudah dilazimkan dalam masyarakat dan telah berlangsung selama berabad-abad hingga saat ini. Bentuk-bentuk perkawinan tersebut adalah :
1. LAHI SE TAFO atau WOSA LAHI (=Meminang/Kawin Minta)
2. WOSA SUBA (=Kawin Sembah)
3. SICOHO (=Kawin Tangkap)
4. KOFU’U (=Dijodohkan)
5. MASIBIRI (=Kawin Lari)
6. NGALI NGASU (=Ganti Tiang)
Tulisan ini merupakan sinopsis dari sebagian pembahasan dalam Skripsi Penulis di tahun 1994 dalam menempuh ujian Strata Satu pada Program Studi Sejarah IKIP Negeri Manado.
A. MEMINANG / KAWIN MINTA (=Lahi se Tafo atau Wosa Lahi)
Lahi se Tafo atau meminang merupakan bentuk perkawinan adat yang sangat populer dan dianggap paling ideal bagi masyarakat setempat, karena selain berlaku dengan cara terhormat yakni dengan perencanaan yang telah diatur secara matang dan didahului dengan meminang juga karena dilakukan karena dilakukan menuruti ketentuan yang berlaku umum di masyarakat dan juga dianggap paling sah menurut Hukum Adat.
Pelaksanaan rukun nikah dilakukan menurut syariat Islam dan setelah itu dilaksanakan acara ; Makan Adat, Saro-Saro, Joko Kaha (Lihat Artikel sebelumnya), dan disertai dengan acara-acara seremonial lainnya. Sebagian masyarakat Ternate memandang bahwa semakin megah dan meriah pelaksanaan seremonial sebuah perkawinan, maka status/strata sosial dalam masyarakat bisa terangkat.
B. KAWIN SEMBAH (=Wosa Suba)
Bentuk perkawinan Wosa suba ini sebenanrnya merupakan suatu bentuk penyimpangan dari tata cara perkawinan adat dan hanya dapat disahkan dengan terlebih dahulu membayar/melunasi denda yang disebut “Bobango”. Perkawinan ini terjadi karena kemungkinan untuk menempuh cara meminang/wosa lahi sangatlah sulit atau bahkan tidak bisa dilakukan karena faktor mas-kawin ataupun ongkos perkawinan yang sangat mahal dsb.
Perkawinan bentuk Wosa Suba ini terdiri atas 3 cara, yakni :
1. Toma Dudu Wosa Ino, Artinya dari luar (rumah) masuk ke dalam untuk menyerahkan diri ke dalam rumah si gadis, dengan tujuan agar dikawinkan.
2. Toma Daha Wosa Ino, Artinya dari serambi masuk menyerahkan diri ke dalam rumah si gadis agar bisa dikawinkan.
3. Toma Daha Supu Ino, Artinya dari dalam kamar gadis keluar ke ruang tamu untuk menyerahkan diri untuk dikawinkan karena si pemuda telah berada terlebih dahulu di dalam rumah tanpa sepengatahuan orang tua si gadis.
Bentuk perkawinan “Wosa Suba” ini sudah jarang dilakukan oleh muda-mudi Ternate saat ini karena mereka menganggap cara yang ditempuh dalam bentuk perkawinan ini kurang terhormat dan menurunkan martabat keluarga pihak laki-laki.
C. KAWIN TANGKAP (=Sicoho)
Bentuk perkawinan ini sebenarnya hampir sama dengan cara ke tiga dari bentuk Wosa Suba di atas hanya saja kawin tangkap bisa saja terjadi di luar rumah, misalnya di tempat gelap dan sepi, berduaan serta berbuat diluar batas norma susila.
Dalam kasus seperti ini, keluarga pihak gadis menurut adat tidak dibenarkan melakukan tindak kekerasan atau penganiyaan terhadap si pemuda walaupun dalam keadaan tertangkap basah. Maka untuk menjaga nama baik anak gadis dan keluarganya terpaksalah mereka dikawinkan juga menurut hukum adat secara islam yang berlaku pada masyarakat Ternate.
Perkawinan bentuk ini dianggap sah menurut adat apabila si pemuda atau pihak keluarga laki-laki terlebih dahulu meminta maaf atas perbuatan anaknya terhadap keluarga si gadis dan membayar denda (Bobango) kepada keluarga si gadis. Bentuk perkawinan ini masih sering ditemui di Ternate.
D. DIJODOHKAN (=Kofu’u)
Bentuk perkawinan ini terjadi apabila telah terlebih dahulu terjadi kesepakatan antara orang tua atau kerabat dekat dari masing-masing kedua belah pihak untuk mengawinkan kedua anak mereka.
Bentuk perkawinan dijodohkan ini tidak terlalu jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, hanya saja perbedaan yang paling prinsipil adalah; Kalau di Ternate, terjadi antara anak-anak yang bapaknya bersaudara dekat/jauh atau ibunya bersaudara dekat/jauh. Kebanyakan bentuk perkawinan ini tidak disetujui oleh anak muda jaman sekarang sehingga jalan yang mereka tempuh adalah bentuk “Masibiri” atau Kawin Lari. Bentuk perkawinan Kofu’u ini sudah jarang terjadi dalam masyarakat Ternate.
E. KAWIN LARI (=Masibiri)
Perkawinan bentuk ini adalah cara yang ditempuh sebagai usaha terakhir karena jalan lain tidak memungkinkan atau tidak ada. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya Kawin Lari diantaranya karena orang tua tidak menyetujui, menghindari biaya perkawinan yang sangat tinggi, pihak laki-laki tidak mampu untuk melaksanakan cara meminang atau juga karena mereka berlainan rumpun marga dalam kelompok soa yang tidak boleh kawin-mawin.
Bentuk perkawinan ini ditempuh dan dapat terjadi karena pihak keluarga si pemuda adalah berasal dari strata bawah atau terlalu miskin untuk mampu melaksanakan cara meminang. Masyarakat Ternate menganggap bahwa bentuk Kawin Lari merupakan pintu darurat yang ditempuh oleh si pemuda. Kaum muda mudi di Ternate jaman sekarang menyebutnya dengan istilah plesetan “Kawin Cowboy”.
Konsekwensi adat yang dipikul akibat perkawinan ini sudah dipikirkan matang-matang oleh pasangan kedua remaja tersebut. Walaupun perkawinan ini dilakukan secara darurat (kebanyakan dilaksanakan di rumah penghulu) namun tetap dianggap sah menurut hukum adat karena tata cara perkawinan dilaksanakan menurut rukun nikah secara Islam.
Biasanya yang bertindak sebagai wali adalah “Wali Hakim Syari’at”. Karena biasanya orang tua si gadis tidak bersedia menjadi wali nikah. Pada umumnya si gadis lari/kabur dari rumah orang tuanya dan menuju ke rumah petugas/pejabat nikah (Hakim Syari’at), ia langsung diterima oleh isteri pejabat Haki Syari’at tersebut dan diperkenankan untuk mtinggal beberapa hari. Setelah petugas memberitahukan kepada orang tuanya bahwa anak gadisnya sekarang berada di rumahnya. Biasanya orang tua si gadis menyerahakan wali dan pelaksanaan perkawinan darurat ini kepada petugas Hakim Syari’at untuk mengurusnya.
Bentuk perkawinan Masibiri ini hingga saat ini masih banyak ditempuh oleh anak muda Ternate yang mengambil jalan pintas untuk berumah tangga bila tidak direstui oleh orang tuanya.
F. GANTI TIANG (=Ngali Ngasu)
Bentuk perkawinan ini walaupun menjadi salah satu jenis dalam perkawinan adat di Ternate namun jarang sekali terjadi. Bentuk perkawinan Ngali Ngasu ini terjadi apabila salah satu dari pasangan suami isteri yang isterinya atau suaminya meninggal duni maka yang menggantikannya adalah iparnya sendiri, yaitu kakak atau adik dari si siteri atau kakak atau adik dari si suami suami.
Bentuk penggantian peran dimaksud dalam jenis perkawinan ini dilakukan dengan cara mengawini iparnya sendiri demi kelangsungan rumah tangganya agar tidak jatuh ke tangan pihak lain.
Perkawinan semacam ini bagi masyarakat adat di pulau Jawa dikenal dengan istilah “Turun Ranjang”. Namun karena perkembangan pola pemikiran dan perkembangan jaman mengakibatkan bentuk perkawinan sudah hampir tidak pernah terjadi lagi di Ternate. (@ busranto.blogspot.com)
Kesenian Istana adalah kelompok kesenian yang dicipta ataupun dibina, dikembangkan oleh dan untuk kalangan keraton kesultanan. Umumnya merupakan kelengkapan adat yang bersifat ritual maupun seremonial. Sedangkan Kesenian Rakyat yaitu kelompok kesenian yang dicipta, dibina dan dikembangkan oleh dan untuk kalangan masyarakat umum. Kesenian istana telah ada sejak jaman pra-Islam, yakni dalam bentuk seni tari dan seni suara. Di Ternate, perpaduan dari kedua bentuk seni ini terwujud dalam sebuah tarian klasik yang bersifat ritual, yaitu “Legu-Legu”.
Pentas Legu-Legu di Halaman Pendopo, Photo by Busranto
Tarian Legu-Legu hanya terdapat dan hanya dipentaskan di lingkungan Keraton Ternate saja. Tarian ini bukan merupakan tarian tunggal yang hanya dibawakan oleh 1 orang penari melainkan dilakukan oleh lebih dari 5 0rang, bahkan bisa sampai 25 orang secara serentak. Para penari yang terdiri dari gadis-gadis muda harus yang masih perwan/belum menikah. Ketentuan ini mengandung makna bahwa Legu-Legu mempunyai sifat sakral. Para penari merupakan medium yang masih suci. Kadang ada satu atau lebih penari yang melakukannya gerakan, tidak dalam keadaan sadar/kemasukan roh nenek moyang. Tarian legu-Legu ini hanya dipentaskan pada saat-saat tertentu dengan pertimbangan utamanya harus bersifat ritual dan mempunyai keterkaitan dengan adat keramat keraton.
Yang unik dari tarian klasik milik keraton kesultanan Ternate ini adalah bahwa para penari yang membawakannya hanya boleh berasal dari keturunan Soa/Marga “Soangare” atau “Soa Ngongare” saja. Soangare merupakan salah satu klan dari kelompok kekerabatan khas Ternate yang walaupun secara genalogis bukan keturunan sultan namun klan ini sangat dekat di kalangan istana karena marga Soangare sejak dahulu merupakan salah satu marga yang menjadi “Abdi Dalem” yang sangat setia di keraton kesultanan Ternate.
Tarian Legu-Legu ini biasanya disebut juga dengan sebutan “Legu Kadato”, untuk membedakan dengan Istilah Legu Gam (Perayaan tahunan Pesta Adat/Pesta Negeri). Tarian ini dibawakan sambil diiringi dengan orkes tabuh khas daerah Maluku yang terdiri atas; Dua buah Tifa kecil, sebuah Gong tembaga dan didampingi dua orang penyanyi wanita setengah baya. Biasanya lirik yang dinyanyikan berasal dari syair-syair kuno berbahasa Ternate yang dikutip dari sastra lisan Ternate, yaitu Dorobololo, Dalil Tifa dan Dalil Moro. (lihat artikel terkait sebelumnya)
Para gadis penari Legu-Legu memainkan gerakan tarian ini dengan pola melingkar (Round Dances) dengan komposisi gerakan tari yang sangat rumit. Temponya lambat dan biasanya memakan waktu lebih dari 1 jam untuk menyelesaikannya. Legu-Legu yang fungsinya sebagai tarian ritual yang sakral, maupun dalam komposisi tarian dan penarinya, mengingatkan kita pada Tari Bedoyo Ketawang dari keraton Kasunan Surakarta dan Tari Bedoyo Semang di keraton kesultanan Yogyakarta yang sudah terkenal di manca negara.
Gerakan dalam tarian Legu-Legu lebih mengutamakan gerak tangan yang memainkan selendang yang biasanya merah-kuning (merah=kanan, kuning=kiri) yang terikat di pinggang penari dan juga mengutamakan gerakan tumit. Tarian ini juga menggunakan sebuah kipas lipat yang kadang digunakan dalam gerak tari. Bila sedang tidak digunakan atau melakukan gerakan lain, maka kipas lipat tadi diselipkan di dalam ikat pinggang si penari. Tarian ini sama sekali tidak menggunakan gerakan pinggul atau gerakan kepala.
Gadis penari tarian ini menggunakan semacam ikat kepala berwarna kuning keemasan berbentuk mahkota/tiara di bagian depan dan semacam sayap kecil di bagian kiri-kanan di atas telinga serta berbentuk ekor di bagian belakang kepala. Ikat kepala ini berhiaskan manik-manik dan permata yang digantungkan. Hampir seluruh tubuh mereka ditutupi dengan busana yang berwarna kuning, ditambah semacam selendang yang diikatkan di bagian pinggang, dilengkapi ikat pinggang berwarna dengan hiasan bermotif bunga-bunga kecil.
Baju yang mereka gunakan berbentuk baju kurung yang berlengan panjang dan dipadukan dengan rok panjang sampai ke tumit kaki dengan sebuah kipas lipat yang disisipkan dalam ikat pinggang. Pada bagian pergelangan tangan diikat dengan semacam bingkai berwarna merah. Sedangkan pada bagian leher baju kurung berhiaskan sulaman manik-manik.
Tarian Legu-Legu merupakan satu-satunya tarian ritual dalam istana kesultanan Ternate. Menurut sumber dari pihak keraton kesultanan Ternate, sebenarnya ada 12 macam atau variasi dari tarian ini dengan 12 lagu untuk masing-masing jenis. Namun saat ini yang dipentaskan hanya beberapa jenis Legu-Legu saja misalnya; Akilindo, Bombaka dan Dansapele.
Pada masa kini, tarian Legu-Legu yang sakral ini hanya dipertunjukan dalam rangka upacara kebesaran adat keraton Ternate, yaitu pada saat Upacara Penobatan Sultan (yang disebut Sinonako Jou Kolano), Pengesahan/Penetapan istri Sultan sebagai “Permaisuri” (yang disebut Sinonako Jou ma-Boki), Ulang Tahun Sultan, Penyambutan tamu agung di keraton. Akhir-akhir ini sering dipertunjukan dalam kegiatan rutin 2 tahunan yaitu pada setiap perhelatan Festival Keraton se-Nusantara yang pelaksanaannya berpindah-pindah tempat di setiap keraton dari anggota Festival tersebut. (@)
Legu-Legu Dancer (1870) Photo by Buwalda
(By : Busranto Abdullatif Doa)
Pada umumnya setiap bahasa manapun di muka bumi ini terbagi atas bahasa lisan dan bahasa tulisan. Dalam kesusasteraan juga dibagi atas sastra lisan dan sastra tertulis. Di Ternate, sastra tertulis jarang dijumpai. Hal ini dikarenakan bahasa Ternate tidak mempunyai huruf (aksara) sendiri.
Kesusasteraan di Ternate sebenarnya sudah ada sejak jaman pra-Islam, dengan pengertian bahwa masih belum merupakan sastera tertulis melainkan berbentuk sastera lisan. Sastra lisan di Ternate ini biasanya dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini. Dalam perkembangannya seiring dengan perkembangan agama Islam di daerah ini, maka sastera lisan Ternate kemudian ditulis dengan menggunakan aksara Arab.
Sastera lisan Ternate dijadikan syair dalam nyanyian kesenian daerah (seni suara) yang biasanya dilantunkan oleh seorang biduan atau biduawanita untuk mengiringi tarian adat. Ada pula yang hanya dideklamasikan baik dalam bentuk monolog maupun dalam bentuk dialog.
Berdasarkan bentuk dan jenis-nya, sastera lisan Ternate terbagi atas :
· DALIL TIFA
· DALIL MORO
· DOLABOLOLO
· PANTUN
· RORASA
· BOBASO se RASAI
· TAMSIL
· CUM-CUM
· MANTRA
· JARITA
· MORO-MORO se SALUMA
· ANA KONA SIO YAARA
· LEGU
· TOGAL
· LALA / LALAYON
BENTUK DAN JENIS
Sebagaimana halnya dengan kesusasteraan Indonesia yang beragam bentuknya, kesusasteraan lisan Ternate juga kita jumpai beragam bentuk dan jenisnya. Bila ditinjau dari aspek bentuk dan jenis serta isi syairnya, maka sastera lisan Ternate dapat digolongkan menurut kurun waktu, yakni periode pra-Islam dan periode sesudah masuknya agama Islam.
Dalam sastera lisan Ternate dikenal juga bentuk puisi, prosa lirik, dan prosa yang diungkapkan secara singkat dan sederhana. Bentuk dan jenis sastera lisan Ternate terdiri dari :
1. Dalil Tifa. (Bernilai Religius)
Dalil Tifa berbentuk peribahasa yang merupakan pernyataan pendapat umum (warisan leluhur) yang bersifat petunjuk dan nasihat yang diungkapkan dalam bentuk dalil. Isi yang terkandung di dalamnya kebanyakan bernafaskan dalil yang bersifat keagamaan (nilai religius). Pengertiannya diidentikkan dengan tifa (beduk) di mesjid/langgar yang selalu ditalu setiap saat untuk mengingatkan orang mentaati perintah panggilan agama (sholat).
Dalil Tifa sangat digemari oleh orang tua. Dalam percakapan dan nasihat serta wejangan kepada yang muda-muda mereka selalu manggunakan Dalil Tifa ini, karena mempersoalkan masalah: kejadian manusia, datangnya maut, dan kehidupan di alam akhirat. Penyampaiannya kebanyakan oleh orang tua pada waktu mereka melaksanakan pertemuan. Dalil Tifa ini juga dapat didendangkan oleh biduan atau biduanita yang mahir melakukannya.
Contoh : Dalil Tifa
Firman se sabda i sinyata-nyata
Dalil se hadist i siguci ngale
Aki kama obo uwa i sinyafo ka’ahe bato
Gugu Jou nga susudo sigou-gou
Padi Jou nga laranga i ma waro gudu
Nga yakin tike untung toma gam akhirat
Terjemahannya :
Firman dan sabda sudah sangat jelas
Dalil dan hadist diterjemahkan artinya
Lidah tidak bertulang sangatlah ringan
Berpeganglah pada perintah Allah dengan sngguh-sungguh
Buanglah larangannya sejauh mungkin
Dan yakinlah keberuntungan nanti di alam akhirat
Haeran joro tuada
Sofo kama bunga uwa
Haeran joro gambi
Bunga kama sofo uwa
Terjemahan :
Duhai tanaman cempedak
Berbuah tapi tak berbunga
Duhai bunga gambir
Berbunga tapi tak berbuah
Tauhid se ma’arifat ge i mura uwa
I sinyemo aku uwa ma dehe bato
Tamsil haka sonyinga la sigiha nga nyinga
Tamsil ena nee i siade-ade
Tada ngau ni sigise ka ni gugise
Fela lako la ni mina ka ni momina
Terjemahannya :
Tauhid dan ma’arifat itu tidaklah mudah
Tidak akan diberi tahu hanya ujungnya saja
Tamsil memperingatkan supaya simpan di hati
Tamsil sebagai amsal dan ibarat
Pasang telingamu supaya kamu bisa mendengar
Buka matamu supaya kamu bisa melihat
2. Dalil Moro. (Bernilai Nasihat Kehidupan Duniawi)
Sebagaimana Dalil Tifa, Dalil Moro ialah bentuk puisi sastera lama yang dalam peribahasanya mengungkapkan perumpamaan yang berbentuk dalil sebagai contoh untuk ditiru yang merupakan warisan nenek moyang yang telah merasuk dan dihayati, hingga patut ditaati.
Isi dan pengertian syairnya Dalil Moro adalah tentang hakikat kehidupan manusia, bahwa setiap individu masyarakat dituntut dapat menempatkan dirinya dalam masyarakat serta mampu menciptakan suasana keragaman yang dapat menjalin ikatan antara sesama manusia dalam hubungan kekeluargaan sampai ke dalam kelompok yang besar, masyarakat, tapi jangan terbawa oleh situasi yang menggiring ke arah yang tak menentu, terombang-ambing oleh keadaannya.
Penyampaiannya Dalil Moro biasanya melalui percakapan, terutama kalangan orang tua, hal ini sekarang sudah jarang dilakukan. Dalam bentuk nyanyian, seorang biduan atau biduanita yang mahir mendendangkannya. Waktu dan tempat tergantung pada penyair itu sendiri.
Contoh : Transkripsi Dalil Moro
Ino fo ma kati nyinga
Doka gosora se buwalawa
Om doro yo ma mote
Fo ma gororu fo ma dudara
Terjemahan :
Man kita bertimbang rasa
Seperti pala dengan fuli
Matang di pohon dan bersama
Dilandasi kasib dan sayang
Afa doka kamo-kamo
Isa mote hoko mote
Ma dodogu ogo uwa
Tego toma ngawa-ngawa
Terjemahan :
Janganlah seperti iringan awan
Ke barat ikut ke timurpun ikut
Tak tentu tempat berhenti
Terkatung-katung di antara langit
Lobi dai lofo uci
Ma nunako sosoramo
Pasi dai jaha-jaha
Fo nunako rai marua
Terjemahan :
Kelam di timur hendak menurun
Ditandai gumpalan awan berkabut
Lautan luas penuh ikannya
Tentu kita sudah mengenalinya
Kano-kano ri ngongano
Kusu-kusu to busu marua
Jela-jela to sisela
Loloro no roro fodi
Terjemahan :
Tanaman kano-kano yang kuharapkan
Alang-alang tak kusukai lagi
Jela-jela kusisipkan
BukanSemak loloro yang tumbuh terlalu lama
Goraci aku to tike
Jou malo fo binasa
Hira goraci aku to tike
Jou malo dadi badang binasa
Terjemahan :
Emas bisa kucari
Tak ada Tuhan kita binasa
Hilang emas bisa kucari
Bila tak ada Tuhan tentu kita tak ada
Ino fi ma oki mayang
Ma oki mayang non toma titi ino
Giki uwa ngone bato
Fo maku gasa ira afa
Terjemahan :
Mari kita berpadu hati
Berpadu hati seperti mayang sejak dahulu
Jikalau orang lain tidak, tentulah kita
Janganlah kita hidup bermusuhan
Ngone doka dai loko
Ahu yo ma fara-fara
Si rubu-rubu yo ma moi-moi
Doka saya rako moi
Terjemahan :
Kita bagaikan kembang di padang rumput
Tumbuh dan hidup terpencar-pencar
Terhimpun dalam satu genggaman
Bagaikan hiasan seikat kembang
3. Dola Bololo / Dorobololo.
Dola Bololo atau Dorobololo adalah sepotong ungkapan yang terdiri dari dua bait, pernyataan perasaan dan pendapat seseorang dalam bentuk sindiran dan tamsilan, merupakan ciri kebijakan seseorang dalam masyarakat untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya melalui peribahasa kepada seseorang atau temannya agar kawannya dapat memahami dan menanggapi maksud serta tidak merasa tersinggung dengan kehalusan tutur bahasa sindiran yang kita gunakan.
Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Dola Balolo lebih berkesan, berbahasa halus dan sopan, sindiran tak langsung serta mudah dihayati, dipahami maksud dan pendapat seseorang. Dola Balolo disampaikan kebanyakan melalui percakapan antara dua orang atau lebih, di mana saja tempat dan waktu bila bertemu terutama dalam memberikan nasihat dan wejangan / ceramah.
Contoh : Transkripsi Dola Balolo
Fala to mataka-taka
Dego-dego to ruraka
Terjemahan :
Rumah yang aku tak biasa
Ku malu menduduki kursinya
Ha ufo ma taipasi
Moro-moro fo maku ise
Terjemahan :
Memancing ikan di tempat berbeda
Suara dendangan saling mendengar
Sagadi no ngolo-ngolo
Bara lou maginyau
Terjemahan :
Bercerai berai dalam usaha
Bersepakat dengan nasihat moyang
Fira mo si saya gam
Adat yo ma hisa hira
Terjemahan :
Gadis ialah kembang negeri
Adanya abang pagar pelindung
Fira mina mi gogola
Ma rorano hira i nyinga
Terjemahan :
Sakitnya si gadis itu
Kasih si abang saja obatnya
Dara to lefo mapila
Soro gudu to nonako
Terjemahan :
Burung merpati kusayat sayapnya
Terbang jauh pasti ku kenali
Gudu moju si to suba
Rijou si to nonako
Terjemahan :
Masih jauh sudah ku sembah
Bagindaku yang sudah kukenali
Loleo igo ma ake
Kore koa yo i dahe
Terjemahan :
Tergenang bagaikan air dalam kelapa
Angin apa bisa menembusinya
4. Pantun.
Sebagaimana daerah lain di Indonesia, pantun dalam sastera lisan Temate pun mempunyai tempat yang penting di kalangan masyarakat, terutama remaja. Karena pantun ml sangat digemati oleh muda-mudi dalam temu pacaran, sehingga dapat dikatakan bahwa pantun itu dikenal semua generasi. Biasanya pantun juga dilantunkan oleh biduan dengan menggunakan gambus (semacam ganun kecil) sebagai alat pengiring lagu itu.
Isi pantun memberikan kesan: pergaulan muda-mudi, nasihat pergaulan hidup, serta anjuran menuntut ilmu pengetahuan. Penyampaiannya tergantung pada penyairnya.
Contoh : Pantun
Lemo-lemo sagala lemo
Lemo marau rimoi bato
Demo demo sagala demo
Demo malaha rimoi bato
Terjemahan :
Jeruk-jeruk bermacam jeruk
Jeruk daunnya hanya satu
Kata-kata bermacam kata
Kata bermakna hanya satu
Tarate sio Tarate
Tarate ruru masaya roriha
Tarnate sio Tarnate
Tarnate ri’uwa doka sosira
Terjemahan :
Taratai wahai Taratai
Tarate hanyut kembangnya merah
Tarnate wahai Tarnate
Ternate tidak seperti dahulu
Tagi ngoko liba-liba
Bajalan jao gudu kawasa
Gudu moju si to suba
Ri Jou si t nunako
Maknanya : Sesal kemudian tak berguna
Lule-lule ka toma kaha
Sibubu besa siwohe wange
Nage ma pahala laha
Piara ena dadi ka joro
Maknanya : Sesuatu yang saat ini mungking belum Berguna, tapi suatu saat nanti akan bermanfaat jika dipelihara dengan baik.
5. Rorasa (Bobaso se Rasai).
Rorasa bentuk lisan berfungsi dalam kehidupan masyarakat, syairnya berbentuk pernyataan perasaan, nasihat serta petunjuk. Penyajiannya dilakukan pada acara/upacara seremonial tertentu, terutama dalam upacara adat. Rorasa merupakan prakata pada upacara adat. Penyajiannya harus disampaikan oleh pemuka adat atau agama.
Rorasa dilakukan pada acara/upacara seperti :
a. Pelantikan Sultan.
b. Sidego / Sinonako
c. Penerimaan Tamu Agung / Joko Kaha
d. Upacara Perkawinan.
e. Jamuan Makan Adat.
f. Upacara Penguburan Sultan.
g. Upacara adat lainya.
Teks di bawah ini adalah bentuk Rorasa dari sastra lisan Ternate dalam Upacara Pelantikan Sultan Ternate ke-48 pada tahun 1986, (Sultan Haji Mudafar Sjah - II) :
"Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, Kahlifah magori-gori. Kanange ne toma hijrahtun Nabi ma pariama calamoi seratu raha seromtoha maara Rabiul Akhir i fane nyagi moi se raha mawange Robo oras cako tofkange makutika Qamariah waktu dhuha, si mara Jou Allah Taala mahidayat sekodrati manyinga magaro si dete ngana toma darajatul aliyah manyeku-nyeku toma darajat Kolano.
No Khalifahtur rasyid no tobad dihir Rasul no gugu takbir perintah amar ma’ruf se nahi mungkari, wayah kumul a-dilina bainal Rijali wan nisaa’i, Sailillah Suba Jou Kolano no halifah magori-gori.
No tego toma singgahsana Kolano, ni jojoko no sijoko toma ti’nil Moloku, ni momina se ni gogise mangagu-ngagu intan se yakut ma lili parmata jamrut, mabubela ratna mutu manikam. Mafassyah isi woro toma alam daerah Moloku Kie Raha, Limau Duko se Gapi, Seki se Tuanane matubu, La idadi ka cahaya akal insan Kolano.
“Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, no khalifah magori-gori. La ngofa ngare ngom bala se kusu se kano-kano, kie se gam mi masi tadu se Jou Kolano ni cahaya budiman malobi-lobi.
Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, no khalifah magori-gori. Kum-kum ua moju ni sosyusi ka ni Rasul Wajir ngofa ngare Abdul Hamid, Kimalaha Marsaoli to vis Jogugu to sitede ri suba paksaan mangale se to waje-waje, ni Moloku Kie Raha, Tarnate se Todore, Bacan se Jailolo, se ni mie gudu-gudu Sulu se Mindano, se ni mie lofo-lofo Morotai se Morotia se ni sara gudu-gudu Bima se Manggarai se ni sara lofo-lofo Sula se Taliabu.
Ni ronga se ni Bobato Dunia se Bobato Akhirat, Soa sio se Sangaji, Heku se Cim se ni bangsa berbangsa, se ni ngofa-ngofa kolano se ni ngofa ngare pihak berpihak.
Ma istiadat se ma kakasura ma Adat se ma Aturan, ma Galib se ma Likudi, ma Cara se ma Biasa, ma Cing se ma Cingari, ngofa ngare ngom mi moi-moi bala kusu se kano-kano, ronga se Bobato mi tede se mi saha mi si mulia se mi dodoman, daka toma zaman mutakaddimin Jou ni Guru se ni Haji se ngofa ngare ngom mia Baba se mia Ete si tudu kanange ne zaman mutakhirin, Jou se ngofa ngare ngom i tola ua moju toma si futu se wange i tudu hari kiyamat.
Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, no khalifah magori-gori. Kum-kum ua moju ni sosyusy ngofa ngare Kimalaha Marsaoli to vis Jogugu to tede ri suba paksaan".
Terjemahan :
"Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, kau khalifah yang utama. Pada hari ini tahun Hijrah Nabi seribu empat ratus lima bulan Rabiul akhir empat belas malam hari Rabu tepat jam delapan pagi waktu dhuha, maka Allah taala dengan hidayat dan kodrat-Nya serta kehendak-Nya mengangkat engkau pada derajat Aliyah di puncaknya pada Kolano.
Engkau Khalifahturrasyid dan Tubaddilur Rasul kau pegang takbir perintah amar ma’aruf dan nahi mungkar, wayahkunul adilina bainal Rijali wan nisaa’i. Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, khalifah yang utama. Engkau bertahta di singgahsana yang agung, kau berpijak di atas tanah Moloku, penglihatan dan pendengaranmu bertaburan intan dan yakut berlilit permata jamrud, berkilauan bagaikan ratna mutu manikam. Fassyahnya terbentang di alam daerah Maloko Kie Raha, Limau Duko dan Gapi, Seki dan Tuanane di puncaknya supaya menjadikan cahaya akal insan Kolano.
Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, kau khalifah yang utama, supaya kami bala dan rakyat, kerajaan dan negeri kami bernaung di bawah sombar cahaya budimanmu.
Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, kau khalifah yang utama. Sebelumnya kami sebagai pejabat tinggi kerajaan ini saya Abdul Hamid, Kimalaha Marsaoli, pemegang kekuasaan Perdana Menteri dengan perkasa mengangkat sembah untuk memberitahukan kepadamu tentang Maloko Kie Raha, Temate dan Tidore, Bacan dan Jailolo beserta wilayah kekuasaanmu di utara terjauh: Sulu dan Mindanao, utara terdekat: Morotai dan Morotia, di selatan terjauh: Bima dan Manggarai, dan selatan terdekat: Sula dan Taliabu.
Pejabat tinggi serta anggota Dewan yang terhormat dunia dan akhirat, Soa Sio dan Sangaji, Heku dan Cim dan juga para bangsa berbangsa, para pangeranmu dan semua pejabat yang berada di bawahmu serta semua hak dan kekuasaanmu, adat dan aturan, galib dan lukudi, semua tata cara serta kebiasaan, Cing dan Cingare, kami semua bala dan rakyat, pejabat dan anggota Dewan, mengangkat dan memuliakan menurut ketentuan terdahulu zaman Mutakaddimin Tuan punya bapak dan kakek, dan kami punya bapak dan kakek sampai ada hari ini zaman Mutakhirin Tuan dan kami tak akan terputus ikatan sampal pada han kiyamat.
Sailillah sembah Yang Dipertuan Agung, kau khalifah yang utama. Sebelumnya pejabat tinggimu, saya Kimalaha Marsaoli pemegang kekuasaan Perdana Menteri dengan terpaksa mengangkat sembah".
6. Tamsil.
Sebagaimana dalam kesusasteraan Indonesia, tamsil dalam sastera lisan Ternate berisi nasihat dan petunjuk mengandung unsur keagamaan, sebagai peringatan kepada pemeluknya agar benar-benar mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya selama masih hidup.
Tamsil dilakukan oleh pemuka agama pada acara berkabung dan kematian di rumah tempat acara berkabung itu dilakukan. Tujuannya supaya pendengar yang hadir dalam acara berkabung turut mengenang bahwa mereka pun akan melalui jalan sebagaimana si mati yang telah mendahului mereka itu. Kematian itu datang menjenguk seseorang tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Maka dari itu, selagi masih ada kesempatan (hidup), kita perlu menelusuri dan menuntut tuntutan yang diwajibkan oleh agama.
7. Cum-Cum.
Cum-cum secara harafiah berarti tebak menebak / teka-teki. Cum-cum biasanya dilaksanakan di tempat berlangsungnya acara berkabung pada hari kematian seseorang. Pelakunya muda-mudi, yang terbagi dalam dua kelompok, masing-masing beranggota lima, sepuluh orang atau lebih.
Apabila salah satu kelompok kalah karena tak sanggup menebak tebakan yang diajukan oleh kelompok tandingnya, hukuman bagi kelompok yang tak sanggup menebak itu ialah melaksanakan sesuatu pekerjaan untuk keperluan yang dibutuhkan rumah tempat pelaksanaan acara berkabung pada hari kematian, seperti kebutuhan akan kayu api, maka mereka (kelompok yang kalah) mencari dan mendatangkan kayu api di rumah tersebut.
Kata-kata dalam Cum-cum berbentuk syair. Pelaksanaan permainan didahului dengan perkataan pembukaan mengemukakan ketentuan yang patut ditaati dan dilaksanakan oleh yang kalah.
Contoh : Cum-Cum
Cum madikecum, cum madahe-dahe
Mara cum tero uwa riki non ni kangela
Sidobo-dobo afa sidolo dim i die
Maha nita si fo hida maha yali mai laha
Manyira jang majojo fang tego kokonora
Kapagu yo ngone ngamdi nga ronga lomajaro masinoto
Bela-bela wari, wari fangare bolo nage adi
Terjemahannya :
Tebak usaha tebak, tebak yang tepat
Apabila tebak salah mencari bebanmu sendiri
Diketuk-ketuk jangan ketuk mereka punya
Nanti besok kita lihat, nantipun baik juga
Yang kakak cantik yang adik, cantik terletak di tengah
Di panggung hijau kita berhadapan nama terpancang dua pemisah kilat menyambar, menyambar saya atau siapa lagi
Manuru togugu-gugu i hira sen momina
I doro seni bobaso doka dehe pasa marua
Katu totori tutara, dalul se hate gila fala gam mamunara
Dai ngolo hoko ge bao lele jame-jame
Ge fame tike toma koga?
Terjemahannya :
Melati kepegang hilang dan penglihatan
Ia jatuh dalam perasaanku seperti tanjung ditinggalkan sudah
Atap setangkai, tutara. kayu panjang alamya rumah negeri.i laut lautan kita merasakan putaran arus, rasanya kita cari di mana?
8. Mantera.
Mantra sebagai bagian dan pelengkap budaya daerah mempunyai fungsi dan peran penting dalarn masyarakat masa lampau. Dapat dijumpai di mana-mana mantra itu di seluruh Tanah Air. Penggunaan dan tujuannya sama.
Dalam budaya masyarakat Ternate masa lampau, mantra berfungsi untuk: pengobatan, kekebalan dengan tujuan membela din dan perkelahian ataupun peperangan, agar dikasihi orang, memohon pertolongan dan ruh gaib, mengucap syukur pada ruh gaib, atau menolak bencana.
Dengan kata lain, mantra itu sebagai sastera lisan sangat berfungsi dalam kehidupan masyarakat masa lalu, sedangkan pada masyarakat pedesaan sekarang, mantra itu masih berfungsi pengobatan.
Contoh : Mantera
Bismillah hi rrahm an nirahim
To oro ri salawaku
To oro ri sagu-sagu
Doka ge lulu polote
Makaha mai I robo
Matufa mai lenge
Mamancia ma! soro
Bismillah hirrahman nirrahim
Goyang-goyang I si goyang
Goyang mina mi nyinga ge
Dokajou Nabi Daud
Insya Allah berkat guru berkat Lailaha Allah
Bismillah hirrahman nirrahim
Saya dan saya in
Soya magunaga soya
Garaki sefangare ri saya
Doka jou Nabi Yusuf
Insya Allah berkat guru Berkat la ilaha illallah
Assalainu alaikum
Kama nia kama nau
Wele una kama nau
Ya ma setan, ya ma iblis
Ya manusiaya
Nohida ngori
No giha se nigate se miri masoa seninyinga
Bismillah barakat guru barakat haji
Jin toma ngawa-ngawa Uci (salaijin)
Jin toma ngawa-ngawa Uci la salai fin
Terjemahan :
Bismillah hirrahman nirrahim
Ku ambil perisaiku
Ku ambil tombakku Seperti guruh meletus
Tanah pun retak
Langit pun miring
Musuh pun Ian
Bismillab hirrahnian nirrahim
Goyang, goyang Ia goyangkan
Goyang hatinya itu Seperti Nabi Daud
lnsya Allah berkat guru berkat Lailaha illaIIah
Bismillah hirrahman nirrahirn
Kembang dan kembang in
Kembang wajah kembang
erkejut pada kembang ku
eperti tuan Nabi Yusuf
nsya Allah berkat guru
Berkat La ilaha illaIlah
Assalamu alaikum Pada wanita pada pria
Gantung dia pada tarikan
Ya saitannya, ya iblisnya
Ya mariusia ya Kamu lihat aku
Kau letakkan di antara hati dan perasaanmu dan kasih
Bismillah berkat guru berkat haji,
Jin di kayangan Turun supaya menari-nari Jin di kayangan
Turun supaya menari-nari
9. Jarita.
Jarita adalah bentuk sastera lisan paling tua di Ternate. Jarita dalam sastera Melayu dikenal dengan “Ceritera” atau dongeng. Bentuk sastera lisan ini hampir ada pada semua komunitas manusia dimanapun di muka bumi ini.
Mayoritas penduduk Ternate menganut Islam Sunni. Namun tak bisa dipungkiri, terdapat pula sejumlah praktik keagamaan yang berakar dari tradisi Syi'ah. Dalam hal ini, Syi'ah memiliki arti kelompok, partai, atau pengikut. Kata ini merujuk pada pengikut Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pertama Ahl al-Bait. Kecuali masalah imamah, antara kaum Syi'ah dan Ahl Sunnah Wal Jama'ah hampir tak terdapat perbedaan.
Tak diketahui siapa yang membawa dan kapan praktik-praktik Syi'ah ini masuk ke sana, seperti ta'ziah dan perayaan 'asyura. Artikel ini mencoba menelusuri jejaknya berdasarkan catatan sejarah dan pengalaman penulis sebagai orang asli Ternate. Kajian ini tentu saja belum memadai, tapi mudah-mudahan berguna sebagai langkah awal menuju penelitian lanjutan yang lebih komprehensif.
Umumnya disepakati bahwa proses Islamisasi di Nusantara berlangsung seiring dengan kegiatan dagang antara berbagai komunitas yang mendiami pulau-pulau di Indonesia dengan orang Arab, Persia, Gujarat, dan Cina. Ini telah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Prof L.W.C. van den Berg menyatakan, kepulauan Indonesia telah didatangi orang Arab dari Teluk Persia dan Laut Merah sebelum zaman Islam. Tapi Nusantara baru mencapai puncak keramaian pada zaman Kerajaan Bani Abbas (sekitar 800-1300 M).
Jalur perdagangan yang ditempuh waktu itu adalah Teluk Persia, Cina , dan Indonesia. G.R. Tibbets mengatakan, pada abad VIII dan IX terdapat laporan pedagang Arab Muslim yang menunjukkan adanya rute pelayaran yang pasti melalui pelabuhan laut Asia Tenggara, terus bersambung hingga ke negeri Cina. Seorang ahli sejarah Muslim mencatat bahwa hubungan timbal balik antara orang Cina dan Arab paling awal terjadi pada abad ke-5.
Prof. Wan Hussein Azmi, guru besar Universitas Kebangsaan Malaysia, mengatakan sekitar abad VII, saudagar Arab hilir mudik berniaga di Jazirah Nusantara. Ia menegaskan Islam telah masuk ke Nusantara sejak abad ke-1 Hijrah, langsung dari tanah Arab. Barang-barang Indonesia seperti emas, lada, kapas, madu, rotan, serta kayu cendana, dibeli para pedagang Muslim untuk dijual di pasar Timur Tengah, Laut Tengah, dan Cina. Memang pada abad ke-15, jaringan perdagangan Asia, dengan Malaka sebagai pusat, merupakan kawasan perdagangan yang canggih dan luas.
Tapi Malaka tak cuma berperan sebagai sentra perdagangan Asia. Ia juga dianggap sebagai pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara. Dari sini kemudian Islam menyebar ke daerah utara, pantai timur hingga selatan Pulau Sumatera, terus ke pesisir utara Pulau Jawa dan Kalimantan. Maluku atau spice islands, dengan Ternate sebagai sentrum, baru menjadi bagian dalam jaringan perdagangan Malaka pada abad ke-15. Cengkeh dan pala merupakan komoditas yang diincar para pedagang Jawa, Melayu, Arab, Cina, dan Persia untuk dijual di pasar Malaka, Jawa, atau dilego langsung ke pasar Timur Tengah dan Laut Tengah.
Fenomena ini kemudian menimbulkan spekulasi para sejarawan bahwa Islam mulai masuk ke Ternate pada abad ke-15, saat kejayaan Malaka mencapai puncaknya. Antonio Galvao (1536-1539), kapten benteng Portugis di Ternate, mencatat bahwa Ternate memeluk Islam yang disebarkan dari Malaka pada 1460, mengingat terdapat jalur perdagangan melalui utara, yaitu jalur Ternate-Sulawesi Utara-Sulu-Brunei-Malaka. Di sini Galvao memperoleh keterangan langsung dari masyarakat Ternate sendiri.
Rijali, pencatat peristiwa pada awal zaman Maluku yang hidup di Ambon pada awal abad ke-17, menyusun sebuah dokumen dalam bahasa Arab berdasarkan kisah-kisah tradisional. Pada mulanya (sekitar abad ke-13), demikian Rijali, Ternate dihuni orang-orang dari Jailolo (Halmahera Utara). Selama 250 tahun berikutnya, masih menurut Rijali, suku Molematiti di Ternate, dan dinasti dari 20 penguasa berikutnya, memimpin transformasi bertahap penduduk Ternate dari manusia kafir tak beradab menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.
Kemajuan besar pertama terjadi pada masa kekuasaaan Raja Gapi Baguna (1432-1465), yang mengundang saudagar Cina, Arab, dan Jawa untuk menetap di Ternate dan memanfaatkan pengetahuan serta keterampilan mereka yang unggul. Ia lalu terpesona oleh seorang saudagar Muslim dari Jawa, Maulana Husein, yang kemudian membimbingnya bersama pejabat Istana lain, masuk Islam.
Menurut Cesar Adib Majul, Islam masuk ke Ternate pada tahun 1478, yakni berbarengan dengan jatuhnya kerajaan Majapahit. Selanjutnya ia mengatakan bahwa Islam dibawa para muballigh dari Jawa. Dari keterangan di atas terlihat ada perbedaan pendapat mengenai asal usul masuknya Islam ke Ternate. Galvao mengatakan, Islam yang masuk ke sana berasal dari Malaka. Sementara Rijali dan Cesar berpendapat dari Jawa. Namun periode masuknya kurang lebih sama, yaitu paro pertama abad VX.
Namun, Naidah dalam sejarah Ternate-nya menyatakan, kawasan ini telah masuk Islam sejak abad ke-13. Pembawanya adalah Ja'far Shodiq yang tiba di Ternate dari Jawa pada Senin, 6 Muharram 643 H/1250M. Ja'far Shadiq yang nasabnya dihubungkan dengan Imam Ali b. Abi Thalib, kawin dengan putri setempat bernama Nur Sifa. Sebelumnya, Ja'far Shadiq pernah kawin di Jawa dan memperoleh 10 anak. Dari perkawinan dengan Nur Sifa, ia memperoleh empat putra dan empat putri. Salah satu putranya, Mansur Malamo, di tetapkan sebagai raja pertama Ternate, setelah berhasil mempersatukan empat kelompok masyarakat Ternate yang suka berperang itu. Raja pertama ini memerintah sejak 1257-1277. Tiga putra lainnya berkuasa di pulau Tidore, Bacan, dan Jailolo.
Laporan Naidah ini terbilang menarik lantaran ia mempresentasikan Ja'far Shadiq, Muharram, dan 'Ali b. Ali Thalib, yang kesemuanya merupakan bagian dari wacana Syi'ah. Namun ini pun harus di pandang secara kritis berdasarkan kenyataan berikut. Pertama, laporannya tidak bersumber dari bahan tertulis atau didukung hipotesis yang logis. Kedua, ia bekerja sebagai pejabat istana Ternate yang, dengan sendirinya, menjaga kepentingan kerajaan.
Sebagaimana diketahui, persaingan memperebutkan hegemoni di antara empat kerajaan Maluku itu melibatkan pula agama dan Ahl al Bait. Kedua unsur ini agaknya menjadi faktor legitimasi bagi kepemimpinan politik di Maluku, bahkan juga di kerajaan-kerajaan Islam lain di nusantara seperti Aceh, Jawa, dan Kalimantan. Dalam hal ini, klaim sebagai pihak yang lebih dulu masuk Islam serta faktor Ahl al Bait menjadi sumber legitimasi tersebut. Toh, Tidore, Bacan, dan Jailolo juga mengklaim sebagai pihak yang paling duluan masuk Islam serta menghadirkan tokoh keturunan Nabi Muhammad.
Dalam laporan lain, berdasarkan tradisi lisan setempat, pada abad VIII empat orang Syeikh dari Irak tiba di Maluku Utara. Mereka merupakan pemeluk Islam Syi'ah. Kedatangan mereka dikaitkan dengan pergolakan politik di Irak, di mana golongan Syi'ah dikejar-kejar penguasa Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah.
Mereka terdiri dari Syaikh Mansur yang kemudian menyiarkan Islam di Ternate dan Halmahera muka, Syaikh Yakub yang mengislamkan Tidore dan Makian, serta Amin dan Yakub yang berdakwah di Halmahera Tengah. Akan tetapi, isi laporan ini pun harus pula dicermati secara kritis, terutama lantaran sulit dibuktikan. Di puncak gunung Gamalama dan Gunung Kie Besi (Pulau Makian), memang terdapat kuburan-kuburan keramat yang dikatakan sebagai makam Mansur dan Yakub. Namun, bagaimana bisa dipastikan bahwa makam-makam tersebut milik kedua tokoh tersebut? Amin dan Umar, yang tak meninggalkan jejak apapun, disebut-sebut kembali ke Irak.
Adanya laporan berbeda ini memaksa kita untuk mendefinisikan pengertian masuknya Islam ke suatu daerah. Paling tidak, terdapat tiga pengertian sekaitan dengan masalah ini. Pertama, suatu daerah dikatakan telah masuk Islam bila di dalamnya terdapat satu atau lebih orang asing beragama Islam. Kedua, bila di daerah tersebut sudah terdapat satu atau lebih penduduk asli menganut Islam. Ketiga, bila Islam telah melembaga di daerah tersebut.
Berdasarkan definisi ini, kita dapat merekonstruksi proses Islamisasi di Ternate ke dalam tiga periode. Periode awal berlangsung sejak pertengahan abad VIII, di mana orang Arab dan Persia Muslim Syi'ah membeli cengkeh dan pala di Maluku untuk dijual ke Eropa melalui pelabuhan Baghdad. Orang Muslim Perlak yang menganut Syi'ah pun sudah berperan dalam periode ini. Sebagai masyarakat sebuah kerajaan yang sedang berkembang, tentunya cengkeh dan pala menjadi komoditas yang dicari di pelabuhan Perlak, yang hingga abad ke-9 merupakan kerajaan Syi'ah. Masuknya mereka ke Maluku, setidaknya memberi pengaruh kepada penduduk setempat.
Periode kedua dimulai sejak abad ke-12, di mana penyiaran Islam telah disampaikan ke kalangan penduduk. Yang ikut berperan dalam periode ini adalah orang Muslim Cina, selain Arab dan Persia. Ini ditandai dengan mulai digunakannya nama-nama Arab-Islam oleh para raja di Maluku Utara. Periode ketiga yang dimulai pada abad ke-15 berlangsung sejak penerimaan Islam oleh pihak elite kesultanan.
Zaenal Abidin adalah Sultan ke-19 yang menukar agama jahiliyah dengan Islam. Yang paling banyak memainkan peran penting dalam periode ini adalah para muballigh Jawa yang menganut faham Aswaja. Kedatangan orang Muslim Arab dan Persia berfaham Ahl al Bait ini berkaitan dengan terjadinya pergolakan sosial-politik di wilayah daulah Umayah dan kemudian daulah Abbasiyah.
Ini bukan sesuatu yang mustahil, sebab sejak awal Syi.ah telah masuk ke Nusantara. Sebuah monumen ditemukan di Champa, Vietnam, yang terdiri dari batu nisan yang dibuat tahun 1039 serta sebuah tiang batu dengan aksara Arab bertarikh 1025-1035. M.P. Ravaisse yang menyelidiki tulisan tersebut mengatakan bahwa tampaknya isi dokumen ini menunjukkan bahwa di tempatnya ditemukan, sejak abad XI terdapat sebuah masyarakat kota. Mereka lain dari penduduk asli.
Paham keagamaan dan adat istiadatnya juga berbeda. Kakek moyang mereka mestinya tiba satu abad sebelumnya. Menurut Dr. S.Q.Fatimi, mereka adalah orang Arab Syi'ah. Ini lebih jelas dikemukakan Wan Hussein Azmi. Menurutnya, semenjak kerajaan Islam berdiri di Taj Jihan pada pertengahan abad ke VII, Islam makin berkembang di Sumatera Utara setelah saudagar Muslim Arab datang ke Nusantara.
Di samping itu, dengan dibukanya negeri Persia oleh kaum Muslimin pada 650H, orang-orang Persia dengan penuh suka cita berduyun-duyun masuk Islam dan banyak darinya yang hijrah ke Nusantara. Di antara keluarga Persia yang berimigrasi ke Nusantara terdapat keluarga Javani, Lor, Sabankarah, dan Asyraf.
Di samping itu terdapat satu faktor utama yang menyebabkan saudagar Muslim Arab dan Persia bercokol di Sumatera Utara pada abad ke-7, yaitu terhalangnya jalur pelayaran yang mereka tempuh melalui Selat Malaka akibat disekat armada Budha Sriwijaya sebagai balasan serangan tentara Islam ke kerajaan Hindu di Sind, India, pada zaman pemerintahan Khalifah al-Hadi (775-785 M). Maka, terpaksa kapal-kapal Arab dan Persia menempuh pelayaran melalui Sumatera Utara terus ke pesisir barat Sumatera, kemudian masuk Selat Sunda melalui Singapura menuju Kanton, Cina.
Perlak sebagai sebuah pelabuhan dagang yang maju dan aman di abad VIII menjadi tempat persinggahan kapal dagang Muslim Arab dan Persia. Dengan demikian, masyarakat Muslim di daerah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-wanita setempat, sehingga melahirkan keturunan Muslimin dari percampuran darah Arab dan Persia dengan putri-putri Perlak. Dan ini membawa pada berdirinya kerajaan Islam Perlak pertama, yakni pada hari selasa bulan Muharram, 840 M.
Sultan pertama kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis Syah, bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi'ah. Mereka menguasai Perlak hingga muncul pergolakan antara golongan Syi'ah dan Ahl Sunnah Wal Jama'ah (Aswaja) pada tahun 928 M.
Wan Hussein Azmi mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi'ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin Abdullah bin Mu'awiyah yang masih keturunan Ja'far b. Abi Thalib. Bin Mu'awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir b. Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh.
Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak. Bisa jadi, ada di antara mereka yang kemudian meneruskan perjalanan ke Ternate. Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w'l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap menindas partai Syi'ah.
Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun b. Harun al-Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali b. Abi Thalib, bernama Muhammad b. Ja'far Shadiq b. Muhammad Baqr b. Zaenal Abidin b. Husein b. Ali b. Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.
Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad b. Ja'far Shadiq dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan. Malah Makmun menganjurkan pengikut Syi'ah itu meninggalkan negeri Arab untuk meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran itu pun lantas dipenuhi.
Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi'ah Arab, Persia, dan Hindi ---termasuk Muhammab b. Ja'far Shadiq--- segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak pada waktu Syahir Nuwi menjadi meurah (raja) Negeri Perlak.
Baca selengkapnya......
If a Ianguage consist of oral language and written language, hence Iiterature also consist of two shares that is oral art and art written. In Ternate, we seldom to meet the art written. This matter because of Ianguage of Ternate don't have letter.
Literature in Ternate in fact there are since pre Islam era, with understanding that still not yet is a art written but which in form of oral literature. Oral art in Ternate is usually preserveed and isn't it hereditaryly from generation to generation till in this time. In the growth of along with growth of Islam in this area, hence oral art of Ternate was later written by using Arab letter.
Oral art of Ternate become idyl in hymn artistry of area (artistic of voice) usually is by a singer to accompany custom dance. There is also which only declaimed in the form of monologue and in the form of dialogued.
Pursuant to his type and form, oral art of Ternate compose of :
1. Theorem of Tifa (Dalil Tifa)
2. Theorem of Moro (Dalil Moro)
3. Dorobololo / Dola Bololo
4. Poetry (Pantun)
5. Rorasa (Bobaso Se Rasai)
6. Analogy (Tamsil)
7. Cum-Cum (Quiz)
8. Mantera (Supertitous Formula) , and
9. Jarita. (Folklore)
Pursuant to presentation (passing art voice and dance), hence oral art of Ternate compose of :
" Se Saluma Moro-Moro
" Anakona Sio Yaara
" Legu
" Togal, and
" Lala / lalayon.
FORM AND TYPE.
As also to oral Iiterature of Indonesia which kinds of form, oral Iiterature of Ternate is also met by kinds of form and his type. When evaluated from aspect form and type and also bardic content, hence oral art of Ternate can be classified according to range of time, that is period before Islam and period after entering Islam.
In oral art of Ternate, there are also form poem, lyric prose, and laid open prose in a word and modestly. Form and oral art type of Ternate compose from :
1. Dalil Tifa. (Theorem of Tifa - Religion Valuable)
Theorem of Tifa in form of proverb is statement of public opinion (ancestor heritage) having the character of laid open advice and guide in the form of theorem. Content which consist in most have theorem breaths to having the character of religious (religion value). Intention of equalized like tifa in beated mosque at the time of selected to remind people to do sholat.
Theorem of Tifa very popular by old fellow clan to give advice to youngs of them always use Theorem of Tifa, to examplize event of occurence of human being, death of human being and life in the beyond nature. Submitted by old fellow to the rising generation when them are meeting. Theorem of Tifa also can be intoned by singer which have skilled sing.
2. Dalil Moro. (Theorem of Moro - Valuable of Advice Life in Earthly)
As Theorem of Tifa, Theorem of Moro is old art poem form which the was proverb of laying open imagery which in form of theorem for example to be imitated and this is ancestors advice was so that adhered by generation after them.
Content and understanding of Theorem idyl of Moro is concerning human life reality that every society individual have to earn to place ownself in society and also can create happy atmosphere of mankind humanity in relationship until into big clan, society, but don't affect by situation.
Forwarding of Theorem of Moro usually with activity of conversation, especially old fellow circle, this matter now have seldom. In the form of hymn, a skilled singer warble. Time and place depend on poet of itself.
3. Dorobololo / Dola Bololo.
Dola Bololo or Dorobololo is expression rasher which consist of two couplet. Dorobololo is statement of feeling and opinion of someone in the form of analogy and insinuation. Someone submit opinion and feeling with proverb to friend or someone so that can comprehend intention and also do aggrieved with softness say insinuation Ianguage which we use.
Communicating to use proverb of Dorobololo will polite and softer. Dorobololo is teared insinuation and also is easy to comprehended by intention and opinion of someone. Dorobololo submitted with conversation between two people or more, in a moment according to time and place when meeting especially in giving advice.
4. Poetry. (Pantun)
As other area in Indonesia, poetry in oral art of Ternate even also have important place among society, also among adolescent clan. Because poetry very take a fancy by adolescent. Poetry very take a fancy by all generations. Usually poetry is also warbled by singer by using gambus (a kind of small ganun) that is as a means of attendant of song.
Poetry content give impression concerning interaction of adolescent clan, advice interaction of life, and also fomentation look for science. Forwarding of poetry depend on singer.
5. Rorasa. (Bobaso se Rasai).
Rorasa in form of oral function in life of society, bardic in form of statement of feeling, advice and also guide. Rorasa done by people of Ternate at selected ceremony, especially in custom ceremony. Rorasa is preface at custom ceremony. Rorasa have to be submitted by prominent religion or custom.
Rorasa conducted at event / ceremony like :
a. Appointment of Sultan / King of Ternate
b. Sidego / Sinonako (Introducting Queen of Ternate, New King, King consanquinity or prominent guest)
c. Acceptance of Prominent Guest / Joko Kaha
d. Ceremony Marriage
e. Repast Custom of Ternate
f. Bunal Ceremony Sultan / King of Ternate , and
g. Custom ceremony of Ternate other.
Text hereunder is a example form of Rorasa, that is Rorasa appointment of the King of Ternate which to 48th at 1986, (Sultan Haji Mudafar Sjah - II) :
“Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, Kahlifah magori-gori. Kanange ne toma hijrahtun Nabi ma pariama calamoi se ratu raha seromtoha maara Rabiul Akhir i fane nyagi moi se raha mawange Robo oras cako tofkange makutika Qamariah waktu dhuha, si mara Jou Allah Taala mahidayat sekodrati manyinga magaro si dete ngana toma darajatul aliyah manyeku-nyeku toma darajat Kolano.
No Khalifahtur rasyid no tobad dihir Rasul no gugu takbir perintah amar ma’ruf se nahi mungkari, wayah kumul a-dilina bainal Rijali wan nisaa’i, Sailillah Suba Jou Kolano no halifah magori-gori.
No tego toma singgahsana Kolano, ni jojoko no sijoko toma ti’nil Moloku, ni momina se ni gogise mangagu-ngagu intan se yakut ma lili parmata jamrut, mabubela ratna mutu manikam. Mafassyah isi woro toma alam daerah Moloku Kie Raha, Limau Duko se Gapi, Seki se Tuanane matubu, La idadi ka cahaya akal insan Kolano.
Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, no khalifah magori-gori. La ngofa ngare ngom bala se kusu se kano-kano, kie se gam mi masi tadu se Jou Kolano ni cahaya budiman malobi-lobi.
Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, no khalifah magori-gori. Kum-kum ua moju ni sosyusi ka ni Rasul Wajir ngofa ngare Abdul Hamid, Kimalaha Marsaoli to vis Jogugu to sitede ri suba paksaan mangale se to waje-waje, ni Moloku Kie Raha, Tarnate se Todore, Bacan se Jailolo, se ni mie gudu-gudu Sulu se Mindano, se ni mie lofo-lofo Morotai se Morotia se ni sara gudu-gudu Bima se Manggarai se ni sara lofo-lofo Sula se Taliabu.
Ni ronga se ni Bobato Dunia se Bobato Akhirat, Soa sio se Sangaji, Heku se Cim se ni bangsa berbangsa, se ni ngofa-ngofa kolano se ni ngofa ngare pihak berpihak.
Ma istiadat se ma kakasura ma Adat se ma Aturan, ma Galib se ma Likudi, ma Cara se ma Biasa, ma Cing se ma Cingari, ngofa ngare ngom mi moi-moi bala kusu se kano-kano, ronga se Bobato mi tede se mi saha mi si mulia se mi dodoman, daka toma zaman mutakaddimin Jou ni Guru se ni Haji se ngofa ngare ngom mia Baba se mia Ete si tudu kanange ne zaman mutakhirin, Jou se ngofa ngare ngom i tola ua moju toma si futu se wange i tudu hari kiyamat.
Sailillah Suba Jou Kolano Lamo-Lamo, no khalifah magori-gori. Kum-kum ua moju ni sosyusy ngofa ngare Kimalaha Marsaoli to vis Jogugu to tede ri suba paksaan".
6. Tamsil. (Analogy)
As in Iiterature of Indonesia, analogy in oral art of Ternate is guide and advice concerning religious element, in commemoration for the follower of religion of islam to be really study theology of islam and practice during above the ground in the world.
Oral art of analogy in Ternate conducted by prominent religion at event mourn death han at home place mourn that done. Target of him so that hearer which attend in event mourn partook recalled that them even also will pass street as the death which have preceded them. That death come visiting someone without there is notification beforehand. Hence from that, whilst there is still opportunity (life), we need to trace and claim demand obliged by religion.
7. Cum-Cum. (Quiz)
Cum-Cum literally mean to guess to guess / conundrum. Cum-Cum is usually done in place ceremony mourn on death of someone. Perpetrator of young man and young woman, what compose in two group, each have member to five, ten people or more.
If one of the group fail because do not ready to guess riddle raised by group contest. Penalization for group which fail is execute something work for which required by place house execution of event mourn on death, like requirement of wood to fire for cooking, hence them (group which fail) searching and delivering the the wood to fire for cooking at home.
Words in Cum-Cum in form of idyl. Strarting game have to precede with word of opening tell rule which is proper to be adhered and executed by participant fail.
8. Supertitous Formula. (Mantera)
Supertitous formula as cultural complement and shares of area have important role and function of old world society dalarn. Can meet everywhere that supertitous formula in all Indonesia, even in all the world. Usage and target is same.
In society culture of Ternate away back, functioning supertitous formula for the: medication, impenetrability with a purpose to fight and self-defence and or war, loved by people, resorting to and occult soul, saying thanks at occult soul, or refuse disaster.
Equally, that supertitous formula as very functioning oral art in life of past society, while at rural society now, that supertitous formula still function medication.
9. Folklore. (Jarita)
Old Ternate Palace & Old Mosque In Ternate
View of Ternate Town
Salam Maku Dero Jou Ngon Moi-Moi : " SUBA NI HADO "
Waktu di Ternate
Cari Arsip Tulisan
Buku Tamu
Translated into the languages below
Polling Blog
Makanan Adat
Tarian Soya=Soya
Waktu di Jakarta
Penulis (Author) :
Add My Facebook
Sedang Online
Pengikut Blog Ini :
Top 10 Visited
Blogger Ternate
- Salidja Hamisi di Belanda
- Ceritera ALFAREZA dari Tidore
- Komunitas TERNATE HERITAGE
- Blog Kreasi BANGPAY Ternate-Manado
- Blognya Mas ADIS
- Cerita DARIUS dari Jailolo
- Blog Kreatif Anak Muda Ternate
- Laporan dari Bung UCILI
- Blog Mahasiswa HIPMU Bandung
- Info DARIUS dari pulau Halmahera
- Club HONDA TIGER Ternate
- Liputan RUSLAN SANGADJIdari Palu
- Liputan AKSAL AHMAD di Ternate
- VIRNA MEDINA yang Rindu Ternate
- Ceritera BUTILA dari Halmahera Barat
- Blog FADLI AMRAN dari Yogya
- ZAINAL ARIFIN Club Scooter Ternate
- Curhat YUSEA KAMARULLAH di Tangerang
- Jelajah ke Jazirah MALUKU
- Info VESTO dari Halmahera Utara
- Ceritra INO dari Gamalama
- Ceritera ARIO dari Yogyakarta
- Ceritera tentang ANAK BAND
- Info dari TATY AMMAN di Swedia
- Info dari MARDIANI SIDAYAT di Belanda




